5 Atlet Difabel Cantik yang Menginspirasi
Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang yang terlibat sebagai atlet profesional di dunia olahraga harus memiliki fisik yang sempurna. Tuntutan tersebut tak lepas dari kompetisi di dunia olahraga yang memang menomorsatukan kesempurnaan fisik beserta kekuatannya dari para atlet.
Secara jelas, cabang-cabang olahraga seperti sepakbola, renang, lari, surfing, balap sepeda dan sebagainya harus memaksimalkan peran otot-otot kaki, tangan dan bagian tubuh lainnya untuk mencapai hasil yang bagus.
Keterbatasan fisik tak membuat Aimee Mullins pantang menyerah mengejar prestasi di dunia olahraga
Namun, olahraga bukan hanya milik para atlet yang memiliki kesempurnaan bentuk fisik. Kelompok difabel atau atlet difabel yang memiliki keterbatasan fisik juga memiliki naluri dan hasrat yang sama yakni meraih prestasi setinggi mungkin.
Aksi atlet difabel cantik, Aimee Mullins saat berlari di pinggir pantai
Bagi atlet difabel, kekurangan fisik yang mereka miliki justru tak menjadi penghalang. Hal tersebut justru menjadi motivasi besar bagi atlet difabel untuk melakukan hal-hal besar seperti apa yang dilakukan atlet normal.
INDOSPORT mengulas sederet atlet difabel yang tak hanya berprestasi tapi juga memiliki paras cantik di dunia olahraga. Cerita-cerita mereka di dunia olahraga benar-benar menjadi insipirasi bagi seluruh kalangan bahwa kekurangan bukanlah alasan untuk kalah.
1. Aimee Mullins
Aimee Mullins merupakan atlet difabel di cabang lari dan lompat jauh. Mullins lahir pada 20 Juli1976 di Allentown, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia terlahir dengan kondisi tanpa tulang fibula. Kedua kakinya harus diamputasi di bawah lutut saat masih berusia setahun.
Sejak saat itulah, Mullins belajar berjalan dengan kaki palsu. Siapa sangka, dengan keterbatasan fisiknya tersebut, Mullins justru berhasil bangkit dan menorehkan prestasi tak hanya di dunia olahraga tapi juga di dunia artis dan model.
Mullins mengenyam pendidikan di Georgetown University pada tahun 1998 dengan gelar ganda dalam ilmu sejarah dan diplomasi. Di dunia model, Mullins cukup dikenal di panggung cat walk London dan Paris.
Atlet berusia 39 tahun ini pernah terpilih sebagai Presiden Yayasan Olahraga Perempuan. Setelah memecahkan rekor nasional di nomor lari, Mullins kemudian mengikuti ajang lompat jauh. Satu tahun kemudian ia justru berhasil memecahkan rekor dunia di lompat jauh.
Pada 1996 Mullins memutuskan turun di pertandingan khusus penyandang cacat Paralimpiade Atlanta, Georgia. Namun, ia justru gagal meraih kemenangan pada nomor 200 meter dan juga gagal pada test Paralimpiade sebulan kemudian.
Tak hanya berprestasi, Mullins juga terlibat aktif dalam melayani masyarakat, membantu orang lain mengenali potensi dan bakat. Ia juga mendirikan HOPE (Helping Others Perform with Excellence) untuk membantu penyandang cacat bersaing dalam bidang olahraga.
2. Sarah Reinertsen
Sarah Reinertsen merupakan seorang atlet difabel di cabang olahraga lari. Sarah juga merupakan sosok atlet Paratriathlon Amerika Serikat dan mantan atlet Paralimpiade yang lahir pada 22 Mei 1975.
Sarah dilahirkan dengan defisiensi fokal femoral proksimal, gangguan pertumbuhan tulang. Kakinya yang terkena gangguan tersebut kemudian diamputasi di atas lutut saat ia berusia 7 tahun.
Namun, keterbatasan fisik tak membuat atlet difabel cantik ini putus asa. Ia justru berhasil bangkit dan menjadi inspirasi banyak orang. Terinspirasi dari pelari marathon, Paddy Rossbach yang juga pernah diamputasi, Sarah kemudian mulai berjalan pada usia 11 tahun.
Pada pentas lari internasional pertamanya, ketika berusia 13 tahun, ia memecahkan rekor dunia lari 100 meter sebagai atlet perempuan yang kakinya diamputasi di atas lutut. Rekor dunia T42 400 metar yang ia ukir pada tahun 1999, masih bertahan sampai saat ini.
Reinertsen adalah anggota dari Tim Difabel AS selama 7 tahun. Ia mewakili AS pada Paralimpiade musim panas 1992.
3. Bethany Hamilton
Bethany Hamilton harus kehilangan lengan kirinya pada 2003, saat ia masih berusia 13 tahun. Kala itu, Bethany tengah menjalani hobinya bermain surfing. Namun, malang nasib yang dialami Bethany saat seekor ikan hiu melahap habis lengan kirinya.
Kehilangan bagian dari tubuhnya tak membuat Bethany tepruruk. Ia justru bangkit dan kembali bermain surfing satu bulan kemudian. Bethany menuliskan pengalaman hidupnya dalam sebuah buku yang menginspirasi berjudul Soul Surfer: A True Story of Faith, Family, and Fighting to Get Back on the Board.
Sebelum kehilangan lengan kirinya, Bethany merupakan surfer yang pernah meraih juara pertama di pentas Rell Sun Menehune dan Open Women's Division of the NSSA di Amerika Serikat. Dan setelah kehilangan lengan kirinya tersebut, Bethany tetap berprestasi. Ia tetap sukses menjadi nomor 1 dengan menjuarai T & C Pipeline Women's Pro pada 2007 dan Surf 'n' Sea Pipeline Women's Pro pada 2014.
4. Melissa Stockwell
Melissa Stockwell merupakan perempuan dengan pangkat Letnan pertama dalam dunia militer Amerika Serikat. Melissa juga menjadi prajurit wanita pertama yang kehilangan anggota tubuhnya dalam Perang Irak.
Pada Maret 2014, Melissa dikirim ke Irak namun ia harus kehilangan kaki kirinya akibat terkena bom di Perang Irak. Meski akhirnya memiliki keterbatasan fisik, ia justru tak frustasi. Kemudian Melisaa bergabung dan berpartisipasi dalam olimpiade disabilitas, Paralympics.
Pada 2008, Melissa mengikuti nomor renang gaya kupu-kupu 100 meter, 100 meter gaya bebas, dan 400 meter gaya bebas, dan berhasil finis di urutan ke-6, 5 dan 4. Ia juga berhasil mengoleksi 3 medali emas dari ajang ITU Triathlon World Championships pada 2010, 2011, dan 2012.
5. Natalia Partyka
Natalia Partyka merupakan atlet tenis meja asal Polandia. Natalia terlahir tanpa lengan bawah tangan kanan. Meski memiliki keterbatasan fisik, Natalia justru mampu menorehkan prestasi gemilang di dunia tenis meja.
Natalia pernah meraih medali emas di kejuaraan Paralympics dan juga mencapai babak 32 besar di pentas tenis meja wanita di Olimpiade London 2012.