Dunia olahraga, terutama untuk cabang olahraga sepakbola yang merupakan olahraga populer bisa dikatakan sebagai salah satu faktor penting dalam mempersatukan perbedaan. Dalam sepakbola, seluruh penduduk di suatu negara bisa disatukan dalam hal memberikan dukungan dan semangat bagi para pemain sepakbola itu sendiri.
Sayangnya, ada pula negara yang 'mengotori' keindahan di dalam sepakbola itu dengan unsur politik. Seperti yang terjadi pada dunia persepakbolaan Suriah saat ini.
Sebagaimana diketahui, tahun 2017 ini menjadi tahun keenam berlangsungnya perang sipil. Perang ini sendiri tumbuh sejak protes kebangkitan dunia Arab pada 2011 lalu yang meningkat ke konflik bersenjata pasca kekerasan sebagai bentuk protes pada Pemerintah Presiden Bashar al-Assad.
Pengeboman di Aleppo, Suriah.Menurut laporan investigasi Outside The Lines dan ESPN (11/05/17), setidaknya sebanyak 470 ribu penduduk Suriah telah tewas. Harapan untuk hidup di negara tersebut juga turun dari 70 tahun menjadi 55 tahun. Ada pun para penduduk yang memilih berpindah ke negara lain untuk bisa merasakan kehidupan yang damai tanpa adanya rasa takut mendalam yang harus dirasakan setiap harinya.
Sayangnya, konflik antara Pemerintahan Assad dengan pihak oposisi turut hadir di dunia sepakbola Suriah, yaitu di Tim Nasional (Timnas) Suriah itu sendiri. Pemain, pelatih, ofisial tim, ataupun para pendukung Timnas juga terpecah menjadi dua.
Ada pihak yang masih setia menjadi pendukung Timnas sebagaimana mestinya, namun ada pula pihak yang antipati sebab Timnas dianggap sebagai representasi rezim penguasa.
Permasalahan yang muncul di dalam internal Timnas itu sendiri juga dipercaya menjadi alasan kuat mengapa mereka gagal tampil di Piala Dunia 2018, yang mana harus kalah agregat 2-3 dari Australia pada babak play-off Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Asia.
Para pemain Suriah menangis usai mereka kalah dari Australia.Ada pun fakta mengejutkan lainnya terkait Timnas Suriah. Pasalnya, Timnas Suriah sendiri sudah dijadikan sebagai alat propaganda untuk menyokong kekuasan rezim Assad. Menurut investigasi yang dilakukan selama tujuh bulan sejak September 2016 hingga Maret 2017 lalu, Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) bahkan secara diam-diam mendukung hal tersebut.
Selain itu, dikabarkan pula bahwa Pemerintah Suriah telah menembak, mengebom, dan juga membunuh setidaknya 38 pemain sepakbola yang berlaga di dua divisi teratas Liga Suriah dan juga belasan pesepakbola lainnya dari divisi yang lebih rendah.
Sementara itu, 13 pemain lainnya dilaporkan masih hilang, yang mana data tersebut didapatkan dari catatan Anas Ammo, mantan penulis olahraga dari Aleppo yang melakukan penyelidikan terkait pelecehan hak asasi manusia pada atlet Suriah.
Timnas Suriah.Selain itu, jaringan hak asasi manusia Suriah juga menyatakan bahwa Pemerintah Assad menggunakan atlet dan kegiatan olahraga lainnya untuk mendukung praktik penindasan yang brutal. Beberapa stadion sepakbola bahkan digunakan sebagai pangkalan militer untuk menyerang warga sipil.
Lebih lanjut dikatakan oleh Ammo bahwa sejak awal perang sipil itu, banyak pemain yang dipaksa mendukung Assad dengan berbagai macam cara, seperti membawa spanduk, mengenakan kaus dengan gambar wajah presiden dalam mengikuti acara tertentu terutama saat ada peliputan dari pihak media.
"Assad sangat antusias untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa atlet dan seniman di Suriah sangat mendukungnya. Sebab, mereka merupakan pihak yang mempunyai pengaruh besar di jalanan. Pawai-pawai dukungan itu menjadi hal wajib," lanjut Ammo.
Tanggapan 'Munafik' FIFA
FIFA memberlakukan aturan akan menangguhkan negara-negara dari pertandingan internasional jika melanggar peraturan yang melarang adanya campur tangan politik dalam hal yang berkaitan dengan sepakbola. Dalam hal ini, FIFA meminta sepakbola di tiap negara bersifat netral.
