10 Momen Luar Biasa Olimpiade Rio de Janeiro
Perhelatan olahraga memang selalu menghadirkan momen yang menarik. Momen-momen unik diciptakan dari setiap pihak yang terlibat di Olimpiade 2016.
Hasil manis serta kegagalan dapat mewarnai sejarah dalam perhelatan olahraga. Mulai dari kemeriahan upacara pembukaan hingga tercipta rekor-rekor dunia menjadi sorotan seluruh dunia.
Misalnya, dari upacara pembukaan kehadiran para kontingen setiap negara peserta bisa mencuri perhatian publik.
Ketika berkompetisi, para atlet peserta juga banyak yang menciptakan momen-momen bersejarah bagi negaranya atau juga bagi dunia.
Dari beberapa sumber dan pemberitaan di media sosial, INDOSPORT merangkum kejadian-kejadian yang tidak biasa dari Olimpiade 2016.
Berikut ini 10 momen yang patut disimak dari salah satu ajang kompetisi olahraga tertua dunia.
1. Upacara Pembukaan Penuh Pujian dan Kritikan
Menjadi tuan rumah perhelatan sebesar Olimpiade tentu memerlukan totalitas dan dedikasi agar negara tidak menanggung malu.
Upacara pembukaan yang menghabiskan triliunan rupiah itu untuk sebagian orang sangat absurd.
Dengan tema yang tak jelas, panitia upacara pembukaan Olimpiade memasukkan peringatan soal lingkungan.
Bahkan, ada nyamuk raksasa yang justru mengingatkan publik soal bahaya virus Zika yang sedang melanda Brasil.
Penampilan nyamuk raksasa yang menuai kritikan di upacara pembukaan Olimpiade 2016.
Belum lagi, aksi pembawa bendera asal Tonga yang bertelanjang dada seraya memamerkan otot tubuhnya yang dilumuri terlalu banyak minyak sehingga menjadi mengkilat.
Pita Taufatofua adalah atlet judo Tonga yang menyita perhatian tersebut. Bahkan kilauan model seksi asal Brasil Gisele Bundchen tak mampu menyaingi visual luar biasa yang diberikan Taufatofua.
Pita Taufatofua saat membawa bendera negara Tonga di upacara pembukaan Olimpiade 2016.
Namun, upacara pembukaan tertolong dengan kemeriahan yang dibawa oleh ribuan penari samba serta permainan lampu dan kembang api.
Secara keseluruhan, Brasil semestinya mampu memberikan lebih dari yang telah disuguhkan sebagai tuan rumah Olimpiade 2016.
2. Kontras Perbedaan Budaya Tak Jadi Masalah
Diikuti oleh ratusan negara dari seluruh penjuru dunia tentu membuat Olimpiade diwarnai dengan berbagai kebudayaan.
Pada perhelatan kali ini terdapat satu momen di mana kontras dua budaya tampak jelas di sebuah pertandingan voli pantai.
Doaa El Ghobashy adalah atlet voli pantai Mesir yang menarik perhatian publik. El Ghobashy memilih menggunakan pakaian tertutup lengkap dengan hijab.
Ekspresi Doaa Elghobashy saat mencetak skor di laga Olimpiade 2016.
Penampilan yang tak biasa untuk cabor voli pantai di mana para atlet umumnya memakai atasan bikini dan celana pendek ketat.
Peraturan dari Persatuan Voli Internasional (FIVB) yang mengharuskan pemain voli berpakaian terbuka sudah berubah sejak 2012.
3. Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan Bersinar untuk Indonesia
Indonesia berhasil mendapatkan medali di hari pertama perhelatan Olimpiade 2016.
Sri Wahyuni Agustiani menjadi atlet Indonesia pertama yang berhasil mempersembahkan medali di Rio de Janeiro, Brasil.
Wanita asal Bandung itu sukses meraih perak dari cabor angkat besi dengan total angkatan 192 kilogram.
Disusul beberapa hari kemudian, giliran lifter putra Indonesia yang menyumbangkan medali. Eko Yuli Irawan berhasil menyabet medali perak dengan total angkatan seberat 312 kilogram.
Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni ketika disambut kembali ke tanah air.â
Sri dan Eko sudah kembali ke tanah air dan membagikan rasa haru dan senang ketika berhasil mengharumkan nama bangsa.
Keduanya juga menyempatkan berbagi cerita secara eksklusif dengan INDOSPORT. Hasil pertemuan dengan Sri dan Eko bisa klik link di bawah ini:
WAWANCARA EKSKLUSIF Sri Wahyuni Atlet Putri Peraih Medali Perdana Indonesia di Olimpiade
4. Atlet-Atlet Tim Pengungsi Ukir Sejarah
Ada sejumlah atlet yang berkompetisi tanpa membawa bendera negara. Mereka adalah atlet-atlet yang mengalami tekanan di negara masing-masing sehingga harus melarikan diri.
Menjadi rakyat pengungsi tidak membuat para atlet ini berkecil hati. Dukungan pun diterima dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mengizinkan mereka membawa bendera tim pengungsi.
Kontingen tersebut terdiri dari 10 atlet dari Suriah, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, dan Ethiopia.
Para atlet tim pengungsi berpose di depan Christ The Redeemer, Rio de Janeiro.
Meski belum meraih medali hingga saat ini, Angelina Nadai Lohalith dan kawan-kawan pantang menyerah dan terus berjuang di tiap kompetisi yang mereka ikuti.
