Setelah menjalani karier selama kurang lebih 15 tahun, di mana 8 tahunnya dihabiskan di Pelatnas Cipayung, Lindaweni Fanetri akhirnya resmi memutuskan pensiun dari dunia yang telah membesarkan namanya tersebut.
Lindaweni yang bermain di sektor tunggal putri tersebut, mengaku sudah mencapai titik maksimal dalam kariernya sehingga memutuskan untuk pensiun.
“Saya merasa sudah maksimal dan ini sudah saya rembukan dengan keluarga dan orang terdekat saya untuk mengambil suatu keputusan yang besar, saya retired bukan keluar. Sudah matang dan Insya Allah yang terbaik,” kata Lindaweni Fanetri dalam rilis resmi PBSI yang diterima INDOSPORT.
“Keluarga juga alhamdulillah mengerti dan ternyata mereka lebih mengerti saya,” sambung pebulutangkis tunggal putri Indonesia tersebut.

Sebagai pebulutangkis, Linda sempat beberapa kali menyumbangkan prestasi bagi Indonesia di antaranya saat menjuarai India Open Grand Prix Gold 2012 dan merebut medali perunggu di Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta.
Bagi Lindaweni, momen di Kejuaraan Dunia 2015 itulah yang memberikan kesan paling mendalam yang ia rasakan.
“Momen terbaik pasti di Kejuaraan Dunia 2015, saya masih suka nangis kalau inget itu. Saat itu saya dapat wild card dan sempat jadi masalah karena saya geser senior saya, padahal saya udah pasrah, saya tahu saya nggak lolos dan nggak mau maksain juga tapi saya mendapat kesempatan untuk main,” kenangnya.
“Saya merasa itu kesempatan dan tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik. Alhamdulillah bisa perunggu. Mungkin orang lihat cuma perunggu, tetapi itu emas buat saya. Karena untuk mendapatkan itu nggak bisa dibayar dengan uang tetapi dengan kerja ekstra keras, team work, dan usaha yg maksimal,” tambah Linda.
Lindaweni Fanetri saat berhasil naik podium di Kejuaraan Dunia 2015 yang lalu.
Di akhir, Lindaweni dengan mata yang berkaca-kaca menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran karirnya selama ini.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada PBSI yang sudah memberikan kesempatan selama 8 tahun kepada saya, terima kasih ketua umum PBSI, terima kasih kak Rexy, terima kasih pelatih tunggal putri, mas Bambang, kak Sarwendah, kak Marlev, para pemain tungggal putri yang sudah seperti keluarga, pelatih sektor lain terutama kak Richard, sosok yang sangat berarti buat saya."
"Terima kasih juga buat koh Chris, sahabat saya kak Nitya, tim pendukung juga, medis, terapis, massage, pelatih fisik dan semua pengurus yang sudah saling membantu dan menciptakan kerjasama yang baik. Saya pun meminta maaf apabila ada kata-kata atau perilaku yang kurang berkenan,” tutup Linda.