Benfica merupakan salah satu klub yang sarat sejarah dan tradisi di kancah sepakbola Portugal dan Eropa. Klub berjukukan Águias alias Elang berambisi mengembalikan nama besar mereka di level Eropa. Tapi, usaha mereka selalu gagal.
Sepanjang sejarah, Benfica total sudah mengoleksi 69 trofi utama. Koleksi gelar yang menjadikan mereka sebagai klub Portugal paling sukses sepanjang masa. Tapi, dalam dekade terakhir kiprah Benfica, terutama di ranah Eropa kalah menterang daripada rival utama mereka FC Porto.
Sejak menjadi juara Eropa pada 1962, Benfica tak lagi mampu bersuara di level Eropa. Pada periode yang sama Porto sukses membawa pulang 7 trofi level Internasional.
Musim lalu, Benfica berpeluang meraih trofi kompetisi Eropa mereka sejak 1962. Tapi Benfica gagal setelah takluk di tangan asal London, Chelsea. Kontan tak sedikit yang berpikir Benfica belum lepas dari kutukan satu abad Bela Guttmann.
Guttmann adalah pelatih yang membawa Benfica menjuarai Piala Champions 2 kali beruntun, 1961 dan 1962. Gaya kepelatihannya dikenal sangat revolusioner pada era tersebut. Dari tangan pelatih asal Hongaria Benfica leahirkan legenda seperti José Águas, Mário Coluna, José Augusto, José Torres, António Simões, dan Eusébio.
Di bawah asuhan Guttman, Benfica mengakhiri dominasi Real Madrid di Tanah Eropa. Tapi setelah menjadi juara 1962, nasib Benfica berubah drastis. Inilah awal dari kisah kutukan Guttmann.
Sukses bawa Benfica menguasai Eropa, Guttman menuntut kenaikan bayaran. Klub menolak permintaan dan Guttmann memutuskan hengkang. Saat itu Guttmann mengeluarkan “kutukan”. “Benfica tak akan bisa juarai Piala di Eropa selama 100 tahun dari saat ini,” kata Guttmann.
Sejak ucapan Guttmann tersebut, Benfica memang selalu gagal menjadi juara di Eropa meski 6 kali tampil di final. Guttmann wafat pada 1981 saat berusia 82 tahun.
Kutukan Guttmann bahkan sempat membuat Eusébio berdoa di depan makam Guttmann saat betrkunjung ke Wina, Austria, tempat Guttmann dimakamkan. Sang legenda meminta Guttmann untuk mengangkat kutukannya.
“Tiap Benfica tampil di kancah Eropa, mereka mencoba patahkan kutukan. Tiap Benfica bermain di dekat Wina, mereka menabur bunga. Kutukan tak hilang,” ujar Jose Carlos Soares, jurnalis Portugal.
Kutukan Guttmann kini sudah berusia 52 tahun. Apakah Benfica bisa mematahkan kutukan dengan menjuarai Liga Europa kali ini? Apakah Benfica harus menunggu 48 tahun, hingga masa kutukan habis? Untuk menjawab itu, Benfica harus lebih dulu menyingkirkan Tottenham, seperti yang dilakukan Guttmann 52 tahun lalu saat memimpin Benfica mendepak Spurs di semifinal Piala Champions.