x

3 Penyebab Prestasi Bulutangkis Merosot

Sabtu, 21 Maret 2015 18:06 WIB
Editor:

Empat tahun berselang, Indonesia kembali berhasil meraih medali emas dalam Olimpiade Atlanta pada nomor ganda Putra, saat Ricky Subagja dan Rexy Mainaky yang menjadi aktor dibalik raihan medali tersebut.

Namun, saat ini olahraga yang menjadi andalan Indonesia di pentas-pentas dunia tengah meredup. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan yang dianggap mampu mengangkat kembali bulutangkis Indonesia juga tengah terpuruk.

Tontowi/Liliyana yang digadang-gadang bisa membawa gelar juara All England untuk yang ke-empat kalinya harus kalah di final saat menghadapi pasangan China, Zhang Nan/Zhao Yunlei. Sama seperti di ganda Campuran, ganda putra Indonesia yang juga ditargetkan meraih gelar juara lagi-lagi harus tersingkir saat menghadapi pasangan China, Fu Haifeng/Zhang Nan di babak perdelapan final.

Apa saja penyebab Bulutangkis tanah air merosot hingga sejauh ini, terlebih pada nomor tunggal putra dan putri? Berikut INDOSPORT merangkumnya.


1. Melupakan Regenerasi

Fung Permadi

Seorang manusia pasti mengalami pertambahan usia, ini yang mungkin kurang dipikirkan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia saat itu. Pada Era keemasan Indonesia di dunia bulutangkis, Indonesia seolah terlena dengan gelar-gelar kemenangan yang berhasil diraih.

Hingga akhirnya melupakan generasi-generasi di bawah para juara-juara tersebut. “Waktu itu ada masa-masa kita lupa regenerasi, karena waktu itu kita diperkuat pemain-pemain yang merajai, khususnya sector tunggal putra. Jadi yang di bawahnya kurang diperhatikan, junior-juniornya kurang diperhatikan,” terang Fung Permadi yang juga mantan atlet bulutangkis tanah air.

Menurut Fung, sebenarnya sudah tugas PBSI untuk memberdayakan klub-klub untuk menyuplai para bibit-bibit muda ini. Namun kita melihat bahwa PBSI ini terkesan lebih kepada pemusatan latihan nasional (pelatnas). Terlebih PBSI juga harus mampu menelurkan para pelatih-pelatih yang berkualitas.

“Sebenarnya ini tugas PBSI harus memberdayakan klub-klub, kesannya PBSI itu pelatnas banget. Padahal PBSI itu persatuan bulutangkis seluruh Indonesia. Kalau di bawahnya tidak diperhatiin gimana mau bersaing di tingkat Internasional, perhatian kebawahnya kurang sekali,” sambung pemain era 90-an ini.

Senada dengan Fung, Wakil Sekretaris Jendral PP PBSI, Ahmad Budiarto juga mengatakan hal serupa. “Salah satu kekurangan kita, kita kurang persiapan regenerasi. Tapi sekarang kita sudah bisa mendapatkan talenta-talenta terbaik,” ujar Ahmad.


2. Terlalu Banyak Konflik di Tubuh PBSI

Deputi V Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Gatot Dewa Broto

Belum lepas dari ingatan kita kisruh antara legenda bulutangkis Indonesia, Icuk Sugiarto dengan Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Indonesia (PP PBSI). Dimana PP PBSI, sebagai badan tertinggi bulutangkis Indonesia mencabut status Icuk sebagai Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) PBSI.

Konflik-konflik internal seperti ini jelas mengganggu bagi kemajuan atlet, terlebih Indonesia saat ini tengah terpuruk dalam bidang prestasi bulutangkis. Seyogyanya, PP PBSI sebagai lembaga tertinggi bulutangkis Indonesia mampu meredam konflik-konflik semacam ini agar tidak jauh melebar.

Deputi V Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Gatot Dewa Broto sempat mengatakan bahwa, PP PBSI harus punya trobosan untuk masalah ini. “Kalau melihat dari kondisinya (bulutangkis) harus ada trobosan yang signifikan,” terang Gatot saat ditemui INDOSPORT di kantornya.

Senada dengan hal tersebut, ayah dari Tommy Sugiarto, Icuk Sugiarto menilai bahwa Indonesia sebenarnya punya potensi-potensi yang besar. Hanya saja, lembaga tertinggi ini (PP PBSI) jangan dijadikan kendaraan untuk mencari keuntungan pribadi.

“Kita banyak punya potensi, yang muda-muda juga ada. Intinya satu, kenali orang-orang di rumah besar ini (PP PBSI). Jangan sampai lembaga jadi kepentingan, usahakan lembaga ini jadu paying kita semua,” terang juara dunia badminton tahun 1985 dan 1986 ini.


3. Atlet Bulutangkis Terlalu di Manja

Rudy Hartono.

Terlepas dari itu semua, faktor penting lainnya adalah ada pada diri sang pemain itu sendiri. Karena yang menginjakan kaki di lapangan nanti adalah si pemain, bukan pelatih, bukan juga ketua PP PBSI. Dari hal ini setidaknya pemain harus memiliki mental juara dan pantang menyerah.

Mengomentari atlet-atlet bulutangkis saat ini, peraih delapan kali gelar juara All England, Rudy Hartono mengatakan setiap pemain yang ingin menjadi juara haruslah disiplin dan tekun. “Kalau 2016 (Olimpiade) mau mendapatkan emas, harus disiplin dan tekun. Salah satunya juga bisa mengubah pemain mempunyai karakter juara,” terang ia.

Zaman para legenda ini dengan zaman sekarang memang berbeda terkait bonus, sponsor, fasilitas dan lain-lain. Namun menurut Rudy yang tidak ada bedanya adalah karakter juara yang harus dimiliki para pemain.

Senada dengan Rudy Hartono, tokoh bulutangkis nasional, Justian Suhandinata menilai PP PBSI harus melakukan revolusi mental. Baik bagi atletnya, pelatih ataupun para pengurus PBSI. “Kita harus merevolusi mental, itu faktor budaya. Pelatih seharusnya malu memilih pemain yang seharusnya tidak terpilih, tetapi dipilih karena ada faktor ‘X’. Pemilihan pemain harus fair, jujur dan Objektif,” terangnya.

PBSIGatot S Dewa Broto

Berita Terkini