x

Tragedi Berdarah Era Liga 1: Kerusuhan Kanjuruhan Buktikan Sepak Bola Indonesia Belum Aman

Minggu, 2 Oktober 2022 20:04 WIB
Penulis: Izzuddin Faruqi Adi Pratama | Editor: Isman Fadil
Rekap peristiwa perenggut nyawa yang terjadi di kalangan suporter Indonesia sejak formas Liga 1 dijalankan lima tahun lalu.

INDOSPORT.COM - Kompetisi kasta teratas Indonesia rasa-rasanya tidak pernah sepi dari tragedi berdarah. Sejak menggunakan format Liga 1 di 2017 saja sudah begitu banyak nyawa suporter yang melayang akibat kekerasan.

Insiden kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang usai Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (01/10/22) lalu jadi yang terbaru sekaligus yang terburuk dalam sejarah negeri ini.

Baca Juga

Paling sedikit setidaknya ada sembilan kasus yang skalanya lebih kecil namun tetap tidak bisa disepelekan dampaknya sejak Liga 1 resmi bergulir lima tahun lalu.

Padahal setiap kali ada yang tewas, publik selalu saja berjanji dan bertekad jika itu akan jadi yang terakhir kali.

Nyatanya? Kini sebuah 'rekor' yang sama sekali tidak diingankan justru tercipta di Kota Apel.

Baca Juga

Jumlah korban yang tewas sampai tulisan ini dibuat mencapai lebih dari 180 dan menjadi tragedi ini tragedi paling maut kedua di sepanjang sejarah suporter sepak bola.

Bagi yang ditinggalkan, angka tersebut bukan hanya statistik belaka. Mereka kehilangan anggota keluarga atau teman yang disayangi.

Semoga saja daftar kematian suporter karena kekerasan yang dirangkum ini bisa mengingatkan kita kembali bahwa sudah terlalu banyak nyawa melayang demi mendapatkan sebuah hiburan.

Baca Juga

1. Penganiayaan The Jakmania di Bulak Kapal (2017)

Insiden berdarah pertama di era Liga 1 terjadi hanya sekitar sebulan setelah kompetisi berjalan. Pada 21 Mei 2017 Agen Astrava, fans Persija Jakarta, dianiayaya oleh kelompok suporter lawan hingga meregang nyawa.

Saat itu korban baru selesai menyaksikan langsung pertandingan tim kesayangannya melawan Bali United di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, namun dalam perjalanan pulang menuju Cikarang langkahnya terhenti di kawasan Bulak Kapal.


1. Korban Didominasi Anak Muda

Kerusuhan suporter usai laga Arema FC vs Persebaya pada Liga 1 pekan ke-11 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (01/10/22) malam.

2. Bobotoh Dikeroyok di GBLA (2017)

Hanya dua bulan setelah peristiwa pertama, peristiwa kedua sudah menyusul. Kali ini korbannya adalah Bobotoh alias loyalis Persib Bandung.

Yang miris adalah korban yang bernama Ricko Andrean tersebut tewas karena dihantam oleh sesama pendukung Persib saat menonton laga klasik kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Baca Juga

Korban yang masih berusia 22 tahun sudah berusaha menunjukkan identitasnya sebagai warga Bandung namun pengeroyok sudah dikuasai kadung iblis.

Akhirnya Ricko tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tidak lagi bisa tertolong. Pasca lima hari dirawat ia menghembuskan nafas terakhir.

3. Bonek Remaja Tewas di Solo (2018)

Menyaksikan pertandingan tandang tim kesayangan seharusnya bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi siapa saja. Sayangnya tidak bagi Micko Pratama.

Baca Juga

Suporter Persebaya Surabaya berusia 17 tahun itu pulang tinggal nama saat menyertai Bajul Ijo menghadapi PS Tira di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada 13 April 2018 silam.

Kala hendak pulang ke Kota Pahlawan, Micko dan rekan-rekan Boneknya dilempari dengan batu oleh sekelompok orang saat tengah melewati Surakarta dan harus membayarnya dengan nyawa.

4. Aremania Muda Terinjak-injak di Kanjuruhan (2018)

Empat tahun sebelum insiden yang lebih akbar, Stadion Kanjuruhan sudah menjadi saksi lebih dulu atas kematian Dhimas Duga Romli. Fans muda tersebut meninggal usai jadi korban kekacauan yang mewarnai duel Arema FC vs Persib Bandung.

Baca Juga

Dhimas yang baru berumur 16 tahun tidak terlibat dalam kericuhan antar suporter namun ia terseret kala coba meloloskan diri dari TKP. Sayangnya ia malah terinjak-injak.

Sempat bisa pulang, namun Aremania remaja itu justru wafat karena luka dalam yang lambat diketahui meski telah merasakan nyeri di dada.


2. Kanjuruhan 2022 Paling Parah

Truk kepolisian yang dibakar pasca kerusuhan suporter.

5. Derby Jogja Pembawa Maut (2018)

Betapa malannya nasib Iqbal Setyawan. Bocah berusia 16 tahun yang hanya ingin merasakan serunya derby Jogja antara PSIM Yogyakarta vs PSS Sleman pada Juli 2018 silam tanpa mendukung tim manapun justru masuk dalam catatan kelam rivalitas kedua tim.

Ia jadi korban pengeroyokan enam oknum fans Laskar Mataram yang lebih tua dan termakan fanatisme buta lantaran terjaring sweeping di gerbang Stadion Sultan Agung.

Baca Juga

6. Persib vs Persija Makan Tumbal Lagi (2018)

Haringga Sirla tidak menyangka jika perjalanan away day untuk menonton Persija Jakarta ke Bandung pada September 2018 lalu adalah caranya menjemput ajal.

Hanya karena swafoto dengan gestur khas The Jakmania, ia langsung dihajar habis-habisan oleh Bobotoh pendukun Persib Bandung hingga tewas dan video insiden itu sempat beredar di jagat media sosial.

Yang membuat tragedi ini semakin menyedihkan adalah ada oknum yang tega untuk mengedit video sadis tersebut untuk kepentingan pribadi dan politik.

Baca Juga

Buntut dari meninggalnya Haringga adalah semakin panasnya hubungan The Jakmania dan Bobotoh yang sebelumnya juga sudah sangat tidak bersahabat.

7. 180 Jiwa Melayang di Kanjuruhan (2022)

Hanya karena tidak puas timnya kalah dari Persebaya Surabaya, sejumlah fans Arema FC menyerbu lapangan akhir pekan ini sebagai tanda protes. Mereka pun juga merusak sejumlah fasilitas termasuk mobil-mobil di area Kanjuruhan.

Polisi berusaha menertibkan massa dengan gas air mata namun cara ilegal di mata FIFA tersebut justru berakibat fatal. Mereka yang tak berdosa pun akhirnya ikut jadi korban entah karena sesak nafas dan lain sebagainya.

Baca Juga

Dengan lebih dari 180 nyawa meregang, insiden ini jadi yang terparah dalam sejarah sepak bola lokal dan kini mendapat perhartian dunia. Bukan tidak mungkin FIFA akan menjatuhkan lagi sanksi pembekuan seperti tujuh tahun lalu.

Tragedi ini masih butuh penyelidikan lebih lanjut namun yang jelas baik suporter dan klub Arema, penyelenggara Liga 1, penyiar laga, sekaligus aparat sama-sama punya andil besar dan harus diberi hukuman setimpal.

Persebaya SurabayaPersib BandungPersija JakartaKanjuruhanThe JakmaniaPSS SlemanBobotohBonekLiga IndonesiaStadion KanjuruhanArema FCLiga 1

Berita Terkini