Klub atau Perkumpulan Bulutangkis (PB) diakui atau tidak, menjadi salah satu pencetak atlet-atlet bulutangkis di Indonesia. Meski demikian, tak sedikit klub yang kesulitan berkembang karena persoalan dana.
Menurut Ketua Umum PB Tangkas Intiland, Justian Suhandinata, banyak hal yang membuat perusahaan tak tertarik menjadi sponsor. Pada umumnya, pihak sponsor mempertanyakan timbal balik promosi yang akan mereka dapat.
“Misalnya PB Tangkas Intiland, sponsor mempertanyakan publikasi seperti apa yang akan mereka dapat. Sementara banyak kendala yang membuat publikasi itu tak terjadi,” kata Justian Suhandinata.
Ia mencontohkan, Marcus Fernaldi Gideon yang merupakan jebolan PB Tangkas Intiland, tak bisa membawa sponsor klub untuk dikenal. Hal ini disebabkan regulasi PBSI yang tak mengizinkan klub memakai sponsornya, melainkan harus memakai sponsor PBSI.
Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo pose setelah juara Malaysia Open Super Series Premier 2017.“Kalau sudah jadi pemain pelatnas, tak boleh pakai sponsor klub, itu bikin perusahaan minatnya kurang. Fernaldi (Marcus Fernaldi Gideon) misalnya, dia juara All England juga nggak disebut nama klubnya,” tuturnya.
Akibat tak bisa mendapatkan sponsor, Justian menyebut, ada dua klub yang harus gulung tikar. Sebab persoalan dana juga akan memengaruhi prestasi dan popularitas klub.
“Karena tak ada sponsor, kekurangan dana, pelatihnya pun seadanya, jadi nggak bisa berprestasi,” ucapnya.
Penulis: Gema Trisna Yudha