Siapa yang tak mengenal nama Bima Sakti? Nama tersebut sangat familiar di telinga para pencinta sepakbola Indonesia. Maklum, ia tercatat sebagai mantan kapten Tim Nasional (Timnas) Indonesia, dan pemain tangguh di posisi gelandang bertahan pada masanya.
Bima Sakti lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada tanggal 23 Januari 1976. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Semasa kecilnya, Bima Sakti justru tidak tertarik bermain sepakbola. Ia lebih berminat untuk menjadi atlet bulutangkis.
Bima Sakti mulai tertarik dengan sepakbola ketika ikut serta bersama tim sekolahnya, SMP Negeri 5 Balikpapan, dalam sebuah kejuaraan pada tahun 1980-an.
"Sekolah kami keluar sebagai juara, dan saya menjadi top skor," ujar Bima, dikutip dari JPNN.com
.jpg?w=460&h=259)
Bima Sakti saat memperkuat Persegres Gresik United.
Sejak itulah Bima mantap untuk bermain sepakbola. Dia lantas bergabung dengan salah satu tim anggota kompetisi internal Persiba Balikpapan, Ossiana Sakti. Tim tersebut menjadi yang pertama memberikan gaji kepada pria kelahiran 23 Januari 1976 itu.
"Jumlahnya nggak banyak, hanya Rp15 ribu. Tapi lumayan, buat bayar SPP sekitar Rp7 ribu. Sisanya buat jajan dan bantu ibu belanja," ungkapnya.
Setelah itu, ia mulai berpetualang meniti karier profesionalnya. Bima Sakti kemudian bergabung dengan PKT Bontang pada tahun 1993.
Ketika membela PKT Bontang, ia masuk ke dalam skuat progam pelatihan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menuntut ilmu di Italia, atau yang lebih dikenal dengan Primavera. Ketika itu, ia menimba ilmu di Italia bersama Kurniawan Dwi Yulianto hingga Kurnia Sandi.
Bima Sakti selanjutnya menerima pinangan klub asal Swedia, Helsingborgs IF. Klub asal Swedia itu tertarik mendatangkan Bima Sakti usai melakukan pemantauan tim Primavera pada tahun 1995. Semusim kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk bergabung dengan Pelita Jaya.
Pemain yang memiliki julukan 'tendangan gledek' itu akhirnya menerima pinangan PSM Makassar pada tahun 1999, usai bermain tiga musim bersama Pelita Jaya. Bima Sakti mampu membawa PSM menjadi juara Liga Indonesia pada musim itu.
Bima memang terkenal dengan julukan 'tendangan gledek' karena memiliki kekuatan sepakan yang luar biasa. Ia kerap kali mencetak gol dari luar kotak penalti atau dalam istilah sepakbola cannonball.

Bima Sakti saat mengikuti sebuah pertandingan amal.
Seiring karier di klub, Bima Sakti juga mencatatkan perjalanannya di Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Bahkan, ia ditunjuk menjadi kapten Timnas pada era 2001 hingga pertengahan. Bima Sakti telah membela Timnas sebanyak 58 kali dengan mencetak 12 gol.
Kembali lagi ke klub, Bima Sakti kemudian berpindah-pindah klub dari PSPS Pekanbaru (2002-2004), Persiba Balikpapan (2005), Persema Malang (2006-2013), Mitra Kukar (2013-2015), Persegres Gresik United (2015-2016), dan Persiba Balikpapan (2016-saat ini).
Bima Sakti kini masih aktif bermain, walaupun umurnya sudah menginjak 40 tahun. Hebatnya lagi, selain bermain, Bima Sakti juga diplot sebagai asisten pelatih Persiba.
Ia mengungkapkan rahasia di balik fisiknya yang prima, dapat bermain bersama Persiba di umur 40 tahun. Rahasianya adalah pola disiplin yang diterapkan orang tuanya ketika masih kecil.
"Sewaktu kecil, diajarkan untuk disiplin tinggi. Kami harus bangun pagi, kemudian juga melakukan tugas-tugas mencuci piring, mencuci baju, atau menyapu halaman," ungkap pria yang menjabat sebagai Anggota Eksekutif (Exco) Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) tersebut.
Selamat ulang tahun Bima Sakti, Sang Legenda Pemilik 'Tendangan Gledek'.