x

Catur Gores Tinta Emas

Selasa, 31 Desember 2013 09:00 WIB
Editor: Rawan Kurniawan

Tahun 2013 menjadi tahun emas bagi olahraga catur Indonesia. Cabang catur menggebrak di akhir tahun ketika para atlet catur Indonesia membuat sukses memborong lima emas SEA Games 2013.

Padahal, Induk organisasi olahraga catur, PB Percasi, sebelumnya hanya menargetkan dua emas pada pesta akbar olahraga Asia Tenggara yang berlangsung di Myanmar itu.

Rasa pesimistis itu wajar muncul bersamaan dengan adanya nomor-nomor pertandingan catur yang tidak lazim dipertandingkan di Olimpiade, yaitu catur tradisional Myanmar.

"Berat untuk bisa mendapat banyak medali emas di Myanmar, tuan rumah banyak mempertandingkan nomor catur tradisional," kata Waketum PB Percasi, GM Utut Adianto, kala itu.

Namun di luar dugaan, pasukan catur Indonesia dengan semangat tinggi mampu menyabet lima medali emas, empat perak dan tujuh perunggu di Myanmar.

Raihan medali itu tentunya menggembirakan, karena ketika bermain di kandang sendiri saat SEA Games 2011 di Palembang, cabang catur hanya kebagian satu medali emas.

Strategi jitu Percasi berhasil dengan menurunkan pecatur bergelar Grandmaster yang mereka miliki seperti GM Susanto Megaranto, GMW Irene Kharisma Sukandar dan GMW Medina Warda Aulia.

PB Percasi juga berani memasang pecatur muda seperti CM Lutfhi Ali dan FM Farid Firmansyah.

"Saya senang sekali bisa ikut merebut medali emas di SEA Games Myanmar," kata MI Luthfi Ali, yang mengaku baru pertama kali berlaga di SEA Games dan langsung menyumbangkan dua medali emas.

Sementara pecatur papan atas Indonesia GM Susanto Megaranto juga merebut emas pada nomor random, selain memenangi catur transfer berpasangan putra bersama Luthfi.

Pecatur putri Indonesia GMW Irene Kharisma Sukandar menyumbangkan dua emas di nomor catur cepat dan catur kilat perseorangan putri.

Sukses lain PB Percasi ketika mengantar Medina Warda Aulia yang saat itu berusia 16 tahun mendapatkan gelar Grand Master Wanita (GMW).

Juga ada Muhammad Luthfi Ali (16 tahun) menjadi Master Internasional ketika keduanya mengikuti Kejuaraan Junior Dunia di Kocaeli, Turki pada pertengahan September 2013.

Percasi menganggap prestasi ini adalah buah dari sistem pembinaan konsisten. Induk organisasi olahraga catur berhasil membuat gairah para pecatur dengan serentetan turnamen di Indonesia.

Turnamen terkadang bersifat lokal tapi tidak jarang juga berlangsung turnamen internasional yang cukup berbobot.

Ajang event catur tahunan Indonesia Open, tampaknya cukup efektif untuk memunculkan gairah para pecatur nasional, ketika turnamen itu sekaligus mendatangkan sejumlah pecatur papan atas dunia.

"Kami berharap dari event internasional semacam Indonesia Open agar para pecatur mendapatkan pengalaman," kata Ketua Umum PB Percasi Hashim Djojohadikusumo.

Beberapa tahun terakhir ini PB Percasi yang berhasil menggaet sponsor, secara rutin setiap tahun menggelar turnamen nasional catur cepat dan catur kilat yaitu Ramadhan Cup dan Christmas Cup.

PB Percasi juga rutin mengirim atlet mereka ikut berkompetisi di luar negeri, paling tidak untuk meningkatkan elo rating para pecatur.

Berita Terkini