x

Awas! Ancaman Doping Intai Atlet

Jumat, 20 Maret 2015 20:01 WIB
Editor:

Kedua atlet renang tersebut, Indra dan Guntur terbukti mengkonsumsi zat Methylhexaneamine, suatu zat stimulan spesifik yang masuk dalam daftar terlarang World Anti-Doping Agency (WADA).

Mencuatnya kasus tersebut setelah ajang Asian Indoor dan Martial Arts Games 2013 di Korea. Saat itu Indra berhasil menjadi juara pertama nomor 50 meter gaya dada. Namun tidak lama, Indra terindikasi menggunakan doping berjenis Methylhexaneamine dari minuman suplemen Jack3D yang diminumnya sebelum pertandingan.

Setelah ditelusuri, dalam penyelidikan yang dilakukan Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI), Indra maupun Guntur mengaku tidak tahu jika suplemen jenis Jack 3D itu sudah dilarang sejak 2011. Terkait hal ini, dibutuhkannya peran aktif pemerintah untuk memsosialisasikan zat-zat apa saja yang dilarang untuk para atlet, agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Bahkan tahun lalu, kabar tidak sedap menyelimuti olahraga Malaysia, dimana Lee Chong Wei dicurigai telah menggunakan doping saat megnikuti kejuaraan dunia di Kopenhagen, Denmark akhir Agustus 2014 lalu. Tidak hanya itu, Tai Cheau Xuen yang merupakan atlet Wushu Malaysia juga terbukti menggunakan doping saat berlaga di Asian Games 2014.

Apa saja yang bisa menjadi antisipasi agar para atlet tidak terkena masalah ini? Berikut INDOSPORT merangkumnya.


1. Minim Sosialisasi

Gatot Dewa Broto selaku Deputi V Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Kurangnya sosialisai pemerintah terhadap zat yang dilarang ini termasuk bagian penting dalam kelangsungan olahraga tanah air. Selain pemerintah bersinggungan langsung dengan pihak luar, pemerintah dalam hal ini setidaknya mensosialisasikan zat-zat apa saja yang tidak boleh diminum oleh para atlet.

“Kami akui, sosialisasi memang belum efektif. Tapi sekarang akan digalakan lagi, apalagi kan dalam konteks tinjauan. Apalagi sebentar lagi kita akan menjadi tuan rumah Asean Games. Kemarin saat pertemuan dengan OCA, KOI dan Pemerintah, ada pejabat kami yang juga ikut bertanggung jawab mengenai masalah doping nanti di kepanitiaan Asean Games,” jelas Gatot Dewa Broto selaku Deputi V Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Selain itu menurutnya, poin terpenting adalah, Pemerintah akan mendorong dan mulai menggalakan lagi sosialisasi mengenai doping, jangan sampai persiapan Asena Games nanti memberikan stigma negatif pada Indonesia selaku tuan rumah.

“Jangan sampai dalam persiapan Asen Games nanti ada stigma negatif. Nanti-kan OCA ketemu lagi dengan kami di bulan September. Nanti juga akan kita tinjau masalah doping, jangan sampai kejadian seperti Malaysia kemarin,” pungkas Gatot.


2. Atlet Membutuhkan Suplemen

Untuk bisa menjadi juara, beberapa atlet menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Untuk cabang olahraga, kasus doping terbanyak ditemukan pada cabang angkat berat dan atletik.

Menyikapi hal tersebut, pelatih atlet angkat besi Indonesia, Dirja Wihardja mengungkapkan, atlet-atlet angkat besi Indonesia saat ini masih mengandalkan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) untuk mensuplai suplemen-suplemen bagi atlet angkat besi.

"Sementara kita suplemen minta rekomendasi dari Satlak Prima, cuma sampai sekarang belum tersedia. Kita juga sering konsultasi dengan dokter, juga membuat laporan. Atlet biasanya juga tahu yang biasa (dikonsumsi), mereka tidak akan konsumsi jika tidak dari PB atau Satlak Prima," terang Dirja saat dihubungi INDOSPORT.

Terlebih, atlet-atlet cabang olahraga angkat besi ini tengah dalam persiapan pra-Olimpiade pada bulan Juli-Agustus nanti. Mengenai suplemen, yang pasti mereka meminta rekomendasi dari Satlak agar kasus seperti Indra dan Guntur tidak terulang.


3. Siasati Dengan Makanan Bergizi

Sekretaris Jendral Pengurus Besar Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PB Pertina) Martinez dos Santos

Tidak hanya cabang olahraga angkat besi, beberapa cabang olahraga lain juga pasti menerapkan hal yang serupa untuk mengantisipasi agar atlet mereka tidak mengkonsumsi zat yang mengandung doping.

Dihubungi di tempat berbeda, Sekretaris Jendral Pengurus Besar Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PB Pertina) Martinez dos Santos menjelaskan, mensiasati suplemen yang mengandung doping, Martinez dan tim lebih prefer para atletnya mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan sangat jarang Pertina menganjurkan suplemen bagi para atletnya.

"Kalau suplemen tidak ada sampai saat ini, lebih prefer kepada makanan. Kita lebih kepada apa yang kita makan, ya kayak makanan-makanan yang bergizi. Sekarang kalau untuk suplemen tidak ada, kalau dulu masih ada," ungkap Martinez kepada INDOSPORT.

Selain itu, Martinez dan tim selalu memeriksakan atletnya sebelum bergulir atau mengikuti pertandingan/kejuaraan. "Kita ikuti aturan main, selalu periksa doping. Kita juga memberitahu dan mensosialisasikan apa-apa saja yang mengandung doping. Biasanya kita minta arahan dari Satlak dan KOI, apa saja yang mengandung doping," pungkasnya.

PertinaSatlak PrimaGatot S Dewa Broto

Berita Terkini