x

Pagar Nusa, Wadah Pencak Silat untuk Para Santri

Senin, 5 September 2016 13:18 WIB
Editor: Galih Prasetyo

Sejak dulu, lingkungan pesantren selalu diidentikkan dengan lembaga pendidikan yang hanya menugaskan siswanya untuk mengaji dan mengkaji kitab. 

Nyatanya hal itu tidak sepenuhnya benar. Para santri yang mondok di pesantren juga banyak mempelajari banyak hal, olahraga salah satunya. 

Yang menarik khusus untuk pesantren NU, para santi punya wadah untuk membuat raga dan jasmani mereka tetap bugar yakni dengan berlatih pencak silat. 

Lingkungan pesantren NU, terdapat banyak sekali aliran silat; baik aliran silat yang ada di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, silat Betawi, silek Minang, silat Mandar, Silat Mataram, dan lain lain. 

Karena beragamnya aliran silat tersebut maka dibentuklah Pagar Nusa sebagai wadah perkumpulan perguruan pencak silat di bawah naungan NU.

Berikut INDOSPORT berikan ulasan mengenai Pagar Nusa, wadah pencak silat untuk para santri: 


1. Berdiri untuk perjuangan

Logo silat Pagar Nusa

Pagar Nusa berdiri dilatarbelakangi karena faktor politik negeri ini era 60-an. Awalnya sejumlah santri yang rajin berlatih pencak silat disatukan dalam sebuah perguruan bernama Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI) yang berdiri pada 11 Januari 1966 di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. 

Seiring perjalanan waktu, dunia persilatan di pesantren semakin surut. Hal itu disadari oleh salah satu dedengkot NU, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dari Rembang. 

Pencak silat malah digunakan oleh sejumlah petarung untuk unjuk kekuatan. Saling tawuran pun terjadi. Hal ini menimbulkan kegelisahan para kiai NU, salah satunya Kiai Syansuri Badawi dari Tebu Ireng. 

Sampai pada akhirnya, Kiai Syansuri Badawi mengeluarkan fatwa yang berbunyi: ”Pencak Silat, hukumnya boleh dipelajari asal dengan tujuan perjuangan.”

Maka pada 03 Januari 1986 berdirilah Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa. Nama Pagar Nusa sendiri diusulkan oleh Kiai Mujib Ridlwan dari Surabaya. Pagar Nusa sendiri merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa. 

Organisasi ini berstatus lembaga milik Nahdlatul Ulama’ yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana lembaga-lembaga NU lainnya.


2. Mengoptimalkan tenaga dalam

Salah satu pendekar cilik Pagar Nusa.

Pencak silat yang ada di Indonesia memiliki banyak ragam, mulai dari jurus hingga gerakan yang dilakukan. Pagar Nusa adalah salah satu pencak silat yang disebut lebih banyak mengoptimalkan pendekarnya menggunakan tenaga dalam. 

Salah satu bukti ialah pada 2004 lalu. Seperti dilansir dari nu.or.id, saat muktamar ke-31 NU di Asrama Haji Donohudan Solo. Anggota Pagar Nusa melakukan atraksi saling bacok, saling melukai, dan saling pukul.

Ajaibnya, tidak seorang pun dari peserta yang alami luka. Bagi sejumlah penggiat pencak silat istilah menggunakan tenaga dalam dalam pertarungan silat disebut dengan kemampuan kanuragan. 

Namun tidak sembarang orang yang mempelajari silat Pagar Nusa bisa menggunakan kemampuan kanuragan. Menurut Kiai Ali Pono seperti dilansir dari intelijen.co.id, orang yang ingin gunakan kanuragan dilarang melakukan molimo. 

Molimo yang dia maksud adalah main, madat, minum, maling, madon. Sedangkan untuk jurus dasar, Pagar Nusa juga memiliki sejumlah gerakan yang hampir sama dengan aliran pencak silat pada umumnya. 

Ada gerakan kuda-kuda, sikap pasang yang terdiri dari 12 gerakan, serta langkah yang terdiri 5 gerakan dasar. Sedangkan jika ditinjau dari tekniknya, langkah dalam Pagar Nusar terbagi menjadi, Langkah Angkatan, Langkah Geser, Langkah Seser, dan Langkah Lompat. 

Pagar Nusa memiliki pandangan filosofis tersendiri terkait jurus mereka yakni, jurus bukan sekedar rangkaian gerak langkah dan serangan, maupun hindaran serta perlindungan diri. 

Namun jurus adalah sikap hidup seorang pendekar sejati. Karena jurus adalah cerminan sikap jujur dan lurus. 


3. Legenda Pagar Nusa

Kiai Maksum Jauhari, salah satu pendekar Pagar Nusa.

Salah satu tokoh atau pendekar dari Pagar Nusa yang cukup melegenda bernama Kiai Maksum Djauhari atau Gus Maksum. 

Gus Maksum selalu identik dengan silat NU. Namanya selalu berkaitan dengan Pagar Nusa. Kiai kelahiran Kediri pada 08 Agustus 1988 ini merupakan cucu dari Kiai Manaf Abdul Karim, pendiri pondok pesantren Lirboyo. 

Seperti dilansir dari akun Instagram NU, @nahdlatululama, penampilan Kiai NU ini terbilang nyentrik; berambut gondrong, jenggot dan kumis panjang, bersarung setinggi lutut, memakai bakiak, berpakaian seadanya, dan tidak makan nasi. 

Di kalangan dunia persilatan, beliau dikenal sangat mahir dan menguasai berbagai aliran silat dengan sempurna. 

Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 12 Januari 2003. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga, sebelah barat masjid lama Ponpes Lirboyo. 


4. Misi Menpora

Menpora, Imam Nahrawi

Pada Kejuaraan Nasional II dan Festival Pencak Silat Nahdlatul Ulama (NU) Pagar Nusa pada Agustus lalu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Menpora, Imam Nahrawi mengatakan bahwa ia ingin pencak silat bisa segera go internasional

"Insyaallah pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, Pencak Silat akan secara resmi dipertandingkan, kita berharap dan mendorong agar pada tahun 2020 nanti, cabang olahraga pencak silat bisa dipertandingkan di Olimpiade Tokyo," kata Imam seperti dilansir dari Kemenpora.go.id

Politisi asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini pun mengajak serta masyarakat untuk terus mempromosikan olahraga asli Indonesia dengan banyak cara. 

"Saya mengajak saudara-saudara melalui media sosial untuk dapat mempromosikan bahwa pencak silat lahir di Indonesia, dikarenakan pada saat ini ada negara lain yang mengakui bahwa pencak silat lahir dari negara mereka," kata Imam. 

Pencak SilatImam NahrawiIkatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)MenporaIn Depth SportsPagar Nusa

Berita Terkini