x

10 Momen Kontroversial dari Olimpiade Rio 2016

Selasa, 23 Agustus 2016 16:14 WIB
Editor: Arief Rahman Hakim

Olimpiade Rio 2016 telah pergi, dan akan bertemu lagi empat tahun mendatang di Olimpiade Tokyo 2020. Kontingen Amerika Serikat muncul sebagai pemenang di Olimpiade Rio 2016, dengan koleksi 121 medali, diikuti Britania Raya di urutan dua dan Tiongkok di peringkat tiga.

Keringat perjuangan para atlet untuk meraih sebiji medali, bukan satu-satunya cerita dari Olimpiade Rio 2016. Pasalnya banyak cerita menarik lainnya dari Brasil, seperti momen-momen kontroversial yang terjadi dan terus menjadi buah bibir hingga saat ini.

Momen kontroversial itu bisa beranekaragam dari cerita unik, tingkah laku atlet, hingga aksi protes pelaku olahraga kala ofisial pertandingan dinilai tidak memberi keputusan yang adil. Ya, Brasil punya cerita, dan berikut 10 cerita dari momen kontroversial Olimpiade Rio 2016, yang dirangkum oleh INDOSPORT:


1. Lakukan Protes, Pelatih Gulat Telanjangi Diri

Pelatih Byambarenchin Bayoraa melakukan aksi protes menelanjangi dirinya sendiri

Perebutan medali perunggu berlangsung di cabang olahraga gulat, antara pegulat Uzbekistan, Ikhtiyor Navruzov dengan pegulat Mongolia, Mandakhnaran Ganzorig. Jelang akhir laga, Ganzorig berlari-lari melakukan selebrasi karena yakin memenangi pertandingan.

Namun Navruzov mengajukan banding dan menilai Ganzorig berlari-lari karena menghindar atau melarikan diri. Banding itu diterima ofisial pertandingan, pada akhirnya Navruzov menang dengan skor 8-7. Keputusan ofisial itu membuat emosi pelatih Ganzorig, Byambarenchin Bayaraa, yang melakukan aksi protes menelanjangi dirinya sendiri. Ia melepaskan baju hingga celana, dan membanting sepatu di depan hadapan ofisial pertandingan.

Persatuan Gulat Dunia pun tengah menyelidiki kasus tersebut. Namun nasi telah menjadi bubur, dan Mongolia gagal meraih satupun medali.


2. Pengakuan Palsu Perenang Amerika Serikat, Ryan Lochte

Ryan Lochte (USA) membuat pengakuan palsu

Perenang Amerika Serikat (AS) berusia 32 tahun, Lochte, membuat kegaduhan di tengah berlangsungnya Olimpiade Rio 2016. Kegaduhan itu sampai melibatkan polisi dan hakim Negeri Samba.

Semula berawal dari pengakuan Lochte, yang mengaku dirinya ditodong polisi dan hartanya dirampok saat tengah berkendara pulang menuju kampung atlet, bersama rekan setimnya menggunakan taksi. Namun di pengakuan kedua, Lochte kembali membeberkan bahwa penodong itu tidak mengarahkan pistol menuju kepalanya.

Hakim pun mengeluarkan surat perintah agar Lochte dan teman-temannya ditahan di Brasil, dan tidak diizinkan pulang ke AS. Setelah mendapatkan keterangan dari rekan Lochte, fakta terungkap bahwa ia sebenarnya dalam keadaan mabuk dan merusak properti di POM bensin.

Lochte hanya tidak ingin mengakui bahwa ia merusak properti tersebut dan berbohong. Namun rekaman ulang CCTV tidak bisa berbohong, dan Lochte tertangkap basah melakukannya.


3. Atlet Galah Prancis Disoraki Suporter Brasil

Renaud Lavillenie terus disoraki suporter Brasil

Intimidasi konstan terus dilakukan suporter Brasil dalam perlombaan lompat galah, antara atlet tuan rumah, Thiago Braz da Silva, dan pemenang medali emas Olimpiade 2012 asal Prancis, Renaud Lavillenie. Thiago sedianya tidak diunggulkan meraih medali, namun kans itu tiba-tiba muncul, dan suporter tuan rumah pun coba memberikannya dukungan.

