Kegalauan Raja Isa dalam Profesionalitas di Tengah Manajemen Konflik

Minggu, 19 Maret 2017 18:39 WIB
Kontributor: Ian Setiawan | Editor: Ahmad Priobudiyono
© INDOSPORT/Ian Setiawan
Pelatih Persekam Metro FC, Raja Isa bin Akram Shah. Copyright: © INDOSPORT/Ian Setiawan
Pelatih Persekam Metro FC, Raja Isa bin Akram Shah.

Profesionalitas seorang Raja Isa bin Akram Shah di dunia si kulit bundar tengah diuji. Ketika semangatnya tengah membara dalam membangun tim menuju Liga 2, Raja Isa dihadapkan pada pusaran manajemen konflik yang melanda.

Belum tercapainya kesepakatan terhadap kerjasama investor untuk mengelola Persekam Metro FC, menjadi penyebab utama. Padahal, kedua pihak sebelumnya sudah sepakat secara lisan dalam hal pengelolaan tim milik Pemerintah Kabupaten Malang itu.

"Untuk persoalan itu, saya tidak bisa berkomentar banyak. Saya ingin situasi tetap kondusif sampai semuanya jelas," ungkap Raja Isa.

Pusaran manajemen konflik itu lah yang membuat posisi eks pembesut Persipura Jayapura itu tidak leluasa dalam mempersiapkan tim asuhannya secara maksimal. 

Proses perekrutan pemain maupun program menjadi tak menentu akibat terbentur pusaran konflik antar manajemen lama dan yang baru.

Skuat Persekam Metro FC.

"Saya tidak bisa mematangkan tim secara maksimal karena masih terbatas pada kewenangan. Terpenting, saya harus profesional karena terikat kontrak dengan calon investor baru ini," Pelatih asal Malaysia itu melanjutkan.

Imbas dari terbatasnya kewenangan itu terlihat dari pergantian nama tim secara mendadak. Saat melawan Persik Kediri, tim asuhannya menggunakan nama MTR lantaran belum adanya lampu hijau untuk menggunakan nama Persekam Metro FC.

"Saya sangat menghormati itu. Oleh karena itu, kami meminta Panpel Persik untuk tidak melibatkan nama tim Persekam Metro atau yang berbau Malang," paparnya.

Imbas lainnya juga terhampar dengan terbatasnya materi pemain ketika dikalahkan secara telak 0-5 dari Persik. Beberapa pemain yang masuk proyeksi tim, akhirnya tidak bisa ikut berangkat ke Stadion Brawijaya Kediri.

"Makanya, beberapa pemain senior ini saya sisipkan empat pemain U-16 yang bersiap mengikuti Jeonsa Training Camp, ajang pre season Gothia Cup," terangnya.

"Saya yakin kita semua ingin sepakbola Indonesia semakin maju. Tapi dengan situasi seperti ini, kasihan pemain yang belum mendapat kepastian karirnya," pungkas eks Pelatih Persijap Jepara itu.