Liga Indonesia

Firman Utina Nikmati Peran Baru di Kalteng Putra

Minggu, 30 Juni 2019 17:47 WIB
Editor: Lanjar Wiratri
© goal.com
Eks gelandang Timnas, Firman Utina Copyright: © goal.com
Eks gelandang Timnas, Firman Utina

INDOSPORT.COM - Firman Utina sudah menikmati peran barunya di tim Kalteng Putra. Mantan gelandang Timnas Indonesia ini menjadi direkrut tim elite pro academy Laskar Isen Mulang.

Pria berusia 37 tahun ini mengakhiri peran sebagai pemain di Kalteng Putra. Musim lalu, Firman termasuk pemain yang membawa Kalteng Putra promosi ke Liga 1 2019.

Musim ini, tawaran bermain sejatinya masih ada. Tawaran itu datang dari tim Sulut United yang kini mengikuti kompetisi Liga 2 2019. Tim hasil akuisisi Bogor FC tersebut bermarkas di kota kelahiran Firman, di Manado.

Namun keputusannya mengawali jenjang sebagai pelatih sudah mantap. Firman pun dipercaya menjabat sebagai direktur akademi Kalteng Putra. Dia juga terdaftar sebagai asisten pelatih tim Kalteng Putra U-16.

Kepada INDOSPORT, Firman menceritakan kegiatannya bersama tim elite pro academy, melihat gelandang-gelandang Indonesia dan karir sang anak, Muhamad Rayhan Putra Utina yang turut menjadi bagian tim Kalteng Putra U-16.

Berikut petikan wawancara dengan Firman di Lapangan Samudra, Legian, Kuta, Badung, Kamis (20/6/2019) sore.

Musim ini mulai berperan sebagai direktur akademi, seperti apa sih?

Lebih banyak belajar untuk mengenal tentang pembinaan usia dini, bagaimana menjadi seorang pelatih di usia dini. Jadi kita belajar dari bawah. 

Kalau lihat teman-teman bermain, ada rasa kangen nggak untuk main lagi?

Pasti, rasanya ingin berlatih lagi, bermain lagi. Tapi saya ingin menikmati peran yang sekarang. Kalau rindu main, biasanya saya main sama teman-teman yang sudah pensiun. Tapi ya memang rasanya beda, atmosfernya berbeda dengan pertandingan.

INDOSPORT: Apa yang coba Firman lakukan pada para pemain di tim elite pro academy Kalteng Putra? Apakah sudah mulai ditekan untuk memenangkan sebuah pertandingan?

Firman Utina: Saya rasa usia empat belas tahun ke atas harus sudah ditekankan pada mentality. Bagaimana bermain secara tim dengan baik, di setiap pertandingan harus memenangkan pertandingan. Usia setelah empat belas tahun ini sudah bentuk karakter, bentuk mental, bagaimana setiap pertandingan harus memenangkan pertandingan.

Usia enam belas atau delapan belas ini sudah bukan grass root. Kalau grass root itu usia delapan sampai dua belas. Kalau penekanan mentality baru dimulai setelah dua puluh tahun, pasti terlambat. Apalagi seperti sekarang sudah ada pemain usia delapan belas atau dua puluh main di liga tertinggi.

INDOSPORT: Kalau soal permainan sendiri, apa yang ditekankan? Apakah semua harus sama seperti konsep Filanesia?

Firman Utina: Kita terapkan bagaimana mengikuti bentuk yang diinginkan Filanesia, lebih ke organisasi bermain, prinsip bermain kedepan. Kita bukan saja melatih si pemain, tapi bagaimana seorang pelatih mengatur strategi, namun tidak keluar dari garis besar filanesia.

Jadi permainan bukan sekadar main tengah, siapa paling lama pegang bola, tapi bagaimana proses bermain sepak bola yang selalu kedepan, entah itu dari samping, di tengah, yang penting tujuannya jelas.

INDOSPORT: Apakah yang diterapkan di Kalteng Putra harus 100 persen seperti konsep Filanesia? Atau ada masukan-masukan lain berdasarkan pengalaman bermain?