Salah satu wakil tim pengungsi, perenang Yusra Mardini mencatat rekor baik di babak heat 100m gaya dada.
Ketika menyelamatkan diri dari kondisi negara Syria, pemudi 18 tahun itu berenang selama tiga jam.
Ada pun para atlet tanpa bendera ini bersaing di kompetisi seperti renang, atletik, dan judo.
5. Kolam Loncat Indah Sempat Terlihat Menjijikkan
Kolam renang yang digunakan untuk pertandingan loncat indah sempat mengalami gangguan. Pasalnya, air di kolam berubah warna, dari biru jernih menjadi hijau pekat yang menjijikkan.
Pihak panitia sempat kebingungan karena perubahan warna air itu. Para atlet yang dijadwalkan berkompetisi tak bisa menghindari dan tetap berenang di air keruh tersebut.
Kondisi buruk air di kolam loncat indah Olimpiade Rio de Janeiro.
Namun, setelah beberapa hari kolam pun ditutup dalam waktu satu hari untuk pemeriksaan lebih lanjut. Penyebab perubahan warna air kolam ternyata karena hidrogen peroksida yang dicampurkan ke dalam air.
Untuk menjernihkan air kolam biasanya digunakan zat kimia klorin atau hidrogen peroksida. Tapi, panitia Olimpiade melakukan kesalahan dengan memasukkan keduanya ke dalam kolam loncat indah.
Reaksi kimia kedua zat itulah yang menjadi penyebab utama air kolam berubah menjadi hijau.
Untungnya, tidak ada atlet yang mengeluhkan sakit parah akibat air kolam yang tercemar itu.
6. Cedera Memilukan Atlet Angkat Besi
Atlet angkat besi Armenia mengalami cedera yang mengerikan saat gagal melakukan angkatan di Olimpiade 2016.
Andranik Karapetyan memelintir tangannya saat mencoba mengangkat beban seberat 195 kilogram. Juara Eropa yang turun di kelas 77 kilogram tersebut mengalami dislokasi siku.
Saat itu dia sedang berkompetisi untuk ajang clean and jerk.
Kejadian yang dialami Karapetyan ini mengingatkan kita kepada cedera yang dialami pesepakbola Demba Ba yang mengalami dislokasi pada bagian kaki.
Karapetyan sempat membuat penonton dan publik histeris karena menyaksikan kemalangannya itu.
7. Michael Phelps: 'Tokoh Antagonis' Bertabur Emas Olimpiade
Perenang Amerika Serikat menyuguhkan tak hanya penampilan brilian saat berkompetisi namun juga di luar arena renang.
Michael Phelps memperoleh total lima medali emas dan satu perak untuk Negeri Hollywood.
Dia hanya kalah dari seorang perenang muda asal Singapura, Joseph Schooling di kompetisi 100m gaya dada.
Michael Phelps menghampiri keluarganya setelah meraih emas Olimpiade.
Perolehan medali pria 31 tahun itu mencetak sejarah baru di cabang olahraga renang. Phelps mencatat total 23 medali di seluruh Olimpiade yang ia ikuti.
Selain itu, ayah dari Boomer Robert Phelps itu menjadi sensasi di internet karena memberikan ekspresi muka masam saat menatap perenang Afrika Selatan Chad le Clos.
Hasil editan wajah masam Michael Phelps yang beredar di internet.
Wajah Phelps bahkan diabadikan menjadi sebuah tato oleh penggemarnya di Toronto, Kanada.
8. Usain Bolt: Manusia Tercepat Yang Jenaka
Nama Usain Bolt terpatri di catatan sejarah atletik dunia sejak Olimpiade Beijing 2008. Kala itu, dia meraih medali emas dan memecahkan rekor dunia untuk lari 100m.
Tak hanya itu, Bolt juga meraih emas pada nomor lari 200m dan 400m yang berbuah hattrick medali emas. Pria Jamaika itu dinobatkan sebagai manusia tercepat sejagad raya.
Dia berhasil mempertahankan kehebatannya di Olimpiade London 2012.
Kali ini, pria berusia 29 tahun itu masih mampu membuktikan bahwa dirinya adalah sprinter legendaris.
Dia kembali meraih emas di kompetisi 100m dan menuliskan namanya di sejarah atletik dengan medali emas dari tiga Olimpiade beruntun.
Usain Bolt menjadi sprinter yang belum bisa disaingi oleh pelari lain sejak 2008.
9. Monica Puig: Si Cantik Yang Bikin Sejarah
Petenis cantik Monica Puig mencetak sejarah dengan peraihan medali emas di kompetisi tunggal putri Olimpiade.
Puig tidak termasuk dalam daftar atlet favorit untuk peraihan posisi di podium.
Di pertandingan final, Puig berhasil menaklukan tunggal putri nomor dua dunia. Puig menang dari Angelique Kerber, 6-4 4-6 6-1.
Selebrasi saat menang membuat wajahnya menjadi sorotan. Wanita 22 tahun itu meloncat kegirangan setelah bola yang dipukul Kerber jatuh ke luar lapangan.
Hasil yang mengantarkannya menjadi atlet pertama yang menyumbangkan emas pada kompetisi individual untuk Puerto Rico.
Sedikit informasi tambahan terkait pengucapan nama petenis cantik ini. Nama belakang Puig dibaca puch bukan pu-ik.