x

Deretan Film Genre Olahraga yang Mengharukan

Minggu, 4 September 2016 12:10 WIB
Editor:

Film tentang olahraga yang terbaik ialah yang kisahnya tentang manusia dan porsi olahraganya lebih sedikit dari yang dibayangkan. Ungkapan itu dikatakan oleh aktor Hollywood yang sering bermain di film bergenre olahraga, Kevin Costner. 

Sejumlah rumah produksi Hollywood memang cukup sering merilis film bergenre olahraga. Mulai dari sepakbola, tinju, hingga lari diangkat dalam layar lebar. 

Namun dari sejumlah film olahraga yang sudah rilis, cukup sedikit yang mengangkat kisah mengharukan seorang atlet olahraga. Sisi lain si atlet, bagaimana kisah si atlet memulai kariernya, bagaimana si atlet bangkit dari keterpurukan, dan kisah-kisah lainnya yang menggambarkan atlet juga manusia. 

Berikut 4 film bergenre olahraga yang mengharukan versi INDOSPORT:


1. Southpaw

Adegan dalam film Southpaw saat Billy Hope bercengkrama dengan sang anak, Leilla Hope.

Bagi pecinta film bergenre action, olahraga, dan drama tentu sangat senang dengan film yang rilis di Indonesia pada 29 September 2015 lalu. 

Film ini mengangkat kisah tentu hidup seorang petinju bernama Billy 'The Great' Hope yang diperankan oleh aktor, Jake Gyllenhaal. Hope dalam film itu berstatus sebagai juara kelas ringan yang kariernya berantakan karena sang istri tewas terbunuh. 

Sosok Hope memang liar saat berada di ring tinju namun jadi sosok penuh kasih untuk istri dan anak semata wayangnya. Berlatar belakang dari panti asuhan, sifat emosi Hope yang tak terkontrol membuatnya banyak memiliki musuh. 

Sampai pada saatnya, sang istri, Maureen Hope yang diperankan oleh Rachel McAdams merenggang nyawa karena tewas tertembak. Karier Hope yang sebelumnya berada di atas langsung turun. Orang-orang di sekitarnya yang ada saat ia jaya, satu per satu meninggalkannya. 

Parahnya lagi, kekayaan Hope disita karena ia terlilit hutang dan putri cantiknya, Leilla Hope yang diperankan oleh Oona Laurence dirawat oleh negara. 

Hope 'memungut' kepingan kariernya satu per satu. Ia datang ke sasana tinju yang dikepalai oleh Tick Wills yang diperankan aktor kawakan Hollywood, Forest Whitaker. 

Tick yang awalnya menolak melatih Hope, mulai luluh karena perjuangan Hope yang ingin mengembalikan kejayaan dan yang terpenting bisa berkumpul dengan putrinya, Leilla. 

Film ini seperti menggambarkan gambaran nyata bagaimana kehidupan petinju. Harus menerima pukulan demi pukulan di atas ring, didekati oleh banyak orang ketika hebat dan akan ditinggalkan saat terpuruk. 

"Tapi sayang, saat kamu sudah tidak lagi tenar, mereka semua akan berhamburan seperti kecoak," kata istri Hope dalam film tersebut. 


2. Race

Salah satu adegan dalam film Race yang dibintangi oleh Stephan James.

Film berikutnya yang tak kalah mengharukan ialah film garapan Stephen Hopkins, Race. Film yang kabarnya memakan budget mencapai 5juta dollar ini mengangkat kisah seorang pelari kulit hitam bernama Jesse Owens yang diperankan oleh Stephan James. 

Bakat lari Owens seperti anugrah, bukan didapat dari hasil latihan semata. Ia dianggap sebagai pelari handal di tingkat sekolah tempat ia menimba ilmu. Sayang, Owens hidup di dunia yang saat itu masih kental dengan unsur rasisme. 

Owens yang berkulit hitam sangat ingin tampil di ajang Olimpiade 1936 yang berlangsung di Berlin, Jerman. Jerman saat itu dalam kuasa Adolf Hitler, pendiri sekaligus pemimpin partai ultranasionalis, Nazi. 

