Kisah Pria Indonesia Terhebat di All England
Pada 8-13 Maret mendatang kejuaraan bergengsi dan tertua di cabor bulutangkis, All England edisi ke 117 akan dihelat.
Sebelum masuk ke ketatnya persaiangan siapa yang terbaik di All England 2016, INDOSPORT coba untuk membawa pembaca setia untuk masuk ke mesin waktu. Mencoba bernostalgia di era 60-an.
Era dimana salah satu putra terbaik Indonesia dikukuhkan sebagai pria terhebat di ajang All England. Kita tepatnya akan kembali ke 1967 atau di even All England edisi ke 68.
Bertempat di Empress Hall, Earls Court, London, Inggris, pecinta bulutangkis dunia saat itu tertuju pada final tunggal putra. Menariknya final kali itu bukan final sembarangan antara dua tunggal putra semata.
Aroma politik masih sangat kental terasa. Bagaimana tidak, dua pebulutangkis yang tampil di final berasal dari Indonesia dan Malaysia. Dua negara yang beberapa tahun sebelum penyelenggaraan All England saling berkonfrontasi politik.
Indonesia saaat itu diwakili oleh pebulutangkis kelahiran Surabaya, Jawa Timur. Ia memiliki nama lahir, Nio Hap Liang. Sedangkan Malaysia diwakili oleh Tan Aik Huang.
Sesaat sebelum pertandingan, Empress Hall yang saat ini sudah ditutup secara permanen dan menjadi sebuah museum dipadati oleh banyak penonton. Parkiran terisi kendaraan beroda empat.
Bangku-bangku penonton terisi penuh. Keamaan Kerajaan Inggris ada dimana-mana, wajar memang karena saat itu Ratu Inggris, Elizabeth II datang dan yang akan memberikan piala untuk para juara.
Sejumlah pihak menyebut laga ini merupakan salah satu final terbaik di All England. Bahkan situs resmi All England, allenglandbadminton.com menyebut laga ini sebagai,
"Laga yang menghasilkan tunggal putra terhebat di kejuaraan ini,".
1. Tidak 'Direstui'
Indonesia era 60-an memang era yang tak mengenakkan. Konflik politik berkepanjangan merembat pada semua bidang kehidupan, termasuk ke ranah olahraga.
Keikutsertaan Rudi Hartono untuk main di All England pun menemui sejumlah hambatan. Bahkan bisa disebut, Rudi main di All England tidak mendapat 'restu'.
Ceritanya saat itu, Ketum PBSI saat itu, Sudirman memutuskan tidak akan mengirimkan pemain ke All England. Masalah dana jadi masalah utama. PBSI saat itu hanya memiliki dana untuk memberangkatkan hanya 5 pemain minus Rudi Hartono. Nama Rudi Hartono tidak masuk kuota.
Keputusan Sudirman ditentang banyak pihak termasuk eks ketum PBSI, Soekamto Sayidiman. Ia yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bahkan sampai harus mencari pinjaman agar Rudi Hartono bisa berangkat.
2. Aroma Politik
Jika sedikit menengok politik, laga final tunggal putra All England 1967, tentu terbilang tidak adil. Pasalnya tunggal putra Malaysia seperti bertanding di rumah sendiri. Saat konfrontasi Indonesia-Malaysia, Inggris jadi pihak yang sangat mendukung berdirinya Malaysia.
Tekanan berat ada di pundak Nio Hap Liang. Terlebih pebulutangkis yang bernama Indonesia, Rudi Hartono masih 'anak bau kencur'. Rudi Hartono saat itu masih berusia 18 tahun 141 hari. Ditambah ini jadi All England pertama yang ia ikuti.
Tak ada yang mengunggulkan Rudi Hartono saat itu, ia masih 'hijau' dan berasal dari negara yang tiga tahun sebelumnya diguncang oleh huru hara politik, G30S. Dunia masih mencibir Indonesia saat itu. Rudi yang berasal dari etnis China harus berjuang demi Merah Putih. Padahal di beberapa tahun sebelumnya, etnis China jadi korban di G30S. Beban yang teramat berat.
