x

Zarmi Bachtiar, Legenda Binaraga yang Berlatih dengan Pohon Kelapa

Kamis, 3 November 2016 19:00 WIB
Editor: Gema Trisna Yudha

Anak-anak muda saat ini mungkin tak mengenal nama Zarmi Bachtiar. Namun di tahun 80-an, namanya banyak dibicarakan dan menjadi idaman anak-anak muda saat itu.

Betapa tidak, Zarmi merupakan atlet andalan binaraga Indonesia. Pada masanya, ia seperti berlangganan meraih prestasi pada kejuaraan binaraga baik nasional dan internasional.

Hebatnya, Zarmi tak cuma mampu meraih prestasi saat usianya masih muda. Ia bahkan menorehkan prestasi saat usianya melebihi usia 50 tahun.

Untuk mengenalnya lebih jauh, berikut INDOSPORT sajikan kisah Zarmi pada pembaca setia.


1. Anak Kampung Kurang Gaul

Zarmi Bachtiar, mantan atlet binaraga Indonesia.

Zarmi Bachtiar lahir dari keluarga sederhana di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 27 September 1945 silam. Keluarganya bukanlah keluarga berada, yang membuatnya sempat menjadi minder dan malu bergaul.

Saat duduk di bangku Sekolah Teknik Menengah (STM) pada tahun 1970-an, ia hanya mendengarkan saat teman-temannya bercerita bangga kegiatan olah otot di semacam fitness center yang mereka ikuti. Dalam hati, Zarmi ingin turut serta berlatih seperti teman-temannya. Namun ia tak punya uang untuk membayar biayanya.

Tak Kehabisan akal, Zarmi muda membuat barbel sendiri dari pohon kelapa. Ia dengan semangat terus berlatih dan yakin usahanya akan berbuah. Namun saat seorang temannya mengetahui apa yang Zarmi lakukan, ia dianggap gila dan kurang kerjaan. 

"Dalam hati saya berkata, sekarang silahkan mencemooh saya, tapi suatu saat dia akan menelan kembali kata-katanya," kata Zarmi seperti dilansir Antara 2012 lalu.


2. Mulai Berprestasi

Zarmi Bachtiar meraih berbagai prestasi di bidang binaraga.

Saat merantau ke Pekanbaru selepas menyelesaikan pendidikannya di bangku STM, Zarmi bekerja menjadi kuli panggul di pasar setempat. Ini memang bukan pekerjaan yang ia idamkan, namun pekerjaan itu justru membuat tubuh dan ototnya tetap berada dalam bentuk yang terjaga.

Suatu hari ia bertemu dengan seorang pemilik fitness center, Riau Barbell Club Pekanbaru. Melihat bentuk otot Zarmi yang menjanjikan, ia mengajak Zarmi bergabung.

Mulai berlatih di club, tubuh dan otot Zarmi semakin terbentuk. Hingga saat pertama kali turun di ajang PON VIII 1973 di Jakarta, Zarmi yang turun di kelas tinggi badan kategori pendek, meraih medali perak. Saat itu, cabang olahraga binaraga di PON Jakarta masih berstatus eksebisi atau belum dipertandingkan secara resmi.


3. Jadi Legenda Binaraga Indonesia

Zarmi Bachtiar saat menyulut api PON di Riau pada 2012 lalu.

Sejak berhasil meraih prestasi tersebut, Zarmi semakin bersemangat untuk terus berlatih. Kerja kerasnya berbuah dengan meraih medali emas PON secara beruntun di tahun 1981, 1985, dan 1989. Zarmi bahkan masih mampu meraih medali perak saat berusia 51 dan menjadi atlet tertua yang masih aktif dalam sejarah binaraga nasional.

Selain di tingkat nasional, Zarmi juga berprestasi di ajang internasional. Zarmi meraih medali perak di ajang SEA Games 1981 di Manila dan masuk 10 besar Kejuaraan Dunia 1983 di Singapura. 

Beragam prestasi yang diraih Zarmi membuatnya masuk dalam daftar 100 atlet legendaris Indonesia yang dibukukan oleh KONI Pusat pada 2002.

Ia juga sempat dipercaya menjadi pembawa obor terakhir untuk menyalakan api kaldron PON Riau 2012 lalu. Saat itu usia Zarmi berusia 67 tahun. 

Setelah tak lagi menjadi atlet, Zarmi sempat menjadi pelatih binaraga dan menjabat Ketua Bidang Binaraga Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Angkat Berat, Besi dan Binaraga (PABBSI) Riau.

BinaragaZarmi BachtiarLegenda Olahraga

Berita Terkini