Kabut Asap, Pebalap F1 Pakai Masker di GP Singapura
Bencana polusi asap akibat kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia dan Asia Tenggara sedang dalam level yang berbahaya. Hal itu bahkan telah dirasakan hingga Singapura yang turut mengancam gelaran balapan Formula One (F1) di Singapura.
Pihak paniti penyelenggara dan F1 mewacanakan pebalap dan penonton untuk menggunakan masker N95 yang berfungsi untuk menghindari banyaknya asap yang terhirup oleh tubuh. Selain itu juga, mereka sangat berharap jika hujan akan turun pada balapan akhir pekan ini untuk sedikit meredam kotornya udara.
Masker N95 diyakini dapat menyaring hingga 95 persen dari keseluruhan partikel yang berada di udara. Masker tersebut terbuat dari bahan solid dan tidak mudah rusak. Pemakaiannya juga harus benar-benar rapat, sehingga tidak ada celah bagi udara luar masuk.
Masker ini biasanya dipergunakan oleh tenaga kesehatan di bagian infeksi dan menular. Masker ini juga dipergunakan oleh petugas peternakan ketika terjadi wabah flu burung.
Hanya saja masker N95 ini memiliki kekurangan antara lain bagi yang tidak terbiasa menggunakan, mungkin akan merasa gerah dan sesak sehingga hanya bertahan beberapa jam saja memakainya.
Mengenai kekurangan masker tersebut juga telah disinggung oleh Jenson Button. Dia menilai masker N95 tidak sesuai dengan desain helm para pembalap dan berpotensi menyulitkan untuk bernafas. Akan tetapu dia menilai jika masker tersebut sangat memungkinkan untuk digunakan para penonton.
"Dengan kondisi berasap, berjalan saja sulit. Kalian bisa merasakan asap tapi saat Anda berada di mobil Anda membutuhkan segalon udara. Itu (asap) menjadi masalah besar tapi semoga semua bisa teratasi karena hal itu bisa mempengaruhi kesehatan, dari berita yang sudah saya baca," kata Button seperti diberitakan Reuters.