x

Pertaruhan Karier dan Bukti Cinta Andy Murray

Senin, 21 Maret 2016 15:25 WIB
Editor: Randy Prasatya

11 April 2015 menjadi saat bahagia yang menyelimuti Andy Murray dan sang kekasih, Kim Sears. Bulan keempat dari hitungan kalender masehi tersebut juga menjadi saat yang membahagiakan bagi kebanyakan orang yang hidup di Eropa. Pasalnya, saat itu telah memasuki musim semi, yang di mana pepohonan mulai tumbuh dan bunga bermekaran setelah sejak bulan Desember diterpa musim dingin.

Di musim semi Murray memberanikan diri mengikat sumpah dengan Kim di Gereja Dunblane Cathedral, Skotlandia, setelah berpacaran selama 9 tahun. Namun, dari acara pesta pernikahan yang menghabiskan dana sebesar Rp34,8 miliar itu tak ada seorang pun selebritis yang hadir. Alasannya cukup menarik, petenis tersebut hanya ingin pesta terlihat sederhana dan ingin hari bahagiannya tersebut dinikmati oleh orang-orang terdekat dengan ikatan emosional yang tinggi terhadapnya.

"Hanya orang-orang terdekat dan mereka yang memiliki ikatan dengan masa lalu kami yang mendapat undangan," kata Andy Murray, seperti dikutip dari Telegraph, 7 April 2015.

Meski demikian, acara tersebut tak luput dari pantauan media. Puluhan kamera setidaknya terlihat sudah siap mengeker kedatangan Kim di depan Katedral Dunblane, yang kala itu tiba dengan menggunakan mobil pengantin berwarna putih.

Kedatangan sang kekasih pun menandakan kehidupan segera berubah dan tanggung jawab semakin bertambah, dengan upaya merealisasikan impian membina keluarga yang harmonis, cerita pun dimulai.


1. Keluarga di Atas Segalanya

Andy Murray merayakan kemenangan atas David Ferrer

Perubahan kehidupan dan pola pikir Murray mulai terlihat berubah drastis setelah usia pernikahan memasuki bulan kesembilan, yang tepatnya terjadi di bulan Januari 2016, saat usia kandungan Kim yang juga baru berumur 9 bulan.

Petenis yang kini berusia 28 tahun tersebut meletakan keluarga di atas segala-galanya. Bahkan berjanji akan meninggalkan Grand Slam Australia Terbuka jika sang buah hati lahir saat turnamen masih bergulir.

“Sebagaian besar hari saya hanya berpikir tentang bayi. Ini perubahan besar yang hadir. Ini sangat menarik. Saya yakin semua orang di sini yang memiliki anak pertama akan berpikir hal yang sama,” ungkap Murray jelang persiapannya di Australia Terbuka 2016, seperti dikuti dari Daily Mail, 16 Januari 2016.

"Saya belum pernah dalam posisi ini, sehingga menjadi sesuatu yang baru bagi saya untuk mengatasi dengan baik,” sambungnya.

Perhatian lebih yang diberikan Murray tidak hanya untuk Kim. Dia juga sangat mencintai Nigel Sears, yang merupakan ayah mertua dan menjadi pelatih Ana Ivanovic. Hal itu dia tunjukan saat Nigel mendadak kolaps di lapangan, ketika mendamping petenis wanita asal Serbia tersebut bertanding.

Setelah mengetahu kabar tersebut, beban pikiran pun bertambah untuk Murray. Bahkan, dia juga tak segan meninggalkan turnamen Australia Terbuka jika sang ayah tak kunjung sadarkan diri.

"Sesuatu hal jelas pernah terjadi dengan keluarga saya di tingkat yang lain, tapi tidak di tengah grand slam dan Kim yang hamil tua juga. Saya tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Beberapa hari terakhir terasa sulit, itu jelas," ujar Murray seperti dikutip The Guardian.


2. Melawan Hati dan Pikiran di Laga Final

Meski dalam kondisi pikiran yang tidak baik, Murray berhasil melaju ke laga final Australi Terbuka 2016 dan berjumpa Novak Djokovic. Pertemuan tersebut tidak serta merta menjadi pertandingan yang ringan, sebab data statistik pertemuan tidak berpihak pada petenis asal Inggris Raya itu. Terbukti, Murray harus rela dipecundangi Djokovic dengan kekalahan tiga set langsung, 6-1, 7-5, dan 7-6.