Sayangnya, kondisi politik Suriah saat ini yang benar-benar memberikan pengaruh besar bagi dunia persepakbolaan negara Suriah tidak diindahkan oleh pihak FIFA.
Dalam kasus tuduhan Suriah yang dimuat dalam dokumen setebal 20 halaman, berjudul "Kejahatan Perang terhadap Pemain Sepakbola Suriah" tidak ditanggapi oleh FIFA. Pihak FIFA menilai bahwa keadaan tragis itu jauh dari wilayah masalah olahraga.
Oleh sebab itu, mereka menilai bahwa masalah politik yang tengah terjadi di Suriah merupakan masalah yang berada di luar kendali FIFA.
FIFA.ESPN pernah ingin melakukan proses wawancara dengan pejabat FIFA namun ditolak. Mereka malah mengeluarkan pernyataan bahwa organisasi terbatas dalam hal yurisdiksi.
Melihat sikap FIFA itu, mantan pemain Suriah, Ayman Zurich yang menyerahkan dokumen tersebut ke markas FIFA di Zurich, Swiss menilai bahwa sikap dari FIFA itu munafik.
"Ada kontradiksi antara keputusan FIFA dan peraturannya. Mereka mengeluarkan perintah untuk membekukan sebuah federasi karena campur tangan politik. Sementara pada saat bersamaan, ada perang besar-besaran yang terjadi di negara, yang mana stadion digunakan untuk menyimpan peralatan militer, dan juga anak-anak serta pemain sepakbola berusia di bawah 18 tahun dalam keadaan sekarat, serta pemain sepakbola dimasukkan dalam penjara. Semua ini terjadi dan ada banyak bukti. Namun, di mana keputusannya? Ini adalah kemunafikan," jelas Ayman.
Bangunan hancur di Kota Douma, Suriah.Padahal, menurut pernyataan seorang pengacara asal London, Mark Afeeva yang selama ini mendalami undang-undang olahraga serta mempelajari tingkat independensi FIFA, menyatakan kesetujuannya bahwa kasus Suriah masih berada di bawah ranah sepakbola.
"Kasus yang jelas-jelas menyodorkan campur tangan negara secara sistemik di ranak sepakbola domestik dan internaisonal, tapi FIFA memilih tidak bertindak," ucapnya.
Sementara Wakil Presiden Asosiasi Sepakbola Suriah serta Kepala Delegasi Timnas Suriah, Fadi Dabbas mengungkapkan bahwa dokumen itu tidak benar sama sekali. Dikatakan olehnya bahwa dokumen dibuat oleh para pemain yang menentang Assad.
"Rezim melindungi orang Suriah. Masalahnya, mereka berada di luar Suriah dan hanya mewakili diri sendiri," ungkapnya.
Australia vs Suriah.Pengaruh bagi Pemain Sepakbola
Panasnya politik di Suriah ini nyatanya memberikan pengaruh besar bagi para pemain sepakbola di Timnas Suriah. Perasaan 'galau' turut dirasakan oleh mereka yang mana akan menimbulkan konflik moral bagi para pemain top di Timnas.
Sebab, memilih ikut tergabung dalam Timnas dinyatakan siap untuk dihujat oleh pihak oposisi. Sementara jika memilih menolak, mereka dianggap sebagai pengkhianat negara.
Hal itulah yang nyatanya benar dialami oleh pemain Timnas Suriah, Firas al-Khatib. Pemain andalan Timnas Suriah sejak satu dekade belakangan ini turut merasakan hujatan dan cercaan yang diberikan oleh banyak pihak saat memperkuat Timnas.
Apalagi saat Kualifikasi Piala Dunia 2018 kemarin, dirinya kerap mendapatkan intimidasi dan ancaman lewat pesan pribadi Facebook yang jumlahnya bisa mencapai ratusan per hari. Ada pun teman-teman baik yang memusuhinya saat membela Timnas.
Hal itulah yang membuat dirinya menjadi pusing bukan main untuk memilih jalan yang ingin ditempuh. Dirinya merasa senang lantaran kini tengah memperkuat tim yang berlaga di Liga Kuwait. Sementara jika kembali ke Suriah, bukan tidak mungkin dirinya menghadapi nasib buruk yang dilancarkan kelompok oposisi.
Firas al-Khatib (kiri).Namun kini, belum ada lagi pemberitaan terbaru terkait kondisi sepakbola di Suriah. Nampaknya, perang Suriah yang berlangsung menutupi bagaimana kondisi si kulit bundar yang 'sebenarnya' di negara itu.