x

AC Milan di Titik Nadir, Fabio Capello Bongkar Bobrok Rossoneri

Selasa, 19 Mei 2026 19:52 WIB
Editor: Redaksi
Logo AC Milan

INDOSPORT.COM - Krisis performa kembali menghantam AC Milan pada fase krusial musim Serie A 2025/2026. Harapan untuk menutup musim di zona Liga Champions kini berada di ujung tanduk, setelah Rossoneri mengalami penurunan drastis dalam beberapa pekan terakhir.

Legenda sepak bola Italia, Fabio Capello, ikut angkat bicara dan melontarkan kritik tajam. Ia menilai situasi yang dialami Milan saat ini bukanlah kejutan, melainkan akumulasi masalah yang sudah terlihat sejak lama.

Baca Juga

Milan sempat berada di jalur positif pada Maret lalu ketika menempati posisi kedua klasemen dan bahkan disebut sebagai penantang serius gelar. Namun situasi berubah cepat. Dari delapan pertandingan terakhir, Rossoneri hanya mampu meraih dua kemenangan dan hanya mengoleksi empat poin dari enam laga liga terbaru.

Akibatnya, Milan kini terpuruk di peringkat keempat dan berada dalam posisi rawan tersingkir dari zona Liga Champions, dengan selisih poin yang sangat tipis dari pesaing terdekat seperti AS Roma.

Dalam wawancaranya bersama La Gazzetta dello Sport yang dikutip Football Italia, Rabu (13/05/2026), Capello menyebut bahwa masalah utama Milan bukan sekadar teknis atau fisik, melainkan hilangnya determinasi dan semangat bertarung di lapangan.

“Realitas fakta menunjukkan bahwa dalam empat pertandingan terakhir, mereka tidak lagi bertarung. Mereka tidak lagi menunjukkan keinginan atau tekad yang dibutuhkan untuk menang. Semua ini tidak mengejutkan saya,” ujar Capello.

Ia juga menyoroti sikap sebagian pemain yang dinilai tidak mencerminkan tanggung jawab sebagai sebuah tim besar. Menurutnya, ada pemain yang terlibat adu argumen, kehilangan bola tanpa reaksi, hingga enggan membantu dalam fase bertahan.

“Saya melihat beberapa pemain beradu argumen dan yang lainnya kehilangan bola tanpa merasa peduli. Ada yang tidak mau membantu rekan setim dan sama sekali tidak tertarik pada fase pertahanan,” tambahnya.

Capello secara khusus menyoroti kekalahan Milan 2-3 dari Atalanta, di mana Rossoneri baru menunjukkan performa agresif pada 20 menit akhir pertandingan. Menurutnya, reaksi seperti itu tidak cukup untuk klub sebesar Milan.

Ia bahkan mempertanyakan mengapa intensitas tersebut tidak bisa ditunjukkan sepanjang pertandingan penuh.

Capello kemudian memberikan pesan langsung kepada pelatih Milan saat ini, Massimiliano Allegri. Ia menilai Milan harus kembali ke identitas permainan yang lebih vertikal, cepat, dan langsung menekan lawan, bukan sekadar menguasai bola tanpa arah.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya konsistensi mental selama 90 menit penuh pertandingan.

“Apa pun alasan yang membuat Anda bermain seperti itu saat melawan Atalanta selama 20 menit terakhir, sekarang Anda harus melakukannya selama 90 menit penuh,” tegas Capello.

Ia juga membantah keras anggapan bahwa penurunan performa Milan disebabkan faktor fisik atau kelelahan pemain.

“Jika mereka bisa berlari seperti orang gila di menit ke-80, penjelasan tentang masalah fisik itu tidak masuk akal. Ini adalah masalah mentalitas,” ujarnya.

Selain sektor serangan, Capello juga menyoroti rapuhnya struktur pertahanan Milan. Namun ia menegaskan bahwa masalah tersebut tidak bisa dibebankan pada lini belakang semata.

Menurutnya, Milan kehilangan organisasi permainan, terutama dalam fase bertahan dan transisi.

“Mereka bermain buruk karena ceroboh dan tidak ada perlindungan dari lini tengah. Saya tidak lagi melihat Milan menekan lawan saat memegang bola. Dulu mereka melakukan pressing tinggi, bahkan dalam fase bertahan. Sekarang, permainan kolektif itu hilang,” jelasnya.

Ketika ditanya soal siapa yang paling bertanggung jawab atas situasi Milan, Capello menolak menunjuk satu pihak saja. Ia menilai krisis ini merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari pelatih, pemain, hingga struktur manajemen klub.

“Melihat angka-angkanya, tentu saja dia (Allegri) juga bersalah. Dia tidak mampu menjaga level mentalitas tetap tinggi. Namun, pelatih bukan orang yang turun ke lapangan,” katanya.

“Jika seorang pemain kehilangan bola lalu tidak segera berlari untuk merebutnya kembali... itulah intinya.”

Capello juga menyinggung perdebatan soal struktur manajemen klub yang melibatkan sejumlah nama seperti Giorgio Furlani, Geoffrey Moncada, hingga Zlatan Ibrahimovic. Namun ia menilai akar masalah tidak bisa disederhanakan pada satu figur.

“Kesalahan harus dibagi. Kesalahan terletak pada para pemimpin, yang berdasarkan definisi adalah mereka yang mengarahkan operasi. Ini bukan hanya satu orang yang memutuskan di Milan.”

Dengan hanya dua pertandingan tersisa, Milan kini menghadapi situasi “final sesungguhnya” untuk menyelamatkan musim mereka. Gagal mengamankan tiket Liga Champions bukan hanya berarti kegagalan sportivitas, tetapi juga potensi dampak besar terhadap finansial dan proyek jangka panjang klub.

Di tengah tekanan besar dan sorotan publik, kritik Capello menjadi cermin keras bahwa masalah Milan bukan sekadar soal taktik, melainkan krisis mental, struktur, dan identitas yang lebih dalam.

Tanpa perubahan cepat, Rossoneri berisiko mengakhiri musim dengan salah satu kegagalan paling menyakitkan dalam sejarah modern klub.

Serie A ItaliaAC MilanLiga Italia

Berita Terkini