Deretan Atlet Indonesia yang Jadi Korban Pasca Gestok 65
Malam berdarah 01 Oktober 1965 membawa banyak perubahan di negeri ini. Tewasnya tujuh jenderal Angkatan Darat (AD), satu kolonel, satu ajun inspektur polisi, dan satu kapten di Jakarta dan Yogyakarta membuat terjadinya peristiwa yang tak kalah tragis dari kematian para pahlawan Revolusi tersebut.
Partai Komunis Indonesia (PKI) kemudian dianggap jadi dalang peristiwa Gestok, anggotanya yang dulu berjumlah jutaan jadi target sasaran kemarahan elemen masyarakat. Fakta sejarah menyebut tidak hanya anggota PKI yang jadi korban hura hara pasca Gestok terjadi, tapi juga mereka yang tak memiliki hubungan dengan PKI.
Sejumlah korban dari hura hara 1965 berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, ada yang dari kalangan seniman, guru, ikatan sarjana, dokter, bahkan sampai atlet.
Siapa saja atlet Indonesia yang jadi korban hura hara 65 pasca Gestok meletus? Mengapa mereka bisa jadi korban? Tindakan apa yang mereka rasakan saat dianggap terlibat peristiwa Gestok 65?
Berikut kisah atlet Indonesia yang jadi korban huru hara 1965 untuk pembaca setia INDOSPORT sekaligus untuk memperingati jelang 51 tahun terjadinya peristiwa Gerakan Satu Oktober 1965:
1. RA Soetarni Soemosoetargijo
Nama RA Soetarni Soemosoetargijo mungkin terdengar asing untuk pecinta olahraga nasional. Wajar memang, pasalnya RA Soetarni Soemosoetargijo atau yang lebih dikenal Tarni merupakan atlet yang ikut dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama sampai ketiga.
Di perhelatan PON, Tarni jadi wakil Solo untuk cabang bola keranjang atau Korfball, sejenis olahraga yang mirip dengan permainan bola basket.
Pada perhelatan PON keempat, seperti dilansir dari indoprogress.com juga akan ikut ambil bagian. Saat itu, Tarni akan jadi atlet anggar di perhelatan PON yang berlangsung di Makassar tersebut. Selain jadi atlet Korfball, Tarni memang memiliki bakat bermain anggar, Ayah dari Tarni sendiri merupakan atlet anggar.
Namun niat untuk ikut ambil bagian dari PON keempat kandas. Pasalnya, Tarni mendapat lamaran dari seorang pemuda. Si pemuda ingin Tarni mengurungkan niatnya bermain di PON dan mengajaknya membangun biduk rumah tangga.
Dengan pertimbangan yang masak, Tarni akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari si pemuda tersebut. Tarni akhirnya menikah dengan si pemuda pada 1955, dua tahun sebelum PON IV digelar.
"Padahal saya sudah berlatih berbulan-bulan dengan Ayah di di rumah, agar bisa turut kompetisi anggar," kenang Tarni.
Siapa si pemuda tersebut? Ia adalah Nyoto, salah satu dedengkot dari PKI. Hasil pernikahannya dengan Nyoto, Tarni dianugrahi enam orang anak.
Saat peristiwa Gestok meletus, Tarni mengingat bahwa saat itu perasaannya sangat tidak enak. Kota Jakarta yang biasanya selalu ramai dan padat, mendadak sepi dan senyap. "Jakarta sepi seperti kuburan. Ndak ada mobil, ndak ada orang. Saya menjadi curiga," katanya.
Singkat cerita, setelah peristiwa Gestok meletus dan orang-orang berlatar belakang PKI dianggap ikut terlibat, kehidupan rumah tangga Tarni pun berubah 180 derajat.
Tarni pun keluar masuk banyak penjara. Sementara sang suami tak diketahui rimbanya, Tarni sendiri yakin bahwa sang suami tewas terbunuh pasca peristiwa Gestok.
Tarni menghembuskan nafas terakhir di Jakarta, 05 September 2014 lalu. Di sisa hidupnya, Tarni lebih banyak dikenal orang sebagai istri dari dedengkot PKI, Nyoto ketimbang dikenal sebagai atlet yang bermain di event olahraga bergengsi di negeri ini, Pekan Olahraga Nasional.