Tak pelak Lavillenie menjadi sasaran suporter Brasil, yang terus menyorakinya tiap kali ia beraksi, dari mengambil ancang-ancang hingga momen melewati galah. Sorakan itu pun sukses mengintimidasi Lavillenie, yang akhirnya meraih medali perak.

Sorakan saat perlombaan berlangsung merupakan hal yang wajar terjadi. Namun suporter Brasil mencoreng nilai-nilai fair play, kala mereka terus melakukannya, meski Thiago sudah dipastikan meraih medali emas. Lavillenie sampai menangis, dan harus dibujuk oleh Thiago, untuk menenangkan diri.


4. Atlet Judo Mesir Tolak Jabat Tangan Atlet Israel

Islam El Shehaby (Mesir) menolak untuk berjabat tangan dengan pegulat dari Israel setelah kalah kompetisi judo 100 kg di Rio.

Momen yang menarik perhatian dunia, bahkan diselidiki oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). Kejadian terjadi di fase 32 besar yang mempertemukan atlet judo Mesir, Islam El Shehaby dengan atlet judo Israel, Or Sasson.

El Shehaby menolak menjabat tangan Sasson, meski Sasson mengejar dan menyodorkan tangannya kepada El Shehaby. IOC pun langsung mengambil tindakan, memulangkan El Shahaby. Momen kontroversial ini terjadi akibat sejarah politik dua negara.

El Shehaby pun bersikukuh mempertahankan prinsipnya, dan menegaskan tidak menjaba tangan Sasson karena ia bukan temannnya.

“Menjabat tangan lawan Anda bukan kewajiban yang tertulis di peraturan judo. Itu terjadi antara teman, dan dia bukan (Sasson) teman saya. Saya tak punya masalah dengan orang Yahudi atau agama serta kepercayaan lainnya. Tapi karena alasan pribadi, Anda tak bisa meminta saya menjabat tangan siapapun dari negara ini (Israel), terutamanya di depan dunia,” papar Sasson.


5. Peluru Bertebaran di Arena Berkuda

Peluru yang berjatuhan di arena berkuda Olimpiade Rio 2016

Peluru dan bunyi tembakan biasa didengar di arena tembak. Namun peluru nyasar ditemukan dekat dengan pusat perkumpulan media, yang berada di arena berkuda. Dua peluru mengenai arena pada dua hari yang berbeda, selama Olimpiade Rio 2016 berlangsung.

Arena berkuda itu sendiri berlokasi di dekat pusat militer dan juga geng criminal Brasil, Pedreira dan Chapadao. Kedua geng itu berselisih satu sama lain, dan tengah berperang obat-obatan terlarang.

Kedua peluru ditembak dari jarak yang jauh, dan menurut juru bicara Rio, peluru itu tidak ditujukan kepada arena berkuda, melainkan kepada komunitas geng yang tengah berselisih itu. Namun penangkapan langsung dilakukan pihak keamanan Brasil, beserta senjata yang digunakan untuk menembakan peluru tersebut.


6. Kolam Renang Tiba-Tiba Berwarna Hijau

Kolam renang yang tiba-tiba berwarna hijau

Tidak ada angin, tidak ada badai. Kolam renang yang digunakan untuk loncat indah tiba-tiba berubah warna menjadi hijau. Warna hijau itu sangat kontras terlihat dengan warna biru muda kolam renang yang berada di sebelahnya, dan digunakan untuk polo air.

Tidak ada yang tahu persis penyebab warna kolam yang berubah hijau itu. Upaya dan berbagai riset dilakukan untuk menyelidikinya, namun seorang pakar perawatan kolam renang mengungkapkan, bahwa perubahan warna itu terjadi karena buruknya sistem kebersihan kolam renang.


7. Tim Britania Raya Didiskualifikasi di Nomor Lari Estafet 4x400 Meter

Tim lari Britania Raya didiskualifikasi

Kuartet lari Britania Raya, Nigel Levine, Delano Williams, Matt Hudson-Smith, dan Martyn Rooney merayakan kelolosan mereka final lari estafet 4x400 meter. Namun ofisial pertandingan tiba-tiba menganulir hasil tersebut, dan mendiskualifikasi Tim Britania Raya.

