Tips Hindari Kecelakaan Saat Naik Gunung
Mendaki gunung bukan sepele yang bisa dilakukan tanpa persiapan matang. Meninggalnya pendaki gunung berusia 19 tahun, Dania Agustina Rahman di gunung Semeru kembali menjadi bukti, mendaki gunung tanpa persiapan matang ialah nyawa.
Dania semakin menambah panjang daftar pendaki yang harus mengakhiri hidupnya di gunung. Banyak faktor yang bisa mendorong terjadinya musibah di atas gunung karenanya persiapan yang matang untuk menikmati keindahan alam di atas gunung wajib dilakukan dengan seksama.
Dirangkum dari buku 'Norman Edwin Sang Legenda' berikut beberapa tips untuk pecinta alam agar dapat menghindari musibah saat mendaki gunung. Norman Edwin ialah seorang wartawan hebat, pecinta alam terbaik dan penggagas Seven Summit pertama.
1. Sepatu
Kegiatan utama dalam mendaki gunung adalah berjalan. Ini berarti perlindungan terhadap kaki harus benar-benar diperhatikan. kaki harus terlindung dari kemungkinan terluka karena duri atau batu yang terdapat di sepanjang perjalanann. Sepasang sepatu yang baiklah yang akan melindungi kaki yang gemar berjalan
2. Ransel
Perhatikan cara menyusun barang yang akan diletak didalam ransel. Titik berat beban itu jatuh di tulang yang kuat, yaitu tulang belakang. Berat beban di dalam ransel akan ditahan secara sempurna oleh kedua bahu kalau pengepakan barang - barangnya tepat. Barang yang paling berat harus diletakkan di bagian atas. Hal ini penting dilakukan agar berat keseluruhan beban di rasnel itu tidak jatuh di pinggang atau punggung. Dengan berpegang pada prinsip di atas, maka fungsi ransel sebagai pembawa beban akan tercapai dengan baik.
3. Pakaian
Seorang pendaki gunung harus membawa pula pakaian cadangan secukupnya. Bahan yang paling baik untuk pakaian mendaki gunung adalah wol. Bahan ini masih mampu menjaga kehangatan badan kendati basah, juga cepat mengering kembali. Selain itu pendaki perlu membawa pakaian atau jaket karena gunung di Indonesia memiliki curah hujan tinggi. Banyak kecelakaan di Indonesia pada dasarnya berpangkal dari perlengkapan hujan yang tidak di bawa. Kematian yang mengakhiri kisah perjalanan di gunung kebanyakan karena kelalaian ini, karena si korban tidak mampu menahan dingin karena kebasahan.
4. Tenda
Tenda dari kanvas yang banyak dijual di pinggir pinggir jalan tentu tidak baik untuk perlengkapan mendaki gunung, karena tenda jenis ini tidak mampu menahan hujan lebat. Kedua periksalah apakah tenda ini tidak lembab di dalamnya. Tenda yang terlalu rapat ( tanpa ventilasi ) menyebabkan udara panas di dalam tenda tertahan sehingga menyebabkan kondensasi, artinya lembab dan basah.
5. Perlengkapan Tidur
Sarung atau selimut mungkin cukup hangat untuk di gunung, tetapi penggunaannya masih kurang praktis. Yang terbaik adalah sarung tidur ( sleeping bag ) yang mampu menutupi seluruh tubuh dengan baik, kecuali bagian kepala atau muka. Untuk menutupi bagian kepala, topi dari wol yang disebut balaklava adalah pililhan yang terbaik. Topi ini bisa menutupi seluruh kepala sekaligus, kecuali bagian mata dan hidung.
6. Perlengkapan Masak
Jenis kompor yang praktis dan banyak di pasaran adalah kompor pompa yang berisi minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Harga kompor dan bahan bakarnya relatif murah, lagi pula sangat praktis bila dipakai untuk perjalanan lama ( seminggu atau lebih ).