2. Sukarnah
Pada 2007 silam, nama Sukarnah mendadak tenar dan jadi bahan perbincangan. Ia jadi sorotan pasca mendapat penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) saat itu, Adhyaksa Dault.
Siapa Sukarnah? Sukarnah ialah atlet lempar lembing kelahiran Rancah, Ciamis. Sukarnah bukan atlet lempar lembing sembarangan, pada perhelatan Asian Games III 1958 di Tokyo, Jepang, Sukarnah sukses meraih medali perunggu.
"Prestasi itu saya rebut ketika masih menjadi wanita dan bernama Sukarnah. Secara ajaib saya berubah menjadi laki-laki pada akhir 1980," kata Sukarnah yang sekarang berganti nama menjadi Iwan Setiawan.
Dilansir dari Pos Kota terbitan 08 Juni 2007, dua tahun setelah meraih perunggu, terjadi keanehan pada cewek berkulit sawo matang ini. Keanehan itu berawal saat Sukarnah bermimpi akan menikah dengan sesama wanita.
Selain berprestasi di tingkatan PON III 1958, Sukarnah juga memiliki rekam jejak bagus di kejuaraan nasional seperti PON.
"Saya termasuk gadis yang enerjik. Saya bisa hampir semua cabang olahraga, mulai bola keranjang, kasti, sampai pancalomba (atletik),” kisah Iwan seperti dilansir dari rancah.co.id
Selain jadi atlet lempar lembing, Sukarnah juga turun di nomor lari 100 meter. Saat peristiwa G30S pecah, Sukarnah ikut jadi korban. Dia menjadi korban perubahan besar politik dan disebut-sebut antek PKI.
"Semua penghargaan dan sertifikat saya ikut terbakar ketika rumah bapak saya di Bandung dibakar orang tahun 1966. Tak banyak yang saya bisa selamatkan," tutur Iwan.
Hanya beberapa barang yang selamat. Antara lain lembing yang dipakainya di Tokyo, Jepang, pada 1958 dan dua foto Soekarno yang saat ini menempel di dinding rumahnya. Sukarnah juga sempat dipenjara di Kebonwaru, Bandung pada 1965.
3. Tan Joe Hok
Bagi pecinta bulutangkis tentu sudah tak asing mendengar nama Tan Joe Hok. Ia adalah pebulutangkis pertama negeri ini yang meraih gelar All England.
Bersama enam pebulutangkis lain, Ferry Sonneville, Eddy Yusuf, Olich Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan, dan Njoo Kim Bie, Tan juga suskses memboyong Piala Thomas untuk pertama kali ke Tanah Air.
Tidak hanya publik dalam negeri yang mengakui kehebatan dari Tan, pada usia 22 tahun seperti dilansir dari Tempo.co, nama Tan diulas secara mendetail oleh majalah olahraga ternama dunia, Sport Illustrated.
"Saya disebut sebagai pemain tak terkalahkan. Namun, di balik sukses itu, saya sebenarnya hanya rumput liar yang mesti hidup di segala keadaan," kata Tan.
Mengapa Tan mengatakan hal itu? Mungkin karena Tan yang dulu mendapat puja puji dari publik tanah air karena prestasinya di ajang bulutangkis Internasional, langsung tak dianggap setelah peristiwa Gestok.
"Sebagai warga keturunan, saya dan teman-teman mulai mendapat perlakuan berbeda. Kami seperti dianggap bukan bagian dari bangsa ini. Saya bahkan harus mengubah nama saya menjadi Hendra Kartanegara. Saya yang dulu dijunjung tinggi setinggi langit di bawah bendera Merah-Putih harus antre berjam-jam membaur dengan warga Glodok dan daerah lain demi mendapat surat bukti bahwa saya orang Indonesia," kenang Tan.
Meski begitu Tan tak mau terus mendendam, meski pernah tinggalkan Indonesia pada 1969 bersama anak dan istri untuk jadi pelatih bulutangkis di Hongkong dan Meksiko, Tan pada 1972 kembali ke tanah air.
"Bersama Tahir Djide, saya menjadi pelatih pelatnas tim Piala Thomas 1984," kata Tan.
Di final perebutan Piala Thomas di Kuala Lumpur, Malaysia, tim Indonesia, yang terdiri atas Liem Swie King, Hastomo Arbi, Icuk Sugiarto, Christian Hadinata, Hadibowo, dan Kartono, akhirnya sukses mengalahkan Han Jian dan kawan-kawan dari China.