Tidak Hanya Trump dan Clinton, 6 Atlet Ini Pernah Tolak Jabat Tangan dengan Lawan
Amerika Serikat kini tengah disibukkan dengan isu-isu seputar pemilihan presiden baru mereka. Terdapat nama dua kandidat yang bersaing untuk memperebutkan kursi orang nomor satu di negara berjuluk Paman Sam itu, yakni Donald Trump dan Hillary Clinton.
Uniknya, ketika dua kandidat itu menghadiri debat presiden yang kedua, mereka tampak tidak melakukan jabat tangan. Seolah-olah memperlihatkan persaingan besar antara keduanya.
Saat melakukan debat, jabat tangan memang bukanlah sesuatu yang wajib dilakukan oleh pesertanya. Namun, hal itu biasa dilakukan untuk menunjukan rasa persahabatan meskipun dalam keadaan bersaing.
Tidak hanya ketika berdebat, dalam dunia olahraga, jabat tangan merupakan sesuatu yang lumrah dilakukan oleh para atlet sebelum ataupun sesudah pertandingan. Hal itu menunjukan bahwa meskipun berusaha saling mengalahkan, masing-masing tetap menghargai lawannya.
Sayangnya, seperti yang dilakukan Trump dan Clinton, dalam sebuah pertandingan olahraga juga pernah terjadi peristiwa di mana terdapat atlet yang menolak menjabat tangan lawannnya.
Sejumlah alasan dan latar belakang pun disebut menjadi penyebab sejumlah aksi tersebut bisa terjadi. Berikut INDOSPORT coba sajikan beberapa peristiwa atlet yang menolak berjabat tangan dalam sebuah pertandingan.
1. John Terry dan Wayne Bridge
Bek tengah andalan Chelsea, John Terry sempat membuat kehebohan karena ketahuan terlibat kasus perselingkuhan pada 2010 lalu. Parahnya lagi, wanita yang diselingkuhi oleh Terry itu merupakan istri dari mantan rekan satu timnya Wayne Bridge yaitu Vanessa Perroncel.
Hal itu pun membuat hubungan Bridge dan Vanessa kandas di tengah jalan, setelah Bridge melayangkan gugatan cerai.
Tidak hanya itu, hubungan antara Bridge dan Terry sendiri menjadi panas. Dalam beberapa pertandingan yang mempertemukan keduanya, Terry dan Bridge sama-sama enggan menatap muka dan berjabat tangan sebelum pertandingan.
2. Mauro Icardi dan Maxi Lopez
Wayne Bridge ternyata bukan satu-satunya pesepakbola yang pernah merasakan pahitnya kenyataan memiliki pasangan yang berselingkuh di belakangnya. Nyatanya, hal serupa juga dirasakan oleh penyerang Torino, Maxi Lopez.
Ya, Maxi harus menerima kenyataan bahwa istrinya, Wanda Nara ternyata bermain hati dengan pria lain. Parahnya, pria itu merupakan sahabat baik Maxi ketika masih membela Sampdoria, Mauro Icardi.
Maxi pun akhirnya menggugat cerai wanita yang telah memberinya 3 anak tersebut pada Desember 2013. Hanya berselang 5 bulan kemudian, Icardi dan Nara pun melangsungkan pernikahan.
Kesal mendapat perlakuan seperti itu, Maxi pun mengaku akan menaruh dendam pada Icardi sampai dirinya tidak lagi bernyawa.
Salah satu bukti kebencian Maxi pada Icardi yang nyata sempat terlihat, ketika dirinya menolak berjabat tangan sebelum dimulainya pertandingan antara Inter Milan dan Sampdoria pada April 2014 lalu.
3. Luis Suarez dan Patrice Evra
Sebuah duel panas sempat menimpa penyerang Barcelona dan bek kiri Juventus, Patrice Evra, ketika keduanya masih berlaga di Liga Primer Inggris. Saat itu Suarez masih bermain untuk Liverpool dan Evra bersama dengan Manchester United.
