x

Lyanny Alessandra, Si Cantik Penerus Dinasti Mainaky

Jumat, 4 September 2015 21:40 WIB
Kontributor: Fajar Kristanto | Editor: Gema Trisna Yudha

Nama Mainaky tentu tak bisa dilepaskan dari dunia bulutangkis Tanah Air. Setelah era Richard Leonard, Rionny Frederik Lambertus, Rexy Ronald, Marleve Mario dan si bungsu Karel Leopold, kini muncul generasi baru. 

Salah satunya adalah Lyanny Alessandra Mainaky, yang akan berlaga di ajang Jepang Terbuka pekan depan. 

Bagaimana dia mengemban nama Mainaky dan apa targetnya? Berikut petikan wawancara INDOSPORT dengan putri sulung Rionny Mainaky ini.


1. Berusaha Mandiri

Menyandang nama yang memiliki sejarah panjang prestasi terkadang bisa menjadi beban. Apakah Lyanny merasakan hal itu?

Saya tidak menjadikan beban nama itu. Meski tak jarang juga sih berdebar-debar kalau mau ikut turnamen. Soalnya banyak yang menilai jika Mainaky itu jago bulutangkis. Tapi itu saya jadikan motivasi.

Apakah dapat keistimewaan karena nama Mainaky?
Ndak juga. Saya memulainya dari bawah, kok. Kalau dapat perlakuan spesial tentu sudah masuk pelatnas (pemusatan latihan nasional). Saya cuma sempat magang saja. (Lyanny menjawab sembari mengusap peluh.)

Bagaimana dengan Rexy Mainaky (paman Lyanny) yang ada di kepengurusan PBSI yang menjabat Kabid Pembinaan dan prestasi?
Saya tidak pernah menggunakan nama Mainaky untuk dapat masuk pelatnas dengan cuma-cuma. Saya sadar diri karena belum lama menekuni bulutangkis.

Lho, memang sejak kapan mengenal bulutangkis? Apakah orang tua tidak mengenalkan dunia tepok bulu ini?
Saya pegang raket sebenarnya sejak usia SD, sekitar umur 12 atau 13 tahun lah. Itupun waktu tinggal di Jepang. Dan waktu itu belum serius. Baru setelah kembali ke Indonesia, sekitar 2013 silam, saya merasa sudah saatnya untuk serius.


2. Belajar di Jepang

Bagaimana kompetisi bulutangkis di Jepang? 

Saya kalau ikut kejuaraan tidak atas nama klub, melainkan sekolah. Mulai dari jenjang SMP sampai SMA. Kejuaraannya beragam juga, tapi jenjangnya panjang kalau mau ikut yang nasional. Karena harus lolos wilayah dulu, kemudian kota dan provinsi. 

Selanjutnya dari setiap provinsi hanya satu wakil per nomor yang bisa ikut. Lah saya paling mentok urutan kedua provinsi. (Dia menjawab dengan tertawa.)

Ada perbedaan iklim bulutangkis di Jepang dengan Indonesia?
Waktu mewakili sekolah di Jepang itu rasanya bagaimana gitu. Karena tempat saya sekolah, olahraga bulutangkis jadi perhatian kalau ada yang mewakili. 

Bedanya antara Jepang dengan Indonesia dari segi antusiasme pendukung dan fasilitas latihan. Disana tidak pakai karpet seperti disini. Di Jepang langsung lantai dari kayu.

Pengalaman yang berkesan mengeyam ilmu bulutangkis di Jepang seperti apa?
Yang menarik (Lyanny terdiam sejenak dan senyum-senyum). Ada suatu kejuaraan yang pernah saya ikutin itu rada aneh. Maksudnya, pemenang setiap babak malah jadi linesman dan yang kalah berperan sebagai wasit. Sudah gitu, dalam sehari bisa enam kali main hingga final. Bayangkan capeknya. Hehehe...


3. Evaluasi Kompetisi

Saat ini, di Victor Indonesia International Challenge 2015, Lyanny kan kalah di babak kedua. Kira-kira apa penyebabnya?

Saya terbawa tempo cepat lawan Dinar Dyah Ayustine (Lyanny kalah 16-21, 21-18 dan 14-21). Saya dulu pernah jadi lawan latih tandingnya waktu magang di pelatnas. Selain itu, saya merasa kurang di segi stamina.

Bagaimana mengatasinya? Apakah selama latihan juga bermain dengan paman-pamannya?
Saya coba perbaiki secepatnya sebelum ikut Jepang Open minggu depan. Kalau latihan kan selama ini ikut klub Putra Mainaky. Jika paman-paman ada waktu tentu main. Tapi, saya lebih banyak dengan sepupu sesama Mainaky dan Mama.


4. Mimpi dan Teladan

Apa impian yang ingin dicapai?
Tentu saja ikut turnamen major dan meraih juara. Tapi saya masih dangkal. Saya akan memulainya pelan-pelan. Selain di Jepang Open, saya juga bersiap ikut Pra PON bulutangkis membela Banten, Oktober mendatang. Targetnya, sudah pasti lolos ke PON XIX/2016 Jawa Barat donk.

Apakah ada pebulutangkis yang dijadikan panutan untuk memiliki gaya bermain? Atau ingin menciptakan gaya main sendiri?
Saya mengagumi pebulutangkis asal China Taipe, Tai Tzu Zing dan Wang Shixian dari China. Tentu juga mempelajari gaya bermain idola-idola saya. Waktu latihan dengan sepupu saya coba gayanya. Kalau cocok yang dipakai, kalau ndak ganti gaya.

Seleb SportsLyanny Alessandra Mainaky

Berita Terkini