x

(VIDEO) Kisah Hyvon Ngetich, Pelari yang Merangkak Untuk Sampai Garis Finish

Jumat, 12 Agustus 2016 12:26 WIB
Editor:

Satu tahun yang lalu pada ajang Austin Marathon terselip sebuah kisah penuh haru dan penuh inspiratif dari seorang pelari asal Kenya, Hyvon Ngetich. Kejadian yang dialami oleh Ngetich memang sudah berlalu namun kisah Ngetich kini kembali dibicarakan sejumlah pihak pasca banyaknya atlet di Olimpiade Rio 2016 yang terhenti akibat cedera. 

Semangat pantang menyerah yang ditunjukan oleh Ngetich begitu terasa saat kita melihat video perjuangan dirinya di Austin Marathon 2015. Ngetich yang di kompetisi itu diprediksi menjadi salah satu pelari yang bakal meraih waktu terbaik, tiba-tiba alami kelumpuhan saat ia akan 'selangkah' lagi sentuh garis finish. 

Ngetich terjatuh dan tak mampu berdiri. Ia hanya menunduk di aspal jalan dan menahan rasa sakit, sementara pelari lain satu per satu melewati Ngetich yang tak berdaya. Tim medis menghampirinya dengan membawa kursi dorong. 

Apa yang kemudian dilakukan oleh Ngetich? berikut kisahnya dan penuturan langsung Ngetich yang dilansir dari salah satu media lokal Afrika, thestandard.co baru-baru ini untuk pembaca setia INDOSPORT: 


1. Tragedi di KM-37

Aksi Hyvon Ngetich di ajang Austin Marathon 2015.

Hari itu, 16 Februari 2015, tidak ada rasa aneh yang dirasakan oleh Hyvon Ngetich saat ia keluar dari tempat menginap menuju arena lintasan lari Austin Marathon 2015. Secara fisik dan mental, Ngetich seperti sudah sangat siap tempur. 

Tidak ada rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya. Ngetich pun optimis bisa meraih waktu terbanyak di ajang marathon tersebut. Awalnya semua berjalan cukup lancar. Ngetich saat itu sudah mampu melahap sebagian besar jarak di marathon itu dan 'selangkah' lagi akan sentuh garis finish. 

Namun saat ia memasuki tanda 37 Km dari 42,2 Km jarak yang dipertandingkan, tiba-tiba tubuh Ngetich seperti berhenti beroperasi. Ia jatuh lunglai layak  sebuah robot yang tidak mendapat support listrik. 

Ngetich hanya setengah telungkup di aspal jalan dan menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang, sementara sejumlah pelari lain satu per satu melewatinya. Tim medis pun datang menghampiri Ngetich dan membawa sebuah kursi dorong. 

Ngetich yang merasa yakin ia bisa melewati garis finish menolak bantuan dari tim medis untuk dievakuasi. Ngetich bersikeras, ia bisa melewati garis finish meski tubuhnya seperti sudah menolak untuk berlari. 

Lantas apa yang dilakukan oleh Ngetich? 

Tanpa banyak membuang waktu, secara perlahan Ngetich mulai merangkak sedikti demi sedikit. Sontak saja aksi Ngetich membuat panitia, MC lomba dan sejumlah penonton bersorak memberi semangat. 

Sedikit demi sedikit, tubuh Ngetich terus maju ke aras garis finish. Ajaib, tubuh yang sudah sangat lunglai, Ngetich bisa menyentuh finish. Saat itu juga tim medis langsung memberi pertolongan pertama untuknya. 

Apa yang dialami Ngetich satu tahun yang lalu itu ternyata setelah didiagnosis disebabkan karena tingkat gula darah Ngetich sangat rendah. 


2. Menolak untuk menyerah

Aksi Hyvon Ngetich di ajang Austin Marathon 2015.

Baru-baru ini, Ngetich kembali mengisahkan kisahnya tersebut ke media lokal Afrika. Ngetich mengaku sebagi seorang atlet, ia tak akan pernah mau menyerah meski kondisi tubuhnya menolak untuk bertanding. 

"Yang ada di otak saya saat itu ialah saya harus bisa lewati garis finish seperti apa yang saya targetkan sebelum lomba," kata Ngetich. 

Ditambahkan oleh Ngetich, soal ketangguhannya saat itu tidak hanya karena mentalnya yang baik namun juga karena ia merasa otak dan mentalnya belum mau untuk menyerah. 

Menariknya apa yang disampaikan oleh Ngetich sejalan dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa seorang atlet hebat akan tercipta tidak hanya dari tempaan fisik yang kuat namun kepercayaan atlet itu bahwa otaknya belum mau berhenti dan yang terpenting ialah mental baja dari atlet itu. 

"Kecerdasan otak menyumbang 30 persen untuk kita tidak menyerah saat hadapi masalah, sisanya ialah bagaiamana mental memiliki peranan untuk kita mengontrol tubuh untuk tidak kibarkan bendera putih," tulis sebuah penelitian seperti dilansir dari thestandard.co

Ngetich bisa saja langsung duduk di kursi roda yang dibawa tim medis saat ia jatuh namun kecerdesan mental yang dimilikinya membuat tubuhnya masih bisa untuk merangkak hingga sampai garis finish. 


3. Serangan mendadak

Aksi Hyvon Ngetich di ajang Austin Marathon 2015.

Apa yang dialami oleh Ngetich saat mengikuti kompetisi olahraga terbilang cukup mendadak dan banyak atlet yang mendapat hal serupa. Di olimpiade Rio 2016 saja sejumlah atlet tiba-tiba mendapat cedera cukup serius saat bertanding. 

Tengok bagaiamana atlet angkat besi Armenia, Andranik Karapetyan  alami cedera saat mengangkat beban atau yang dialami atlet senam, Samir Ait Said.  

Selain itu dua cedera diatas, pada ajang Olimpiade 1992, juga terjadi kisah yang hampir mirip dengan Ngetich, yakni kisah Derek Redmond. Kisah Redmond sudah banyak diketahui banyak orang. 

Redmond dan semua atlet mulai mengadu kecepatan. Ketika sudah 250 meter, Redmond merangsek ke posisi keempat. Sedikit lagi mengamankan perunggu. 

Namun ketika balap lari itu menyisakan 150 meter, Redmond mengubur mimpinya meraih medali di Olimpiade. Dia tampak terpincang-pincang di lintasan lari. Derek tersungkur sambil memegangi pangkal pahanya. Tim medis pun menghampirinya dan menyebut bahwa Redmond mengalami cedera hamstring.

Tim medis memintanya naik ke tandu. Harapan mendulang medali seketika pupus. Namun instruksi itu ditolak Redmond. Dia tidak lagi memikirkan ambisinya di awal lomba. Keinginan yang jauh lebih besar kini menantangnya untuk kembali berlari, menyelesaikan lomba!

OlimpiadeOlimpiade 2016LariKenyaIn Depth SportsHyvon Ngetich

Berita Terkini