Film ini sendiri memang diangkat dari kisah nyata pelari Amerika Serikat, Jesse Owens. Perjuangan Owens untuk bisa tampil di ajang Olimpiade Berlin dimulai saat ia masuk ke Ohio State University dan berlatih lari di bawah bimbingan, Larry Snyder yang diperankan oleh Jason Sudeikis. 

Snyder yang awalnya meragukan kemampuan lari Owens mulai terpikat pada bakat pelari kelahiran Alabama tersebut. Satu per satu turnamen sukses dimenangkan oleh Owens. Hingga pada akhirnya ia jadi wakil Amerika Serikat di Olimpiade Berlin 1936. 

Namun bukan perkara mudah bagi Owens yang memiliki kulit hitam untuk bisa mewakili Amerika Serikat. Diskriminasi benar-benar dirasakan oleh Owens, sampai pada akhirnya ia pernah berujar, 

"Di luar sana, tidak ada hitam atau putih. Hanya ada cepat atau lambat. Seharusnya ini sekedar lari bukan kebencian pada warna kulit," kata Owens dalam film tersebut. 


3. Creed

Rocky (Sylvester Stallone) dan Adonis Johnson (Michael B. Jordan) dalam film Creed.

Film Creed merupakan lanjutan dalam film bergenre olahraga yang cukup terkenal, Rocky. Dibintangi Sylvester Stallone, film ini mengkisahkan bagaimana Rocky yang sudah pensiun dari ring tinju harus kembali naik ring. 

Bukan sebagai petinju namun jadi pelatih petinju muda bernama Adonis Johnson yang dibintangi Michael B Jordan. Adonis merupakan anak dari petinju yang pernah dikalahkan Rocky, Apollo Creed dalam film Rocky. 

Adonis yang mencari jati dirinya karena tak pernah diakui oleh Apollo sebagai anaknya berusaha membuktikan bahwa ia juga memiliki bakat tinju. Adonis yang awalnya hidup kaya raya karena mendapat harta warisan sang ayah rela untuk hidup sederhana untuk bisa dilatih oleh Rocky. 

Sutradara film ini, Ryan Coogler sukses mengangkat bahwa tinju bukan sekedar menang atau kalah. Bukan sekedar mencari gelar dan nama besar di atas ring namun tinju ialah menjadi petarungan sejati untuk bisa mengalahkan sifat ego masing-masing. 

Selain Sylvester Stallone, film ini juga dibintangi oleh Robert Chartoff, Irwin Winkler, dan masih banyak lagi. Film ini sukses menyabet beberapa gelar seperti Golden Globe Award for Best Supporting Actor. 


4. Ronaldo

Cristiano Ronaldo saat mengajarkan sang anak dalam adegan film berjudul Ronaldo.

Meski hanya bergenre film dokumenter, film berjudul Ronaldo ini cukup mengharukan. Pasalnya dalam film yang diperankan langsung oleh Cristiano Ronaldo ini, pemain Real Madrid ini menunjukan sifat kebapakan kepada anak semata wayangnya, Cristiano Ronaldo, Jr.

Dalam film ini, kita melihat bagaimana Ronaldo begitu perhatian kepada si Junior. Tiap pagi, ia membuatkan sarapan dan menemani sang anak untuk pergi ke sekolah. Aktifitas sederhana namun berarti besar untuk tumbuh kembang seorang anak. 

Menariknya dalam film ini, Ronaldo ternyata memiliki rekam hubungan yang tidak terlalu baik dengan sang ayah. Bisa dibilang, hubungan eks pemain Manchester United itu dengan sang ayah cukup renggang di masa-masa Ronaldo tengah mencari jati diri. 

Film Ronaldo juga menunjukkan bagaimana pria kelahiran Madeira ini sangat hormat dan sayang kepada ibundanya, Maria Dolores dos Santos Aveiro. 

Sang sutradara, Anthony Wonke sukses mengangkat sisi lain Ronaldo. Ronaldo yang ambisius dan terkesan angkuh di lapangan hanya seorang ayah beranak satu yang siap melakukan apapun untuk kebahagiaan putranya. 

Cristiano RonaldoLariTinjuSouthpawRaceCreed

Berita Terkini