3 Perenang Muda yang Menggemparkan Olimpiade Rio 2016
Dalam kurun waktu dua hari terakhir di Olimpiade 2016, yang berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, tiga nama atlet perenang muda muncul ke permukaan, mencatatkan rekor, dan mengejutkan dunia dengan prestasi yang mereka torehkan.
Manuel mencatatkan sejarah meraih medali emas di nomor 100 meter gaya bebas putri, dan jadi perenang Afro-Amerika pertama yang memenanginya. Ia baru berusia 20 tahun, dan berhasil meraihnya bersama perenang muda lainnya asal Kanada, Oleksiak, yang bahkan baru berusia 16 tahun!
Catatan gemilang keduanya diikuti di kategori putra nomor 100 meter gaya kupu-kupu. Pemegang rekor dunia berturut-turut asal Amerika Serikat, Michael Phelps, kalah oleh perenang asal Singapura berusia 21 tahun, Joseph Schooling. Kekalahan itu langsung memunculkan pemikiran di benak Phelps, untuk pensiun.
Kehadiran tiga perenang muda itu pun menandakan peralihan generasi. Belum banyak yang mengenal ketiganya, dan INDOSPORT coba mengulik profil ketiga perenang tersebut, berikut ulasannya:
1. Joseph Schooling
Seorang yang bekerja keras dan memiliki tekad yang kuat, memiliki kans untuk mengalahkan seseorang yang diidolakannya. Contoh itu bisa terlihat pada diri Schooling, yang menaklukkan pemegang rekor renang di nomor putra, Phelps.
Keduanya pernah bertemu pada 2008, dan Schooling sangat mengagumi serta mengidolai Phelps. Kala itu Schooling menghadiri pemusatan latihan Amerika Serikat, yang akan mengikuti Olimpiade Beijing, dan Schooling menyempatkan diri berfoto dengan idolanya tersebut.
Tak ayal, foto itu melecut motivasi Schooling, dan delapan tahun kemudian, ia mengalahkan sang idola di hadapan penonton dunia. Schooling berpaspor Singapura, namun memutuskan pindah ke Florida demi mengejar cita-cita menjadi perenang terbaik dunia. Ia belajar di Sekolah Bolles.
Namun dalam perjalanan kariernya, Schooling juga sempat menghadapi ujian kala lulus SMA pada 2013. Ia dilema dengan tawaran beasiswa yang ditawarkan Universitas Texas, yang dilatih Eddie Reese. Tapi di satu sisi ia juga harus mengikuti Layanan Nasional Bela Negara selama dua tahun, yang menjadi persyaratan hukum untuk semua pria Singapura.
Akan tetapi akibat bakat yang dimiliki Schooling sebagai perenang. Negara Singa pun memberikan kelonggaran, tidak mengikuti Layanan Nasional Bela Negara selama tiga tahun, untuk mengikuti Olimpiade Rio. Negosiasi itu dilakukan oleh Institut Olahraga Singapura.
Kebaikan negara yang diberikan kepada Schooling pun, tak disia-siakan perenang berusia 21 tahun itu. Ia meraih medali emas di nomor 100 meter gaya kupu-kupu, mengalahkan pemegang rekor dunia, Phelps.
Sejumlah prestasi pernah dicatatkan Schooling, seperti medali perunggu 100 meter gaya kupu-kupu di ASEAN Games 2011 yang berlangsung di Indonesia, perenang pertama Singapura yang memenangi medali di Commonwealth Games pada 2014 di Glasgow, Skotlandia.
Di Olimpiade 2016, ia memecahkan rekor catatan waktu terbaik Olimpiade dengan waktu 50.39 detik. Kemenangan yang bahkan memunculkan pikiran untuk pensiun, dari seorang Phelps.
2. Simone Manuel
Lahir di Houston, Amerika Serikat, pada 2 Agustus 1996. Simone merupakan anak termuda dari tiga bersaudara, dan memiliki dua kakak pria. Ia sudah berlatih keras untuk menjadi perenang, sejak berusia empat tahun, karena saat itu Simone hanya menyaksikan kedua kakaknya berenang.
Sang ibu menyekolahkannya ke sekolah renang, terus mengembangkannya hingga berada dalam tim perenang di Stanford University. Karier cemerlang Simone sudah terlihat sejak mengikuti kejuaraan NCAA (National Collegiate Athletic Association).
Dua kali Simone menjadi juara NCAA mewakili Stanford Cardinals, dan setelahnya ia menjadi salah satu dari tiga perenang Afro-Amerika yang berada di tiga besar di nomor 100 meter gaya bebas, dalam kejuaraan NCAA pada 2015.
Tangisan haru yang merepresentasikan kebahagiaan langsung dikeluarkan Simone, kala dipastikan meraih medali emas di Olimpiade bersama dengan Oleksiak. Kutipan terbaik Simone muncul, setelah ia meraih medali emas tersebut.
“Sebuah kehormatan mewakili Amerika Serikat! Tuhan membantu saya! Saya merasa diberkahi dan bersyukur,” ucap Simone.
“Banyak orang yang mendukung saya berpikir perbedaan adalah hal yang besar, dan begitu juga saya – jadi bagian dari peranan saya, adalah membantu yang lain, dan juga olahraga renang. Melalui renang Amerika Serikat,” tegasnya.
3. Penny Oleksiak
Pada nomor 100 meter gaya bebas putri. Simone tak sendiri meraih medali emas, karena ia juga bersaing ketat dengan Oleksiak berjuang mencapai garis finis. Juri menyatakan keduanya sebagai peraih medali emas, karena sampai di waktu yang sama.
Jika Simone meraih medali emas sebagai perenang Afro-Amerika pertama, maka Oleksiak meraihnya dengan gemilang di usia 16 tahun. Namun jika melihat latar belakangnya, tak heran jika Oleksiak meraih prestasi gemilang tersebut.
Perenang kelahiran Toronto itu, dibesarkan dari keluarga yang menggemari olahraga. Saudara laki-laki Oleksiak bermain sebagai pemain hoki profesional di Dallas Stars, sementara saudari perempuannya menjadi pedayung kompetitif di Northeastern University.
Oleksiak sudah mulai melakoni olahraga renang sejak berusia 12 tahun, dan menjadi perenang klub Toronto di bawah arahan pelatih Bill O’Toole. Raihan medalinya dimulai sejak 2015 di ajang Kejuaraan Renang Dunia Muda FINA.
Ia memenangi medali perak di nomor 100 meter gaya bebas putri, dan kemudian meraih hasil serupa di nomor 50 dan 100 meter gaya kupu-kupu. Berbekal perolehan dan pengalaman yang Oleksiak dapatkan, ia positif percaya diri menatap Olimpiade Rio 2016.
Hasilnya? Perlahan dari dua medali perunggu di nomor 400 dan 800 meter gaya bebas, Oleksiak menjadi perenang asal Kanada pertama sejak Mark Tewksbury, yang memenangi medali emas di Olimpiade pada 1992. Ia meraih medali emas bersama Simone.