Deretan Kisah Misteri Tak Terpecahkan di Arena Olimpiade
Ajang Olimpiade sepanjang sejarah penyelenggaraanya terbagi menjadi dua yakni Olimpiade kuno dan Olimpiade modern yang mulai dipertandingkan sejak Komite Olimpiade Internasional (IOC) berdiri pada 1894.
Perubahan dari Olimpiade kuno ke modern dinilai banyak pihak banyak menghasilkan beberapa perubahan mendasar. Salah satu perubahannya ialah mulai dipertandingkannya Olimpiade musim dingin, Paralimpiade serta Youth Olympic Games.
Meski seiring dengan maju teknologi dan IOC berusaha menyelaraskan hal tersebut, sejumlah hal misterius tak terpecahkan pernah terjadi di arena Olimpiade.
Jelang pembukaan Olimpiade Rio de Janeiro yang berlangsung Jumat (05/08/16), INDOSPORT coba mengangkat kembali kisah-kisah misterius tersebut. Apa saja kisahnya? berikut ulasannya untuk pembaca setia INDOSPORT:
1. Amfetamin 'Dilegalkan'
Pada awal dimulainya Olimpiade modern awal abad ke-20, sejumlah atlet dari negara-negara peserta memiliki keleluasaan untuk menggunakan banyak obat kimia untuk meningkatkan perfomance mereka.
Misalnya pada 1904, peraih medali emas dari cabang marathon, Thomas Hicks mengaku diberi zat terlarang, strychnine oleh pelatihnya. Hicks mendapat sanksi? tidak dan medali emasnya tetap disahkan.
Penggunaan obat terlarang masih terus digunakan oleh atlet dan IOC sebagai lembaga yang mengatur Olimpiade membiarkan hal tersebut. Baru setelah pembalap sepeda asal Denmark, Knud Enemark meninggal dunia akibat ditemukan zat amfetamin di tubuhnya usai berlaga, IOC mulai berpikir.
Sejumlah federasi olahraga peserta Olimpiade sudah melarang penggunaan obat seperti amfetamin kepada atletnya, namun baru pada 1967, IOC baru membuat peraturan pelarangan penggunaan obat untuk meningkatkan kinerja atlet.
Beberapa pihak seperti dilansir dari CNN sempat mempertanyakan hal tersebut, mengapa dan alasan apa yang melatarbelakangi IOC begitu lama mengeluarkan pelarangan zat seperti amfetamin? Ini masih menjadi misterius hingga saat ini dan eks pejabat dan pejabat IOC saat ini belum ada yang mau buka suara.
2. Bau busuk dari kantor IOC
Berkaitan dengan soal 'pelegalan' amfetamin di awal dan pertengahan penyelenggaraan Olimpiade modern, sejumlah laporan menyebutkan bahwa pejabat-pejabat IOC ialah bandit.
Laporan olimpickgames.co.uk menyoroti ada dua presiden IOC di era modern saat ini yang membawa bau busuk ke kantor IOC. Mereka ialah Avery Brundage dan Juan Antonio Samaranch. Dua presiden ini memiliki rekam jejak buruk.
Brundage misalnya, ia adalah presiden IOC terlama, ia menjabat hampir 20 tahun. Sepanjang jadi presiden IOC, Brundage dikenal sebagai tokoh rasis dan antisemit. Sedangkan Samaranch disebut sebagai pelaku korup.
Ia bahkan diidentikan sebagai bagian dari rezim fasis Jenderal Franco dari Spanyol. Pada 1998 solam, sejumlah bawahan Samaranch menerima suap dari delegasi Salt Lake City untuk menangkan kota ini sebagai penyelenggara Olimpiade musim dingin 2002 silam.
Film dokumenter BBC berjudul Panorama menunjukan bagaimana pejabat IOC dan FIFA setali tiga uang. Mereka disebut mengatur soal kota mana yang jadi penyelenggara Olimpiade, tentu saja bayarannya uang dengan jumlah besar.
Bahkan walikota Paris, Bertrand Delanoe menyebut bahwa ada keterlibatan petinggi negara untuk tuan rumah Olimpiade. Bertrand bahkan menuduh Perdana Menteri Inggris, Tony Blair terlibat dalam penetapan London sebagai tuan rumah Olimpiade.
Lantas bagaimana kelanjutan kasus tersebut saat ini? masih tertutup kabut misterius.
3. Musim panas 1972 yang menakutkan
Olimpiade 1972 jadi sejarah kelam penyelenggaraan Olimpiade. Berlangsung di Munich, Jerman, Olimpiade ini banjir darah. 11 atlet Israel, 1 polisi Jerman dan lima pelaku penembakan tewas.
Peristiwa ini bermula dari aksi penyanderaan atlet Israel di tempat menginap mereka. Pada 05 September 1972 dini hari waktu setempat, delapan pejuang Palestina dibantu dua milisi kiri Jerman, mengendap-endap ke asrama atlet Olimpiade asal Israel di kawasan Furstenfledburch, pinggir kota Munich, saat itu masih di wilayah Jerman Barat.
Mereka berupaya menyekap belasan atlet, namun dalam prosesnya, seorang pegulat Yahudi dan pelatih angkat besi tewas tertembak karena melawan.
Akibat kurang koordinasi dan polisi lokal yang gugup, tembak menembak malah terjadi dan menewaskan seluruh sandera dan nyaris semua anggota September Hitam. Jerman Barat dikritik habis-habisan karena gegabah menangani kasus ini.
Jerman saat itu kebingungan dan kelabakan karena tidak ada laporan intelejen mereka yang menyebutkan bakal ada rencana serangan aksi teror. Pun soal siapa yang menjadi dalang aksi teroris ini masih jadi tanda tanya besar hingga saat ini.
Ada satu nama yang tersebut bahwa sosok Abu Daud, ialah tokoh di balik aksi penembakan kepada atlet Israel. Meski sebelum wafat pada 2010 lalu, Daud memang pernah mengeluarkan pernyataan terkait siapa yang bertanggung jawab.
Namun, pernyataan dari Abu Daud ini masih jadi bahan perdebatan antara faksi-faksi di pejuang pembebasan Palestina.
4. Motif tak terpecah pelaku bom
Tidak hanya 1972 terjadi aksi teror di Olimpiade, pada 27 Juli 1996. Terjadi ledakan bom yang guncang area Olimpiade yang saat itu berlangsung di Georgia, Amerika Serikat.
Ledakan terjadi dalam sebuah konser yang diisi band Jack Mack and the Heart Attack. Bom meledak sesaat setelah grup musik tersebut menyanyikan sebuah lagu.
Pada penyelidikan awal, Biro Investigasi Federal AS (FBI) menengarai seorang petugas keamanan sebagai tersangka pengeboman, yakni Richard Jewell. Namun ia kemudian dinyatakan bersih dari tudingan.
Pelaku sebenarnya akhirnya terkuak, yakni seorang pria bernama Eric Rudolph. Dia diketahui sebagai pengebom olimpiade berdasarkan kesaksian sepasang kekasih yang mengaku menjual bahan peledak kepada Rudolph.
Yang kemudian jadi misterius ialah soal motif dari pelaku. Rudolph yang sebelum dijatuhi hukuman mati dan kemudian jadi hukuman seumur hidup pun tak pernah mau mengatakan apa motivasi melakukan aksi bom di area Olimpiade 1996.
Saat persidangan seperti dilansir dari CNN, Rudolph yang mengucapkan permintaan maaaf kepada keluarga korban.