3. Kalahkan wakil tuan rumah
Usai berlatih keras dengan sang Ayah, Zulkranain Kurniawan, Rudi Hartono tampil di babak pertama All England. Ia berjumpa dengan pebulutangkis asal Jepang, K.Meshino.
Dari sejumlah literatur, Rudi sukses tumbangkan Meshino dua set langsung, 15-6 dan 15-6. Nama Rudi Hartono masih belum diperhitungkan.
Di babak kedua, ia jumpa dengan pebulutangkis tuan rumah, Paul E Whetnall. Meski harus melawan pebulutangkis tuan rumah yang mendapat dukungan penuh, Rudi tak grogi. Lagi-lagi ia mampu meraih kemenangan dua set langsung, 15-5 dan 15-7. Rudi Hartono mulai diperbincangkan oleh banyak orang saat itu.
4. Semifinal yang sulit
Usai tumbangkan wakil tuan rumah, Rudi bertemu dengan dua pebulutangkis asal dua negara Skandinavia. Henning Borch di babak 16 besar, ia tumbangkan dengan skor 15-5 dan 15-4.
Selanjutnya wakil Swedia, S.Johansson. Rudi sukses menang 15-5 dan 15-8. Maju ke semifinal, Rudi Hartono baru mengalami kesulitan berarti.
Rudi Hartono bertemu dengan unggulan All England 1967, Svend Pri atau Andersen Pri. Di game awal, Rudi Hartono mampu menang mudah 15-9. Namun pada game kedua, pebulutangkis Denmark yang mampu bermain di nomor tunggal, ganda putra dan ganda campuran tersebut mampu membalikan keadaan. Ia memang 15-12.
Tekanan ada pada Rudi Hartono di game penentuan. Meski masih berusia sangat muda, ia mampu meredam emosi dan fokus pada pertandingan. Hasil memuaskan, ia mampu bermain bagus seperti pada game awal dan memenangkan pertandingan dengan skor 15-9.
5. Sukarno tersenyum
Rudi Hartono maju ke babak final. Semua orang di Indonesia tak menyangka si 'atlet baru' bisa melaju ke partai puncak. Ada kebanggaan namun juga ada keraguan, pasalnya yang dihadapi oleh Rudi Hartono ialah wakil Malaysia, Tan Aik Huang.
Presiden RI saat itu, Sukarno memang sedang menerapkan politik konfrontasi dengan Malaysia yang dianggapnya negara boneka buatan Inggris. Belum selesai konfrontasi, pecah tragedi G30S. Etnis China jadi salah satu korban tragedi tersebut.
Sukarno di era itu memang menanamkan politik masuk ke semua bidang kehidupan termasuk ranah olahraga. Semangat untuk harumkan Merah Putih dan pecundangi 'negara boneka' menyeruak di dada Rudi Hartono.
Lewat perjuangan dua set, Rudi Hartono sukses mempecundangi Tan Aik Huang dengan skor 15-12, 15-9. Ia jadi pebulutangkis termuda yang meraih juara All England. Rudi Hartono membuat Sukarno tersenyum. Di tahun-tahun selanjutnya Rudi Hartono sukses meraih gelar All England sebanyak 8 kali. Rekor ini sampai detik ini belum terpecahkan.
Senior Rudi Hartono, Tan Joe Hok menyebut bahwa rekor Rudi Hartono akan abadi dan Rudi Hartono layak mendapatkannya, pasalnya Rudi menurut Tan Joe Hok,
"Dari awal saya sudah berpikir dia akan menjadi pemain hebat," ujar Tan Joe Hok melanjutkan. "Saat latihan benar-benar fokus, tidak mau kalah, dan tidak mau menyerah. Barang langka, sulit untuk mencari orang seperti dia." kata Tan Joe Hok.