Perselisihan antara keduanya bermula saat Liverpool bertemu Man United dalam lanjutan Liga Primer Inggris pada 15 Oktober 2011. Saat itu Suarez dilaporkan mengeluarkan komentar berbau rasis pada Evra yang menjaga ketat dirinya selama pertandingan.
Akibat hal tersebut, pihak FA pun memberi hukuman larangan bertanding pada Suarez karena dianggap mencoreng nilai murni pertandigan sepakbola yang anti rasis.
Ketidakharmonisan hubungan Suarez dan Evra pun terus berlanjut. Puncaknya, ketika keduanya bertemu kembali pada 11 Februari 2012. Saat itu, Suarez secara sengaja tidak mau menerima tawaran jabat tangan yang dilakukan Evra.
Hal itu pun membuatnya menjadi bulan-bulanan media Inggris yang menyebutnya sebagai salah satu pesepakbola paling rasis di dunia.
4. Jorge Lorenzo dan Marc Marquez
Siapa yang sangka dua pembalap MotoGP asal Spanyol, Jorge Lorenzo dan Marc Marquez ternyata sempat memiliki hubungan yang kurang baik.
Kejadian itu terjadi usai balapan di Sirkuit Jerez pada MotoGP Spanyol 2013 lalu. Lorenzo yang sebenarnya dapat finish di posisi dua harus rela turun satu posisi, usai disalip oleh Marquez di tikungan terakhir.
Usai balapan, Marquez pun mendatangi Lorenzo untuk berjabat tangan. Sayang, niat baik dari pembalap Honda itu tidak dihiraukan oleh Lorenzo.
Beberapa hari setelah balapan berlangsung, barulah Lorenzo menjelaskan alasannya menolak jabat tangan yang ditawarkan Marquez tersebut.
"Saat itu saya dalam keadaan panas, karena waktu itu saya kehilangan kesempatan finish di posisi dua dan memimpin klasemen. Saat saya dalam keadaan panas, tentu saja saya tidak ingin menjabat tangannya dan saya rasa itu hal yang manusiawi," ungkapnya seperti dilansir Crash.
5. Tomas Berdych dan Nicolas Almagro
Dalam sebuah pertandingan tenis, sempat terjadi kejadian di mana seorang petenis menolak berjabat tangan dengan lawannya.
Kejadian itu terjadi dalam babak ke-4 rand Slam Australia Open 2012 lalu, antara petenis nomor 4 dunia, Tomas Berdych menghadapi wakil Spanyol, Nicolas Amargo.
Saat itu, Nicolas tanpa disengaja memukul bola yang membentur badan Berdych dengan keras. Alhasil, Berdych pun terjatuh ke lapangan.
Melihat hal itu, Nicolas pun menawarkan jabat tangan kepada Berdych agar tidak ada rasa dendam diantara keduanya. Sayangnya, niat Nicolas tersebut ditolak mentah-mentah oleh Berdych yang justu berjalan membelakangi Nicolas.
Aksi yang dilanjutkan Berdych itu pun mendapat perhatian dari penonton yang menyorakinya karena menolak jabat tangan dari Nicolas.
6. Pejudo Mesir dan Pejudo Israel
Olimpiade merupakan sebuah ajang yang mempererat hubungan antar negara peserta melalui kompetisi olahraga. Sayangnya, dalam ajang Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro, sempat terjadi aksi yang tidak terpuji.
Salah satu pejudo asal Mesir, Islam El Shehaby sempat menjadi sorotan atas aksinya yang menolak berjabat tangan usai dikalahkan pejudo Israel, Or Sasson.
Banyak pihak yang menilai aksi Shebaby dilatarbelakangi paham anti-Yahudi yang banyak dilakukan negara-negara yang solider dengan nasib Palestina.