Sejak menukangi Chelsea, Ranieri menjadi figur yang banyak disorot oleh media Inggris. Hal tersebut tak lepas dari kebiasaanya yang gemar mengutak-atik komposisi pemain.
Pria asal Italia ini merupakan sosok pelatih pertama di era kepemimpinan Roman Abramovich. Sejak kedatangan miliarder asal Rusia tersebut Ranieri dengan leluasa dapat membeli pemain berkualitas hingga membawa Chelsea ke Semifinal Champions untuk pertama kalinya di era Abramovich.
Akan tetapi, meski terus memperlihatkan grafik yang menanjak saat membesut Chelsea, mantan pelatih Juventus itu mahal didepak dari kursi kepelatihan.
Jose Mourinho yang menjadi suksesornya berhasil merasakan buah manis fondasi yang telah dibangun pria 63 tahun tersebut dengan memenangi gelar Liga Primer Inggris.
Dan untuk tahun ini Ranieri kembali ke Inggris untuk membanggun fondasi yang koko bagi Leicester City. Tak main-main, klub berjulukan The Foxes kini bertengger di papan atas klasemen bersama duo Manchester dan Liverpool dengan menyapu bersih dua pertandingan awal di liga.
Atas catatan apinya itu, ia pun mendapat pertanyaan oleh salah satu wartawan terkait senang atau tidak atas julukan The Tinkerman yang diberikan para wartawan Inggris saat membesut Chelsea.
"Tidak, aku suka Tinkerman! Ini nama panggilan saya," ujar Ranieri dikutip Sky Sports.
"Anda (wartawan) memberi saya nama panggilan dan saya senang dengan itu. Jika Anda memunculkan julukan baru bagi saya, maka kita harus membahasnya,” tandas mantan pelatih Yunani tersebut.
Dalam karier kepelatihannya, Ranieri sukses membuat fondasi yang ideal saat membesut Parma, Juventus, dan AS Monaco,