7. Makanan
Makanan yang dibawa harus tetap mengandung hidrat arang yang cukup, misalnya saja coklat, biskuit atau roti. Pengaturan makanan seaiknya mempertimbangkan kemudahan - kemudahan, terutama ketika sedang dalam perjalanan. Makan pagi harus diusahakan terdiri dari makanan yang mudah masak dan hangat, misalnya Supermie atau havermouth
8. Perlengkapan Lain
Selain obat - obatan pribadi, setiap kelompok mendaki gunung harus membawa perlengkapan P3K. Perlengkapan lain adalah senter, parang, kompas, altimeter dan pete.
9. Persiapan Fisik
Dasar yang paling penting bagi pendaki gunung adalah tenaga aerobik, sebab kegiatannya sangat dipengaruhi oleh transport oksigen melalui peredaran darah kepada otot - otot badan. Untuk ini, seorang pendaki gunung harus melakukan latihan - latihan aerobik seara teratur, yaitu lari atau berspeda. Selain aerobik, perlu juga dilatih kekuatan dan ketahanan otot, terutama otot - otot yang banyak digunakan dalam mendaki gunung. Otot - otot itu adalah bahu, punggung, pinggang dan kaki.
10. Pengetahuan Mendaki
Pokok penting adalah membayangkan bentukan gunung itu melalui garis - garis kontur yang ada di peta. Dengan melihat garis - garis kontur itu, kita bisa membayangkan medan di gunung yang berupa pegunungan, lembah, sadel, tebing curam, puncak dan sebagainya. Sebuah lintasan yang aman kemudian direncanakan dengan memperhatikan garis - garis kontur itu. Cara lain untuk mengetahui medan yang akan dihadapi adalah dengan bertanya pada orang - orang yang pernah mendaki gunung bersangkutan.
11. Teknik Mendaki
Teknik mendaki pada dasarnya adalah berjalan. Berjalan di gunung harus dilakukan dengan langkah kecil-kecil. Langkah yang terlalu lebar akan merusah keseimbangan badan, karena medan di gunung curam dan berat badan kita sudah bertambah dengan beban di punggung.
Kalau fisik baik, seorang pendaki gunung umumnya dapat berjalan dua atau tiga jam tanpa istirahat. Sebagai ukuran minimal, berjalan satu jam dengan istirahat sepuluh menit adalah sudahcukup baik.
Ikuti jalan setapak yang sudah ada. Di gunung, jalan setapak biasanya berkelok - kelok mengikuti kontur alam, sehingga tidak terlalu menanjak. Tak usah memotong jalan setapak yang berkelok - kelok itu. Lintasan biasanya curam, lagi pula merusak jalan setapak yang sudah ada. Tak usah segan untuk kembali turun dan memeriksa jalan setapak yang ada, seandainya lintasan di depan meragukan.
Menuruni gunung tidak semudah yang diperkirakan banyak orang. Justru kecelakaan sering terjadi ketika pendaki sedang menuruni gunung. Badan yang lelah dan beban di punggung yang terasa semakin berat meyebabkan persoalan tersendiri dalam menuruni gunung.
Kalau akhirnya kita terpaksa menuruni gunung tanpa mengikuti jalan setapak, prinsip yang harus dipegang teguh adalah : ikuti punggungan gunung.
Kesalahan yang sering dilakukan oleh pendaki pemula adalah mengikuti aliran sungai. Sungai menurut perhitungan mereka, menuju ke bawah dan biasanya melewati kampung. Di gunung perhitungan ini tidak bisa dipakai, karena sungai di sini bisa membentuk air terjun dan berada di dasar jurang yang dalam.
12. Penyakit Gunung
Kematian yang banyak terjadi di gunung Indonesia disebabkan karena udara yang dingin ini. Penyebabnya tak lain adalah perlengkapan yang kurang, terutama untuk menahan hujan. Pakaian yang basah dan badan yang tak terlindung dari angin adalah penyebab utama kecelakaan itu. Pakaian yang basah mengurangi nilai insulasi ( kemampuan menahan panas ) sampai 90%.
Di Indonesia kecelakaan yang banyak terjadi adalah exposure ( kehilangan panas badan ), terutama disebabkan karena hipotermia ( menurunnya suhu badan ). Masalahnya ternyata bukan karena udara gunung yang dingin, tetapi karena badan yang basah karena hujan. Suhu badan yang menurun hingga 20 derajat Celcius akan menyebabkan kematian seseorang.