Pertandingan melawan Madura United memang berjalan dengan tensi panas sejak menit pertama. Beragam aksi keras menjurus kasar diperagakan kedua tim yang saling mengejar gol untuk mencetak angka.
Di pertengahan babak kedua, terjadi aksi bernada walk out yang dilakukan para pemain Mitra Kukar. Tak puas dengan keputusan Agus Fauzan Arifin yang memberi hadiah tendangan bebas di dekat kotak penalti, Arthur Da Rocha dkk melancarkan protes keras dan kemudian menepi ke pinggir lapangan.
Aksi yang ditengarai mengarah ke walk out pun dibenarkan oleh sang pelatih. Menurut Subangkit, aksi itu sudah disepakati dengan suatu alasan.
"Aksi (mengarah) walk out itu sesuai kesepakatan sejak awal. Jika wasit dinilai tidak adil dan bisa menimbulkan potensi keributan, kita sejenak menepi ke lapangan," kata Pelatih Mitra Kukar tersebut.
Lebih lanjut, Subangkit menepis anggapan bahwa instruksi untuk menepi ke pinggir lapangan bukan semata untuk memprotes keputusan wasit, yang dinilai merugikan timnya.
"Karena tensi panas, jadi memberi jeda waktu agar situasi kembali normal," urai mantan Pelatih Persema Malang tersebut.
Ketika ditanya tentang kepemimpinan wasit asal Sleman itu, dirinya mengembalikan kepada publik sepak bola tanah air yang juga menyaksikan pertandingan dari televisi secara langsung.
dan soal wasit, saya tidak pernah mengomentari.
"Saya tak mau mengomentari. Silakan Anda yang menilai," pelatih kelahiran Pandaan, Kabupaten Pasuruan itu memungkasi.