Pahlawan Tanpa Mahkota Itu Bernama Lionel Messi dan Lee Chong Wei
Hari itu, Sabtu (20/08/16), Lee Chong Wei begitu percaya diri saat melangkah masuk ke dalam Riocentro - Pavillion 4, tempat berlangsungnya laga final bulutangkis tunggal putra, untuk melawan andalan China, Chen Long.
Pebulutangkis tunggal putra andalan Malaysia itu berambisi menghentikan ‘kutukan’ medali perak yang selalu menghantuinya, terutama dalam dua edisi Olimpiade beruntun yakni Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012.
Sukses membuat Lin Dan menderita di babak semifinal lewat laga ketat 3 set, 15-21, 21-11, 22-20, sebenarnya menjadi modal berharga Chong Wei untuk maju meraih medali emas.
Wajar saja, Lin Dan merupakan musuh bebuyutan yang sukses memupus mimpi Chong Wei untuk meraih medali emas di Olimpiade 2008 dan 2012.
Sayang, menyingkirkan Lin Dan dengan perkasa, tak serta merta membuat langkah Chong Wei menjadi mudah di partai puncak. Pebulutangkis 33 tahun itu malah dihantam tak berdaya oleh rekan senegara Lin Dan, Chen Long dua set langsung, 18-21, 18-21.
Lee Chong Wei tak sanggup menahan tangis saat kembali meraih medali Perak Olimpiade Rio 2016
Chong Wei akhirnya hanya bisa menahan tangis. Ia kembali gagal dalam perburuan medali emas dan harus kembali menerima ‘kutukan’ sebagai pemain nomor satu yang meraih medali perak dalam 3 edisi Olimpiade beruntun (2008, 2012, dan 2016).
Beruntungnya, Chong Wei tak sendiri merasakan beban berat saat tak pernah menjuarai kejuaraan dunia, terlebih sekelas Olimpiade. Ada Lionel Messi yang bahkan sudah lebih dulu merasakan situasi yang sama seperti apa yang dirasakan Chong Wei.
INDOSPORT akan mengulas cerita pilu dan pahit Chong Wei yang juga dirasakan oleh mega bintang Barcelona dan tim nasional Argentina, Lionel Messi.
Lionel Messi gagal meraih gelar Copa America 2015 bersama Argentina
1. Chong Wei dan Messi Terlahir Sebagai Nomor 1
Konsistensi dan kemampuan di atas rata-rata, membuat Chong Wei lahir dan tumbuh sebagai pebulutangkis nomor 1 dunia selama bertahun-tahun.
Sejak era Taufik Hidayat, Chong Wei memang dikenal sebagai pemain yang konsisten secara penampilan, meski fisik terus dimakan usia.
Predikat sebagai nomor 1 dunia diraih Chong Wei dengan cara yang tak mudah. Ia secara terus menerus berhasil menggondol gelar dari ajang super series. Di sana, Chong Wei seperti tak punya lawan sepadan.
Namun, kekuatan Chong Wei seakan runtuh saat ia menginjakkan kakinya di berbagai turnamen besar. Turnamen yang menjadi ukuran kesuksesan tertinggi bagi seorang pebulutangkis dunia.
Nyatanya, Chong Wei tampil tak buruk-buruk amat di turnamen-turnamen besar tersebut. Chong Wei bahkan selalu melangkah ke partai final di pentas Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Asian Games, serta Piala Thomas pada ajang beregu.
Sialnya, meski sudah menapakkan kaki di partai pamungkas, Chong Wei dikutuk tak pernah mendapatkan emas. Medali perak selalu menjadi ganjaran yang dianggap tak setimpal untuk seorang pemain hebat seperti Chong Wei.
Begitu pula dengan Lionel Messi. Lahir dan tumbuh sebagai pesepakbola nomor satu dunia, La Pulga tak sekalipun mengangkat trofi tertinggi, seperti Copa America dan Piala Dunia bersama negaranya.
Anehnya, pemain berusia 29 tahun itu justru meraup segudang prestasi bersama Barcelona. Total 29 trofi di semua kompetisi, 5 trofi pemain terbaik dunia (Ballon d’Or) dan penghargaan individu lainnya berhasil digondol Messi.
2. Kutukan Putra Perak yang Selalu Raih Perak
Terlalu naif memang jika mengaitkan hal-hal yang mustahil ke dalam rekam jejak Chong Wei di dunia bulutangkis. Namun yang jelas, sampai detik ini Chong Wei sudah dianggap sebagai jagoan medali perak.
Chong Wei lahir di Bagan Serai, yang merupakan bagian dari wilayah Perak di Malaysia pada 21 Oktober 1982 silam. Ya, Perak yang kelak menuntun Chong Wei untuk terus meraih medali perak di sepanjang hidupnya.
Entah kebetulan atau tidak, Perak tanah kelahiran Chong Wei akhirnya benar-benar menggambarkan sosok Chong Wei.
Seorang putra asal Perak, yang besar sebagai raja bulutangkis dengan pencapaian tertinggi hanya medali perak. Rasanya tak adil memang, karena Chong Wei adalah talenta hebat di bumi.
3. Messi dan Chong Wei, Dua Pahlawan Tanpa Mahkota
Pahit dan pilu bahkan sudah lebih dulu dirasakan Chong Wei. Di ajang Olimpiade saja, Chong Wei sudah sejak 2008 menahan rasa sakit yang bergejolak di dalam hatinya hingga saat ini tahun 2016.
Bahkan tak tanggung-tanggung, Chong Wei dua kali dibuat Lin Dan merasakan sakit dan tak berdaya, saat dikalahkan di laga final Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012.
Namun, baik Chong Wei maupun Messi tetap saja merasakan kepahitan yang sama yakni gagal meraih puncak tertinggi dari kejuaraan dunia bersama negaranya.
Meski negaranya Malaysia berstatus sebagai negara bulutangkis, Chong Wei yang dianggap pemain terbaik Negeri Jiran, justru tak mampu mempersempahkan gelar tertinggi.
Ironisnya, di tengah momentum Chong Wei yang berstatus pebulutangkis nomor satu dunia, Malaysia justru belum pernah memiliki satu pun gelar juara dunia dalam sejarah bulutangkis.
Akhirnya, kedua atlet penuh talenta serta konsisten ini hanya bisa kita panggil sebagai pahlawan tanpa mahkota. Dua sosok bergelimang bakat hebat yang hanya mampu menjadi yang kedua di puncak dunia.