Althea Gibson, Mutiara Hitam Wimbledon Pertama Dalam Balutan Rasisme Dunia Part I
Pada masa kini, pecinta olahraga, khususnya dunia tenis pastinya telah mengetahui dua nama bersaudara, Serena dan Venus Williams, merupakan wanita berkulit hitam paling sukses dan terbaik di cabang olahraga tersebut.
Hal itu tak lepas dari prestasi dan gaya bermain mereka yang mengaggumkan di atas lapangan dalam setiap kompetisi yang digelar.
Jauh sebelum Williams bersaudara menjadi juara, dunia tenis memiliki Althea Gibson, sosok kulit hitam pertama yang berhasil menjadi terdepan di kala rasisme dunia sedang tinggi.
Lalu siapakah Althea Gibson itu? Berikut ini INDOSPORT siap memaparkannya:
1. Anak Petani yang Gemar Berolahraga
Di sebuah pinggiran kota Silver, kawasan Clarendon County bagian Carolina Selaran, sepasang suami-istri yang bekerja sebagai petani di Cotton Farm, Daniel dan Annie Bell Gibson tengah menanti kelahiran anak pertamanya.
Seorang anak wanita yang tentunya keduanya tidak tahu akan memiliki nama besar di dunia ini, lahir pada tanggal 25 Agustus 1927 yang sepakat diberikan nama Althea Gibson.
Pada masa itu, sedang terjadi masalah krisis moneter atau keuangan secara global yang dikenal juga dengan nama The Great Depression, sehingga membuat keluarga sederhana ini harus pindah saat Althea masih berusia 3 tahun ke Harlem, tempat di mana ketiga adik perempuan dan satu adik laki-laki Althea lahir.
Pindah tempat tinggal di daerah apartemen terpencil, sepertinya menjadi berkah tersendiri bagi Althea Gibson. Hal itu dikarenakan tempat tinggalnya ini memiliki arena berolahraga, sehingga Althea memanfaatkannya dengan baik.
Pada masa itu juga sedang semarak olahraga tenis dayung (sejenis olahraga tenis, tetapi raketnya terbuat dari kayu berbentuk dayung) dan di sinilah Althea sering bermain bermain bersama anak-anak sebayanya.
Bahkan, Gibson juga sering dikabarkan kabur dari sekolahnya alias membolos dan memilih untuk berolahraga. Selain bermain tenis, Gibson remaja juga senang sekali berolahraga golf, namun olahraga tenis selalu menjadi pilihan utamanya.
Tak disangka juga ternyata Althea sangat mahir memainkan olahraga tersebut, ia pun menigkuti kejuaraan tenis dayung perempuan di New York City pada tahun 1939 dan gelar juara berhasil diraihnya saat ia masih berusia 12 tahun.
Dari gelar inilah membuat Althea Gibson membuka kran kariernya di dunia tenis untuk masa depannya.
2. Dari Tenis Dayung Hingga Kejuaraan Amerika
Setelah berhasil menjuarai Tenis Dayung, Althea mulai mengikuti kompetisi tingkat lebih tinggi di bawah naungan, Asosiasi Tenis Amerika (ATA).
Sebelumnya, ia juga sudah bergabung dengan sebuah tim bernama Cosmopolitan Tennis Club di Sugar Hill, bagian dari tempat tinggalnya, Harlem di tahun 1940.
Satu tahun bergabung dengan timnya, Althea berhasil meraih gelar juara ATA New York State Championship, selain itu ia mulai menambah gelarnya di tahun 1944 dan 1945.
3. Hampir Bergabung dengan Angkatan Darat
Memasuki tahun 1950, Althea Gibson mulai melambungkan namanya di perhelatan dunia tenis. Althea mendapat tantangan dari majalah America Lawn Tennis untuk dapat tampil di Amerika Serikat Terbuka yang ingin digelar di Forest Hills.
Menariknya lagi, dia merupakan satu-satunya pemain berkulit hitam pertama yang dipilih dan menjalani debutnya di kejuaraan tersebut saat menginjak usia 23 tahun.
Sayang kala itu ia gagal mendapatkan gelar karena kalah tipis dari Althea Louise Brough Clapp. Tidak lama setelah kompetisi ini, namanya mulai melambung dan sempat mendapat tawaran dari berbagai kompetisi baik di nasional maupun internasional.
Namun sayang, karena semakin meningkatnya rasialisme yang setiap kompetisi olahraga lebih didominasi oleh orang berkulit putih membuat dirinya frustasi dan ingin meninggalkan dunia olahraga.
Tepatnya di tahun 1953 lalu, Gibson yang juga baru lulus dari kuliahnya sempat berpikir untuk bergabung dengan dunia militer di Angkatan Darat Amerika Serikat (AS).
4. Catat Sejarah, Jadi Atlet Kulit Hitam Pertama Juara Prancis Terbuka dan Wimbledon
Dapat dikatakan, legenda sekaligus mantan petenis nomor 1 dunia, Alice Marmer merupakan kunci kesuksesan bagi Althea Gibson.
Tiga tahun sebelum Gibson memutuskan untuk bergabung dengan Angkatan Darat AS, Marmer pernah menulis sebuah artikel di majalah America Lawn Tennis, jika pemain seperti Gibson tidak akan dapat bermain di kompetisi sebesar Wimbledon.
Dianggap tak ingin merendahkan orang kulit putih, Gibson masuk dalam daftar 10 pemain yang terlibat di kompetisi Wimbledon. Hal ini pun membuat sebagian besar warga kulit putih di Amerika menerima keputusan tersebut.
Tidak heran jika di tahun 1953, Althea Gibson merasa frustasi sehingga dirinya ingin meninggalkan dunia olahraga.
Setelah melewati waktu yang cukup lama atau tepatnya hingga satu tahun lebih, Thea Gibson akhirnya sepakat untuk kembali memegang raket tenis dan di tahun 1955, Gibson mendapat sponsor dari Amerika Serikat, Lawn Tennis Associations untuk dapat mengikuti kompetisi di luar negeri.
Hasil mengagumkan, setelah kembali latihan dan mengembalikan peformanya di dunia tenis, pada tahun 1956 Althea Gibson mengikuti Prancis Terbuka. Ia pun berhasil keluar sebagai juaranya serta mencatatkan sejarah sebagai atlet kulit hitam pertama yang menjarai di kompetisi tersebut.
Tidak hanya itu saja, bahkan pada tahun berikutnya, Althea Gibson sukses merengkuh gelar Wimbledon 1957 dan kembali mencatat sebagai atlet kulit hitam pertama yang meraih gelar paling bergengsi tersebut di dunia tenis. Di tahun yang sama juga, Gibson berhasil menjuarai Amerika Serikat Terbuka.
Menariknya lagi tidak sampai di situ saja, karena pada tahun berikutnya 1958, dua gelar yang sama, yakni Wimbledon dan Prancis Terbuka juga kembali berhasil raih kembali.
Sejak saat itulah kariernya di dunia tenis terus meningkat dan ia juga mulai disegani di dunia olahraga karena kariernya tersebut.