Pernyataan mengejutkan pun dia lontarkan saat memberikan ucapan di atas mimbar Australia Terbuka setelah penyerahaan piala dan karangan bunga. Murray menyatakan rasa terima kasih atas dukungan Kim selama dua minggu terakhir dengan sedikit mata berkaca-kaca.

"Kau sebuah legenda dalam dua minggu terakhir. Terima kasih atas dukungannya dan saya akan pulang pada penerbangan berikutnya,” ungkap Murray seperti dikutip The Guardian.

Hal itupun benar dilakukannya setelah prosesi penyerahan piala selesai. Murray langsung melaju menuju bandara Tullamarine dengan melintasi kota Melbourne yang telah kosong untuk mengejar penerbangan jam 1 pagi waktu setempat.

Memang terlihat amat terburu-buru. Rasa letih pasca pertandingan final pun dia singkirkan jauh-jauh demi secepat mungkin bertemu sang istri. Namun, rencana tersebut rupanya telah dia siapkan sejak lima hari sebelum laga puncak.

"Saya ingin segera pulang saat ini. Terlepas dari hasil hari ini, itu sudah sulit. Seandainya saya kalah pada putaran ketiga atau keempat tetap saja akan sulit dengan semua yang terjadi. Saya sudah memesan satu penerbangan selama lima hari,” ucap pria kelahiran 15 Mei 1987.

"Dia (Kim) luar biasa, mengatasi segala sesuatu dengan sangat baik. Saya harus berterima kasih kepadanya karena mengizinkan saya untuk bermain dan tinggal di sini dengan segala sesuatu yang berlangsung,” sambungnya.

Beruntung, dia pun dapat pulang dengan selamat dan tak sedikitpun kehilangan momen penting di saat-saat persiapan kelahiran anak pertama yang terjadi pada 9 Februari, atau sembilan hari setelah ajang Australia Terbuka


3. Setiap Pertandingan adalah Sophia

Beban akan ketakutan tak bisa berada di samping Kim runtuh seketika setelah dapat menyaksikan kelahiran Sophia Olivia secara langsung. Buah hati dari hasil kasih sayang mereka menjadi pewarna baru di dalam kehidupan rumah tangga.

Dapat menggendong dan terbangun di tengah malam karena tangis Sophia yang lapar pun dapat dirasakan Murray dengan baik. Bahkan, usai mengalahkan Kei Nishikori di Piala Davis pada 6 Maret lalu, dia dengan cepat bergegas pulang usai pertandingan demi menemani buah hati tidur.

"Saya akan pulang untuk mandi, lalu akan menemani ia tidur, bukan Kim, tapi bayi saya," ujar Murray penuh senyum dan canda.

Tidak hanya di Piala Davis dia menegaskan isi kepalanya yang selalu dihinggapi Sophia. Setelah tersingkir di ajang Indian Wells, Murray tak sedikitpun menunjukan raut dan ucapan penyesalannya dari kekalahan itu. Justru dia ingin pulang dan segera bermain dengan sang anak.

"Saya melihatnya mereka (Sophia dan Kim) dalam beberapa hari, ya akan menyenangkan. Saya tidak harus khawatir tentang bagaimana saya bermain," kata Murray seperti dikutip dari Tennis.com, 15 Maret 2016.

Bagi Murray, kini Sophia hal utama, istri hal kedua, dan karier akan selalu berada di bawah kepentingan keluarga. Setidaknya hal itu sudah terbukti sejak keikhlasannya untuk segera meninggalkan pertandingan demi menanti kelahiran anak pertama dan tak peduli kalah di Indian Wells asal bertemu Sophia dan Kim.

Seorang pria sejati mencintai istrinya, dan menempatkan keluarganya sebagai hal yang paling penting dalam hidup. Itulah yang tergambar pada tingkahlaku Murray saat ini.

Australia TerbukaAndy MurrayPiala DavisNovak DjokovicIn Depth Sports

Berita Terkini