x

Kisah Pahit Panjat Pinang, dari Nasi ke Televisi

Kamis, 18 Agustus 2016 14:46 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra

Tiga sampai empat orang saling menopang. Bersangga pada sebuah kayu pinang yang berdiri tegak.

Wajah mereka sudah berlumur lumpur dan oli. Orang terdekat pun tak lagi mengenali.

Peluh yang basah tak menyurutkan langkah hati mereka untuk sampai ke puncak. Berbagai hadiah seperti televisi, radio, hingga sepeda mini telah menanti di pucuk pinang tertinggi.

Sementara di sisi lain, riuh rendah para penonton menyalak riang. Sebagian menyemangati tim mereka, sebagian lagi hanya tertawa melihat tim bertanding yang kepayahaan.


Panjat pinang kerap diselenggarakan tiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia.

Lumuran lumpur dan oli, serta jatuh-bangkit peserta memang menjadi hiburan menarik dalam panjat pinang. Tidak heran, olahraga ini menjadi salah satu aksi yang dinanti pada setiap perayaan kemerdekaan.

Tak ada yang menduga bahwa heroisme para peserta panjat pinang dalam aksi tersebut, justru diilhami oleh hiburan para penjajah saat masa revolusi. Saat itu, panjat pinang menjadi hiburan 'murah' bangsa Belanda di hari ulang tahun Ratu Wilhelmina II.

Bagaimana kisah penyelenggaraan olahraga rakyat ini di masa penjajahan? Berikut hasil ulasan dari INDOSPORT;


1. Kegiatan Asli Warga Asia

Panjat pinang pertama kali populer di dataran China.

Jauh sebelum masuk ke Indonesia, panjat pinang sebenarnya sudah terlaksana di China. Meski tidak menggunakan batang pinang, namun olahraga ini cukup populer di dataran Fujian dan Guangdong.

Olahraga ini pertama kali diselenggarakan pada masa Dinasti Ming di tahun 1386-1644 M. Olahraga ini dilakukan tahunan dalam penyelenggaraan festival tahunan.

Pada masa Dinasti Qing, olahraga ini sempat dilarang. Pasalnya, olahraga ini sempat menimbulkan korban jiwa.

Tak hanya di dataran China, panjat pinang juga memasyarakat di Taiwan. Panjat pinang dilakukan saat masyarakat tengah menggelar festival Zhong Yuan.

Festival ini juga dikenal sebagai festival hantu lapar. Dalam kepercayaan mereka, pada bulan ketujuh setiap kalender China, pintu neraka akan terbuka.

Untuk itu, masyarakat akan menyediakan berbagai hadiah bagi para hantu. Selain itu berbagai acara seperti panjat pinang juga diselenggarakan sebagai hiburan.

Pada masa pendudukan Jepang, panjat pinang kembali diselenggarakan. Namun, pasak pinang dibuat lebih tinggi dan bisa setara dengan bangunan 3 lantai.


2. Hiburan Murah Orang Belanda

Panjat Pinang

Wajah kusam berlumur lumpur, dengan celana pendek dan bertelanjang dada menjadi pemandangan umum di medio 1920 hingga 1930an. Mereka saling tindih, menopang satu sama lain untuk meraih pucuk sebuah tonggak tegak.

Tonggak tegak ini merupakan sebuah bongkah kayu pinang. Tingginya mungkin berkisar antara 3-4 meter. Pada pucuknya, telah tersedia bahan pangan seperti celana, baju,nasi dan lauk pauk.

Panjat pinang, demikian orang mengenalnya. Gambaran peristiwa tadi berlangsung saat para penjajah tengah melangsungkan perayaan hari ulang tahun pemimpin mereka, Ratu Wilhelmina II.


Salah satu aksi panjat pinang di kota Makassar pada masa penjajahan Belanda.

Perayaan ini berlangsung setiap tanggal 31 Agustus. Kala itu, panjat pinang menjadi hiburan murah bagi para 'kompeni', namun hadiah yang disediakan merupakan barang mewah bagi pribumi.

Dengan iming-iming hadiah menarik, para penjajah meminta orang-orang pribumi untuk ikut serta. Setengah diancam, mereka pun terpaksa patuh untuk ikut berlaga.


Para pribumi yang berebut hadiah menjadi bahan tertawaan orang-orang Belanda.

Dalam perjalanannya, panjat pinang justru menjadi salah satu olahraga rakyat yang kerap dipertandingkan dalam agenda peringatan hari kemerdekaan. Sama seperti tarik tambang, olahraga ini menjadi salah satu favorit masyarakat, tidak hanya untuk ikut serta tapi juga sebagai penonton setia.

Hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus memang dekat dengan peringatan 'besar' orang Belanda. Hal ini bisa jadi sebuah 'ingatan pendek' bangsa kita yang mencoba keseruan lama dengan sentuhan berbeda hingga hari ini.


3. Kontroversi di Balik Tradisi

Olahraga tradisional panjat pinang.

Kisah kelabu panjat pinang tertutup oleh semangat hiburan yang memasyarakat. Sejauh ini, panjat pinang terus berkembang dengan berbagai hadiah menggiurkan dari masa ke masa.

Jika pada masa penjajahan , nasi dan bahan sandang menjadi penggoda, saat ini hadiah yang ditawarkan semakin menarik, seperti beragam alat elektronik.

Panjat pinang menuai kisah sukses dari drama satir masyarakat. Berbekal semangat melatih kerjasama, menutup kisah pilu para pribumi yang menjadi hiburan kaum penjajah.

Olahraga ini pun sempat menuai kritik dari kalangan sejarawan. Asep Kambali dari Komunitas Historia Indonesia, salah satunya.


Salah satu lomba panjat pinang menjadi aksi favorit masyarakat Indonesia setiap tahunnya.

Asep mengatakan bahwa panjat pinang kurang relevan dilakukan saat ini. Pasalnya, olahraga ini tak memberikan pelajaran soal nasionalisme dan patriotisme.

"Apa yang menjadi keprihatinan KHI dan mereka para pengusul dihapuskannya panjat pinang dan permainan 17-an lain adalah karena ada gejala memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan anak muda yang ditandai rendahnya kesadaran sejarah," tulis Asep dalam blog pribadinya.

Dalam sebuah kesempatan, Asep juga pernah mengkritik keras soal kegiatan panjat pinang dalam perayaan hari kemerdekaan Indonesia. 

"Saya punya foto tahun 1920, di sana ada orang-orang Belanda yang ketawa-ketawa melihat panjang pinang," jelas Asep seperti dikutip dari Detik.com.

 Meskipun menjadi sebuah kontroversi, nyatanya panjat pinang masih berlangsung hingga hari ini. Bahkan sebagian beranggapan bahwa perayaan hari kemerdekaan tidak ramai jika acara ini tidak diselengarakan.

IndonesiaTarik TambangOlahraga TradisionalPanjat Pinang

Berita Terkini