Pernak-Pernik Tim Indonesia di Piala Sudirman 2017
Indonesia akan tampil dalam turnamen Piala Sudirman 2017 yang akan berlangsung di Gold Coast, Australia, pada 21-28 Mei mendatang.
Indonesia akan mengirimkan 20 pemain dalam kejuaraan ini, terdiri dari 10 atlet putra, dan 10 atlet putri. Para pemain 100 persen berasal dari Pelatnas Cipayung.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Susy Susanti, menyatakan tim tersebut merupakan tim terbaik.
Mereka diharapkan dapat memberikan penampilan optimal agar dapat mengembalikan trofi Piala Sudirman ke tanah air.
Turnamen beregu campuran ini memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Indonesia. INDOSPORT mengulasnya untuk anda.
1. Asal Nama
Banyak yang salah kira, soal nama yang digunakan untuk turnamen beregu campuran ini. Kebanyakan, langsung tertuju pada Panglima Besar Jenderal Sudirman yang memimpin pasukan gerilyawan saat perang kemerdekaan.
Meskipun memiliki nama yang sama, nama Sudirman yang dipakai untuk kejuaraan bulutangkis bergengsi ini berasal dari tokoh bulutangkis Indonesia, Dick Sudirman. Selain mantan pemain, Dick Sudirman juga merupakan pendiri Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).
Dick Sudirman juga sempat menduduki kursi Ketua Umum PBSI pada 1952 hingga 1963 dan di tahun 1967 hingga 1981.
2. Prestasi
Selain dari nama, piala kejuaraan ini juga sangat khas Indonesia. Bentuk badan piala berbentuk shuttlecock, dengan replika Candi Borobudur di bagian atasnya.
Hanya saja, Indonesia belum pernah lagi mengangkat trofi di kejuaraan ini, sejak pertama kali diselenggarakan pada 24-29 Mei 1989.
Dalam gelaran perdana yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Indonesia menang 3-2 saat berhadapan dengan Korea Selatan di partai final.
3. Kolektor Runner Up
Meski hanya sekali merasakan gelar juara, Indonesia selalu berusaha keras mengulang momen membanggakan tersebut. Tercatat sejauh ini, Indonesia telah enam kali berada di posisi runner up, yaitu pada 1991, 1993, 1995, 2001, 2005, 2007.
Hal ini membuat Indonesia menjadi kolektor runner up terbanyak, disusul Korea Selatan yang empat kali menduduki posisi runner up pada 1989, 1997, 2009, dan 2013.
Sementara itu, China menjadi pengoleksi gelar juara terbanyak. Negeri Tirai Bambu telah 10 kali merebut Piala Sudirman, yaitu pada 1995, 1997, 1999, 2001, 2005, 2007, 2009, 2011, 2013, dan 2015.
Sejauh 14 edisi yang telah berlangsung selama ini, Piala Sudirman baru menghasilkan tiga juara saja. Selain Indonesia dan China, Korea Selatan juga pernah merasakan gelar juara, sebanyak tiga kali.
4. Comeback Susy Susanti
Keberhasilan Indonesia menorehkan prestasi di Piala Sudirman tak lepas dari penampilan ajaib Susy Susanti.
Saat itu, Indonesia yang menghadapi Korea Selatan di babak final, sudah kalah 0-2. Ganda putra Eddy Hartono/Rudy Gunawan gagal membuka poin setelah kalah rubber 9-15, 15-8, dan 13-15, dengan Park Joo Bong/Kim Moon-soo.
Ganda putri Verawaty Fajrin/Yanti Kusmiati yang tampil setelahnya, juga kandas saat menghadapi Hwang Hye-young/Chung Soo-young, dengan 12-15, 6-15.
Susy Susanti yang tampil di laga ketiga, kalah 10-12 pada game pertama melawan Lee Young-suk. Susy berhasil membalas pada game kedua dengan 12-10. Pada game penentu, Susy tak memberikan kesempatan pada lawannya dan kembali membuka harapan pada tim Merah Putih, dengan kemenangan 11-0 pada game penentu.
Kemenangan Susy menjadi inspirator bangkitnya Indonesia. Eddy Kurniawan menang 15-4 dan 15-3 untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Setelah itu, Eddy Hartono/Verawaty Fajrin memastikan kemenangan Indonesia setelah dalam pertandingan menang 18-13. 15-3.
Saat ini, Susy yang menjabat Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI comeback ke Piala Sudirman, sebagai manajer tim. Diharapkan kehadiran Susy kembali membuka harapan Indonesia untuk memulangkan Piala Sudirman.
5. Pemain Tertua dan Paling Pengalaman
Indonesia telah mengumumkan susunan pemain yang akan tampil di Piala Sudirman 2017. Mereka berjumlah 20 orang yang terdiri dari 10 pemain putra dan 10 atlet putri.
Dari nama-nama yang diturunkan, peraih medali Olimpiade 2016 di nomor ganda campuran, Tontowi Ahmad, menjadi pemain paling senior dari rekan-rekannya dalam tim. Pemain asal Banyumas itu, saat ini berusia 29 tahun dengan kelahiran 18 Juli 1987.
Meski tak jauh beda secara usia, Greysia Polii lebih senior dari segi pengalaman. Atlet ganda putri kelahiran 11 Agustus 1987 itu, telah tampil dalam 6 turnamen Piala Sudirman, sejak 2005-2015 lalu. Sementara Owi baru tiga kali tampil sejak 2011.
Sementara itu, pemain tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung, menjadi pemain paling muda dalam skuat Merah Putih. Grego yang lahir di Wonogiri, 11 Agustus 1999, saat ini masih berusia 17 tahun.