Manusia Berlari Kurang dari 120 Menit Sejauh 42km? Ilmuwan Yahudi Ini Coba Jawabnya
Salah satu tempat di belahan bumi ini yakni daerah Laut Mati yang berada di antara Yordania dan Israel merupakan tempat yang memiliki tekanan udara sangat tinggi. Hanya ada 5 persen oksigen di daerah ini, sangat tipis.
Tempat ini jadi tempat yang representatif untuk seorang ilmuwan bernama Yannis Pitsiladis. Yannis melakukan untuk menjawab satu pertanyaan, bagaimana mungkin tubuh manusia bisa memiliki kekuataan maksimal untuk berlari dengan waktu yang cepat.
"Yang mengejutkan bagi saya ialah memahami batas-batas kerja tubuh manusia saat berlari dengan asupan oksigen terbatas," kata Yannis seperti dilansir dari The New York Times.
Pertanyaan Yannis ini ditujukan kepada pelari maraton asal Kenya, Dennis Kipruto Kimetto. Pelari 32 tahun ini pada 2014 lalu sukses berlari sejauh 42,195 km dengan catatan waktu 02:02:57. Ini rekor dunia.
Secara awam, banyak yang meragukan bagaimana bisa seorang manusia bisa berlari selama 4 menit 27 detik per mil. Dengan catatan waktu seperti itu, Dennis membutuhkan 85-90 persen kapasitas aerobik (suatu kerja yang di laksanakan secara terus menerus selama mungkin, suatu kerja otot yang agak bersifat umum, dalam kondisi aerobik) maksimal seorang pelari.
Angka itu dua kali lipat di atas kapasitas seorang pria saat melakukan aerobik. Detak jantung Dennis pun saat itu 160-170 denyut per menit, sedangkan untuk orang normal hanya 60-100 per menit.
"Apakah mungkin ada orang lain yang bisa melampaui rekor itu, berlari marathon kurang dari 2 jam?" kata Yannis.
Bukan hal mudah untuk Yannis untuk menjawab pertanyaan singkat tersebut. Rintangan bukan hanya persoalan dana untuk melakukan penelitian namun juga soal kesepakatan umum yang sudah lumrah di pegang para ilmuwan.
1. Kekurangan Dana
Saat Yannis berniat untuk menjawab pertanyaan singkatnya tersebut, ia tak memiliki dana. Yannis memprediksi dana yang ia butuhkan untuk menjawab pertanyaan itu sebesar 30juta Dollar.
"Banyak perusahaan mengatakan, terlalu bagus jika pertanyaan itu bisa terjawab," kata Yannis.
Yannis tak tegar, ia tetap berusaha untuk mewujudkan penelitiannya di bawah bayang-bayang skeptisme dan ketidakpedulian dari banyak pihak.
Sejumlah ilmuwan olahraga bahkan melebelkan dirinya sebagai provokator, penelitian yang terlalu berresiko dan membuang ide, tenaga dan uang.
Seorang profesor olahraga dari Universitas Dallas, Peter Weyand mengatakan usaha yang dilakukan Yannis merupakan lompatan 'iman' dari seorang ilmuwan akan kebijaksanaan konvesional yang sudah ada.
"Sains dalam olahraga ialah proses yang meragukan dan penuh eksperimen," kata Peter.
Kabar terakhir mengatakan bahwa Yannis mendapat bantuan dana hibah dari pemerintah Jepang sebesar 500ribu Dollar untuk meneruskan penelitiannya.
2. Gen Unggulan
Dari serangkaian penelitiannya yang sangat rumit. Yannis akhirnya jatuh pada kesimpulan sementara untuk pertanyaannya tersebut.
Yannis berpikir bahwa pelari pertama yang bisa melewati waktu kurang dari dua jam berlari marathon ialah mereka yang berusia muda.
Pelari muda ini diyakini Yannis berasal dari negara-negara kawasan benua Afrika seperti Ethopia ataupun Kenya, negara yang memang dikenal sebagai penghasil pelari tercepat di dunia.
"Berlari di Ethopia dan Kenya ialah bagian dari hidup. Skenario yang paling ideal bahwa sebagian besar dari mereka karena memiliki varian gen unggul. Tapi kami tidak tahu mana gen yang unggul, mana yang tidak," kata Yannis.
Hipotesa sementara Yannis pun seperti diamini oleh mantan pelari Ethopia, Haile Gebrselassie. Ia mengatakan di negaranya para pelari tidak memiliki hal mewah seperti pelari dari dunia barat.
"Disini, kami hanya memiliki bakat, kami tidak memiliki pelatih hebat, asupan gizi yang tepat, tidak memiliki psikolog," kata Gebrselassie.
3. Masih jadi teka-teki
Namun sayangnya, penelitian Yannis belum memiliki hasil pasti. Proyek SUB2, terkait hal ini masih akan terus dilakukan oleh Yannis.
Saat ini, ia memiliki pelatihan di Kenya dan kabanrya Komite Olimpiade Internasional akan memberikan dana untuk penelitian ini. Tujuannya agar tidak ada lagi kasus doping muncul dari dunia atletik hanya karena pelari ingin memecahkan rekor dunia.
"Saya ingin memberi dampak untuk kehidupan. Saya hanya ingin agar ada orang yang ikut Olimpiade namun tidak berpikri untuk berbuat curang," kata Yannis.