Kesuksesan Mitra Kukar mencuri satu poin di Madura, diiringi cerita negatif saat terjadi aksi ancaman boikot pertandingan, buntut keputusan wasit yang dinilai janggal.
Kubu tim tamu, melancarkan ancaman itu dengan berhenti sejenak dan memberi instruksi kepada pemainnya untuk merapat ke bench dan meninggalkan lapangan.
Imbasnya, Madura United yang sedang berancang-ancang untuk mengambil tendangan bebas pun menjadi terhambat hingga sekitar dua menit.
Namun, Jafri Sastra menyebutnya bukan sebagai bentuk aksi protes atau semacamnya. Dia merasa anak asuhnya mesti diberikan jeda sedikit untuk memulihkan kembali konsentrasi di lapangan.
Madura United vs Mitra Kukar"Bukan protes. Tapi saya bertujuan untuk menurunkan tensi pertandingan yang berjalan ketat," pelatih tim Mitra Kukar tersebut menjelaskan terkait instruksinya kepada pemain untuk meninggalkan lapangan.
"Lagi pula, cuaca juga panas sehingga pemain mudah kelelahan dan berakibat konsentrasi terganggu. Kalau di Tenggarong lebih enak, karena tim tamu bermain sore dan sudah masuk jam 4," sambungnya.
Jafri merasa perlu menjelaskan maksud instruksinya lantaran terindikasi sebagai bentuk protes, lantaran terjadi ketika Peter Odemwingie bersiap melakukan eksekusi tendangan bebas di dekat kotak penalti.
Pelanggaran itu adalah yang kedua kalinya diberikan Wasit Hadiyana dalam rentang waktu sekitar lima menit dan posisinya nyaris menyentuh garis kotak penalti.
Pelatih yang juga pernah menangani Semen Padang itu pun menegaskan jika timnya bukan tipikal sebagai tim yang suka protes terhadap keputusan wasit.
Meski juga dia tidak memungkiri, bahwa beberapa kali anak asuhnya terlibat adu argumen dengan Wasit asal Bekasi itu sepanjang 90 menit pertandingan.
"Saya rasa tidak ada hubungannya dengan wasit. Jadi sekali lagi itu bukan protes atau sebagainya," paparnya.