x

3 Anomali yang Dilakukan Persija Jakarta Pasca Menjuarai Liga 1 2018

Sabtu, 19 Januari 2019 16:03 WIB
Penulis: Petrus Tomy Wijanarko | Editor: Cosmas Bayu Agung Sadhewo
Persija Jakarta

INDOSPORT. COM - Klub sepak bola Indonesia, Persija Jakarta musim lalu memang meraih prestasi manis dengan mampu merengkuh trofi juara Liga 1 2018. Namun selepas pesta juara itu, Persija justru melakukan beberapa anomali.

Ya, gelar juara Liga 1 2018 menjadi prestasi yang mampu diraih Persija musim lalu. Seluruh Jakmania dan setiap orang yang ada di kubu Persija menyambut meriah atas keberhasilan merengkuh trofi juara ini.

Bagaimana tidak, trofi juara Liga 1 2018 seakan menjadi pelepas dahaga Persija yang sudah 17 tahun puasa gelar. Sebelum Liga 1 2018, Macan Kemayoran terakhir kali mampu meraih titel juara pada 2001 silam.

Baca Juga

Akan tetapi, kebahagiaan nampaknya hanya berhenti sampai pada momen perayaan konvoi juara saja. Sebab setelahnya, Persija justru melakukan beberapa anomali yang patut diberikan tanda tanya besar.

Anomali-anomali ini tak jauh-jauh berkaitan dengan persiapan Persija menatap gelaran kompetisi musim depan. Lalu apa saja anomali yang dimaksudkan tersebut? Berikut ulasan INDOSPORT.


1. Melepas Pelatih

Stefano Cugurra Teco pelatih Peersija.

Persija Jakarta memang berhasil merengkuh trofi juara Liga 1 2018. Hal itu tentu akan membuat Persija menatap kompetisi Liga 1 musim depan dengan status juara bertahan.

Namun disayangkan, entah kenapa pelatih yang berhasil mengantarkan gelar juara itu malah dilepas Persija. Ya, Stefano Cuggura Teco resmi meninggalkan Persija dan kini merapat ke Bali United.

Jika ditengok dari keterangan pihak Persija, alasan kepergian Teco terbilang cukup unik. Kepergian Teco dari Persija diyakini karena dirinya mendapat tawaran yang lebih bagus.

"Alasannya keluar sepertinya ada tawaran lebih bagus. Dan kedua, dia merasa tidak ada tantangan lagi di Persija," ujar Gede widiade.

Persija sebenarnya bisa saja mencegah kepergian Teco ke Bali United kalau alasannya hanya soal tawaran yang lebih bagus. Andai Persija mau memberikan penawaran yang lebih besar lagi dan sesuai keinginan Teco, pasti akan membuatnya bertahan.

Lihatlah kini, Persija sebagai juara bertahan malah akan dilatih sosok juru taktik baru. Padahal, biasanya tim-tim juara bertahan di sebuah liga tak akan melepas pelatihnya demi bisa mengulang prestasi yang sama musim depan.

Baca Juga

Pembahasan ini bukan bermaksud merendahkan kualitas Ivan Kolev sebagai pelatih anyar Persija. Namun kebijakan tersebut jelas perlu masa adaptasi lagi dan Persija belum tentu bisa meraih kesuksesan lagi musim depan.


2. Para Bintang juga Dilepas

Jaimerson da Silva (Persija Jakarta)

Belum cukup pelatih saja yang dilepas, para pemain bintang juga ikut-ikutan mendapat perlakuan serupa. Lihat saja, jelang Liga 1 2019, Persija sudah kehilangan setidaknya dua nama yang musim lalu menjadi kunci kesuksesan tim, yakni Jaimerson dan Rohit Chan.

Sosok Jaimerson musim lalu begitu tangguh di lini belakang Persija. Bukan hanya mampu menjadikan Persija sebagai tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit, Jaimerson juga cukup produktif dalam mencetak gol.

Lebih menjadi anomali lagi bila menengok kepergian Rohit Chand. Begini saja, Rohit Chand musim lalu mendapat penghargaan pemain terbaik Liga 1 2018 dan itu sudah cukup menunjukan seberapa hebat kualitasnya.

Baca Juga

Padahal Persija musim depan tak hanya akan berlaga di kompetisi domestik saja. Persija juga bakal bertarung di kompetisi level Asia yang tentunya membutukan pemain berkualitas dan juga sudah klop dengan permainan tim.


3. Kebijakan Perekrutan Pemain

Tony Sucipto (kanan) langsung akrab dengan pemain Persija.

Para pemain bintang boleh saja dilepas, asalkan bisa mendapat pengganti sepadan. Namun, yang terjadi perekrutan Persija malah menjauh dari ekspetasi tersebut.

Bolehlah Persija memboyong nama Bruno Matos, Neguete, dan Jahongir Abdumuminov, sebab kualitas ketiganya bisa saja menjadi sungguh gemilang. Namun, membeli bagaimana dengan pembelian Tony Sucipto?

Persija membutuhkan pemain berkualitas demi bisa bersaing di dua kompetisi sekaligus musim depan, yakni Liga 1 dan Liga Champions Asia. Namun, yang direkrut malah nama senior seperti Tony Sucipto.

Bukan bermaksud merendahkan kualitas Tony Sucipto, ia dahulu memang salah satu bek sayap atau bahkan gelandang bertahan terbaik Indonesia. Namun harus diakui, kini Tony Sucipto sudah cukup berumur yakni 32 tahun dan tentu peformanya sudah tak secemerlang dulu lagi.

Baca Juga

Mungkin khusus untuk pembelian Tony Sucipto bisa sedikit diambil hikmahnya. Tony Sucipto yang mampu bermain di sejumlah posisi sekaligus bisa jadi pelapis handal ketika Persija membutuhkan.

Terus Ikuti Berita Sepak Bola Liga Indonesia Lainnya Hanya di INDOSPORT

Persija JakartaLiga IndonesiaLiga 1

Berita Terkini