Saya banyak melatih mereka, Filanesia memang banyak menyerang dari sisi sayap, tapi saya tidak bisa melupakan bahwa Indonesia pernah menciptakan gelandang tengah yang kualitas, seperti Fakhri Husaini, Ansyari Lubis, Uston Nawawi dan lainnya. Jadi, sepak bola bukan saja peran seorang sayap, tapi semuanya harus berperan dalam permainan.

INDOSPORT: Apakah di Kalteng Putra juga ada keharusan bahwa permainan dimulai dengan umpan-umpan pendek, dengan meminimalkan umpan-umpan panjang langsung kedepan?

Firman Utina: Apakah kita mau main satu dua sampai depan? belum tentu. Kalau memang ada ruang terbuka, dimana satu dua sentuhan langsung lempar ke depan, kenapa tidak?. Kita punya sayap-sayap dengan kecepatan tinggi. Tinggal si pengumpan ini mampu atau tidak untuk memberikan bola, tepat pada rekannya yang ada di depan.

INDOSPORT: Selain bicara soal konsep sepak bola, penekanan apa sih yang coba diberikan Firman untuk pemain generasi sekarang, terkhusus di tim Kalteng Putra?

Firman Utina: Generasi sekarang itu generasi yang banyak dengan gadget. Mereka terganggung dengan hal-hal itu. Saya lebih senang kalau mereka lebih banyak melihat pemain dunia atau pemain Indonesia yang mereka cintai daripada main gadget.

Makanya ada aturan di Kalteng Putra yang harus mereka jalani bahwa setelah jam sembilan malam tidak ada lagi main handphone sampai pertandingan. Ini harus kita lakukan karena mereka tidak muda lagi, ini pra menuju profesional. Makanya dari youth mentalitynya sudah harus dibangun.

INDOSPORT: Sosok playmaker tidak bisa dilepaskan dari seorang Firman Utina. Menurut Firman, apakah sudah ada sosok playmaker yang kini jadi andalan atau kedepannya bisa menjadi tulang punggung Timnas Indonesia?

Banyak gelandang-gelandang dengan kualitas baik. Tapi saya lihat pemain seperti ketakutan untuk keluar dari sistem yang sudah dibangun pelatih. Padahal di lapangan, tujuh puluh persen pemain lebih tahu keadaan di lapangan. Keluar sedikit keluar dari apa yang dibangun pelatih tidak masalah, tapi yang penting pemain harus tanggung jawab.

Gelandang-gelandang sekarang sudah bagus, apalagi sudah didukung dengan teknologi yang canggih. Tinggal wawasan mereka harus lebih dalam lagi, tentang posisi yang mereka jalani.

Saya yakin, Indonesia tidak akan kehabisan gelandang berkualitas. Dari era Fakhri Husaini, Bima Sakti, Uston Nawawi. Nggak mungkin kalau ngga ada di era sekarang. Cuma ya itu tadi, kadang ada rasa ketakutan untuk keluar dari apa yang sudah dibangun pelatih.

INDOSPORT: Terakhir, di tim Kalteng Putra U-16 ini ada Muhamad Rayhan Putra Utina. Apakah sang anak juga ingin dibentuk seperti saat FirmanUtina bermain di lapangan?

Saat ini perannya seorang gelandang juga, tapi saya biarkan untuk dia menciptakan karakter, tanpa ada bayang-bayang saya. Silakan ciptakan karakter sendiri. Karena kalau mau dikenal, orang bisa tahu, kita harus menciptakan karakter sendiri.

Saya juga selalu pesan, kalau sepak bola memang sudah atau ingin jadi dunia kamu, maka berlatihlah. Jangan menunggu waktu, karena waktu tidak akan menunggu, kejar waktu itu. Karena seorang atlet itu, apalagi pesepakbola, usia tiga puluh tahun sudah dibilang tua. Makanya kejar waktu itu, masa-masa sekarang harus dimanfaatkan.

Penulis: Novik Lukman