x

3 Alasan Bulutangkis Indonesia Alami Kemunduran

Senin, 18 Januari 2016 14:25 WIB
Penulis: Herry Ibrahim | Editor: Ramadhan

Bulutangkis ditargetkan mendapatkan dua emas di perhelatan akbar Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil 2016 mendatang. Untuk itu, olahraga tepok bulu mendapat perhatian khusus agar target yang dibebankan bisa tercapai.

Namun jelang Olimpiade 2016, terdapat suatu hal yang mungkin bisa saja mengkhawatirkan seperti yang ditemui oleh pihak pemerintah dalam hal ini Satlak Prima yang belum lama mengunjungi pemusatan latihan PBSI di Cipayung yakni fasilitas latihan yang dianggap kurang memadai.

Kemunduran prestasi bulutangkis tampaknya tak hanya disebabkan karena fasilitas latihan. Aspek-aspek lain seperti program latihan, mental dan fisik para pemain, hingga soal kepengurusan disinyalir menjadi penyebab utama turunnya prestasi.

Berikut INDOSPORT merangkum komentar beberapa pelaku terkait penyebab kemunduran prestasi bulutangkis Indonesia:


1. Fasilitas Buruk

Seperti kata ketua Satlak Prima, Achmad Sutjipto usai kunjungannya beberapa waktu lalu, fasilitas Pelatnas Cipayung dianggap sangat kurang. Menurutnya, peralatan gym sudah banyak yang tidak memenuhi standar dan harus diganti.

Selain itu, jogging track, belum adanya sauna dan hydroteraphy, fisioterapi yang sederhana serta minimnya ahli urut profesional tak luput dari pengamatannya. Untuk itu demi kemajuan bulutangkis, Sutjipto berharap ada tanggung jawab dari pemerintah soal pengelolaan infrastruktur kedepannya.

Tak hanya bulutangkis, fasilitas untuk olahraga lain di Indonesia memang dikenal cukup buruk. Jadi tak heran kalau prestasi olahraga kita sudah tertinggal dari negara-negara lain.


2. Pola Latihan

Menurut legenda bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat dalam salah satu acara talkshow di tv swasta, peraih emas tunggal putra Olimpiade 2004 ini berpendapat pola latihan harus diubah total. Menurutnya dari tahun 80an, 90an, 2000 hingga sekarang masih sama.

Taufik menyebut seperti tidak ada peningkatan terkait program latihan yang dinilainya masih sama dari dulu sampai sekarang. Aspek mental, fisik juga menjadi sorotan suami dari Ami Gumelar ini.


3. Manja

Sektor Tunggal putri dan tunggal putra mungkin sektor yang dinilai mengalami kemunduran paling drastis. Indonesia belakangan hanya mengandalkan nomor ganda putra dan ganda campuran untuk meraih gelar di berbagai ajang kejuaraan di dunia.

Menanggapi sektor tunggal putri, mantan pebulutangkis yang kini menjadi asisten pelatih tunggal putri pelatnas, Sarwenda Kusumawardhani pernah melontarkan pandangannya terkait hal tersebut. Menurutnya, atle putri saat ini manja.

“Saya sudah sering melatih tunggal putri. Kalau dilihat-lihat atlet tunggal putri sekarang manja-manja, beda sama zaman saya dulu,” kata Sarwenda.

PBSITaufik HidayatOlimpiade Rio de Janeiro

Berita Terkini