Ngerinya Bahaya Hipoksia, Kondisi yang Merenggut Nyawa Choirul Huda

Senin, 16 Oktober 2017 14:42 WIB
Penulis: Riris Putri Ridaprilia | Editor: Joko Sedayu
 Copyright:

Duka sedang menyelimuti publik sepakbola Indonesia, terlebih para suporter Persela Lamongan yang baru saja kehilangan sosok kapten mereka, Choirul Huda.

Choirul Huda wafat setelah dirinya bertabrakan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues pada pertandingan lanjutan Liga 1 Indonesia Gojek Traveloka kontra Semen Padang, Minggu (15/10/17) lalu.

Penjaga gawang nomor 1 Persela Lamongan tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah sebelumnya dinyatakan terkena trauma di bagian leher, kepala, dan dada pasca benturan keras yang terjadi di kotak pinalti Joko Tingkir.

Dikutip dari laman resmi Persela Lamongan, Dokter Yudistiro Andri Nugroho, dokter spesialis anastesi dan Kepala unit Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Soegiri Lamongan memberikan keterangan terkait meninggalnya sang kapten, Choirul Huda.

Berikut kutipan tersebut..

Sesuai analisa awal benturan ada di dada dan rahang bawah. Ada kemungkinan trauma dada, trauma kepala dan trauma leher. Di dalam tulang leher itu ada sumsum tulang yang menghubungkan batang otak. Di batang otak itu ada pusat-pusat semua organ vital, pusat denyut jantung dan nafas. Mungkin itu yang menyebabkan Choirul Huda henti jantung dan henti nafas.

Itu analisa awal kami, karena tim kami gak sempat melakukan scaning, karena mas Huda tidak layak transport dengan kondisi kritis seperti itu. Kita tidak bisa mengkondisikan untuk dibawa ke Radiologi. Kita lebih menangani kondisi awal.

© Republika
Kiper Persela Lamongan Choirul Huda ditandu keluar lapangan setelah kritis akibat benturan dengan sesama pemain Persela Copyright: RepublikaKiper Persela Lamongan Choirul Huda ditandu keluar lapangan setelah kritis akibat benturan dengan sesama pemain Persela

Akibat benturan keras di bagian rahang tersebut sang kapten mengalami kondisi traumatik hipoksia atau yang selama ini dikenal dengan istilah lidah tertelan. Jika ditilik lebih lanjut, kondisi yang dialami Choirul Huda adalah jenis hipoksia hipoksik, yakni kondisi ketika leher mengalami gangguan sehingga aliran pasokan oksigen terhambat.

Kondisi hipoksia sendiri merupakan suatu kondisi ketika tubuh mengalami kurangnya pasokan oksigen sehingga tidak bisa menjalankan fungsinya secara normal. Hipoksia terjadi sebagai lanjutan dari rendahnya kadar oksigen yang ada pada pembuluh arteri yang dalam istilah ilmu kedokteran disebut dengan hipoksemia. Terkena kondisi hipoksia terbilang cukup membahayakan, sebab organ-organ tubuh seperti otak dan hati dapat rusak bila tidak mendapatkan cukup oksigen.

Kiper kelahiran 2 Juni 1979 tersebut telah berhasil membawa Persela merangkak dari divisi II, I, hingga Indonesia Super League (ISL) 2007.

Selama membela Persela, Choirul Huda sudah mencatatkan 481 penampilan di semua kompetisi selama 18 tahun. 

1.9K