Hal itu terjadi lantaran ofisial melihat aksi illegal antara Hudson-Smith dan Rooney. Saat tengah memberikan tongkat estafet, Rooney dinilai telah berlari terlebih dahulu sebelum menerima tongkat estafet itu.

Tidak ada tayangan ulang yang diberikan kepada publik, karena video itu ditahan ofisial pertandingan. Namun bukti rekaman ulang di televisi membuktikan, tidak ada pelanggaran dari Tim Britania Raya. Juru biara atlet Britania Raya pun menjelaskan, bahwa ofisial pertandingan tetap bersikukuh kepada keputusan mereka, meski tidak ada bukti nyata dari rekaman ulang balapan.


8. Terbukti Menggunakan Doping, Beberapa Atlet Rusia Diperbolehkan Bertanding

Beberapa atlet Rusia tetap diperbolehkan bertanding meski positif menggunakan doping

Dunia terkejut mengetahui IOC memperbolehkan beberapa atlet rusia untuk mengikuti Olimpiade Rio 2016, meski mereka terbukti menggunakan doping. Kasus penggunaan doping Rusia memang sudah santer dibicarakan sebelum Olimpiade dimulai, dan diangkat ke permukaan oleh dokumentasi yang dikeluarkan Jerman.

Federasi Anti Doping Dunia (WADA) pun memberikan jawaban untuk melarang atlet Rusia berpatisipasi di Olimpiade. Namun beberapa atlet Rusia tetap berpatisipasi di Olimpiade, dengan persyaratan atlet Rusia yang berlatih di luar Rusia, boleh mengikuti Olimpiade. Sementara atlet yang berlatih di dalam Rusia, dilarang ikut Olimpiade.

Alhasil salah satu atlet terbaik mereka di cabang olahraga lompat galah, Yelena Isinbaeva, tidak dapat mengikuti Olimpiade, meski ia telah meraih tiga medali di Olimpiade. Bahkan bandingnya kepada CAS atau pengadilan olahraga tertinggi dunia, tidak membantunya bermain di Olimpiade.


9. Pegulat India Dilarang Bertanding Sejam Sebelum Laga Berlangsung

Narsingh Yadav diberi larangan bermain sejam sebelum ia bertanding

Ketidaktegasan Badan Anti Doping Nasional (NADA) dan WADA ‘mempermalukan’ atlet gulat asal India, Narsingh Yadav. Impiannya meraih medali di Olimpiade berakhir, sejam sebelum ia bertanding, karena WADA tiba-tiba mengajukan banding kepada Yadav, dan CAS memberikannya larangan bermain selama empat tahun.

Padahal sebelumnya Yadav sudah diberi lampu hijau mengikuti Olimpiade, setelah terbukti suplemen berisi kandungan ilegal yang dikonsumsi Yadav, merupakan sabotase pihak lain. Federasi Gulat India dan NADA pun mengizinkannya bertanding di Brasil.

Namun yang terjadi Yadav urung bertanding, saat laga akan berlangsung sejam kemudian. Kasus ini tak pelak membuat India emosi, dan mengungkapkan kekecewaan mereka atas kebimbangan NADA, untuk memberi keputusan tegas.


10. Komentar Pedas Sharp kepada Semenya

Caster Semenya (kiri) dan Lynsey Sharp (tengah)

Pada ajang lari nomor 800 meter putri. Pelari asal Afrika Selatan, Caster Semenya, memenangi medali emas dengan catatan waktu 1 menit 55 detik. Diikuti di tempat berikutnya pelari Kanada, Melissa Bishop, dan juga pelari Britania raya, Lynsey Sharp.

Bishop yang finis di tempat keempat menangis dan dihibur oleh Sharp, juga oleh Semenya. Namun Sharp tiba-tiba mengucapkan komentar pedas mengenai Semenya, yang memiliki level testoteron laiknya pria.

Sharp seakan tidak suka dengan kemenangan Semenya, dan menilainya ‘menang curang’ karena memiliki kekuatan fisik seperti halnya pria. Sontak, komentar itu dikomentari banyak orang via Twitter dan Sharp mempermalukan dirinya, dengan tidak menerima kekalahan yang ia alami.

Multi-EventIn Depth SportsOlimpiade Rio 2016Ryan Lochte

Berita Terkini