In-depth

Southampton, Dari Sering Buat Kejutan ke Hobi Jadi Korban Pembantaian

Rabu, 3 Februari 2021 18:17 WIB
Editor: Juni Adi
© Twitter @premierleague
Danny Ings merayakan gol tunggal kemenangan Southampton atas Liverpool Copyright: © Twitter @premierleague
Danny Ings merayakan gol tunggal kemenangan Southampton atas Liverpool

INDOSPORT.COM - Southampton harus menelan pil pahit kala menjalani laga tandang ke markas Manchester United, dalam laga lanjutan Liga Inggris pekan ke-22 di Stadion Old Trafford pada Rabu (03/02/21) dinihari WIB.

Diluar dugaan gawang Southampton harus porak poranda usai dibabat oleh para pemain Man United dengan gelontoran sembilan gol tanpa balas.

Petaka untuk Southampton datang dari dua menit selepas kick off, karena salah satu pemain mereka Alexandre Jankewitz harus mendapat kartu merah usai pelanggaran kepada Scott McTominay.

Bermain dengan 10 pemain, Southampton tidak berdaya di sepanjang babak pertama. Alhasil, gawang mereka diperawani oleh empat pria yakni Aaron Wan-Bissaka, Marcus Rashford, Jan Bednarek (OG), dan Edinson Cavani. 

Keunggulan empat gol itu bertahan hingga turun minum. Memasuki babak kedua, anak asuh Ole Gunnar Solskjaer justru tidak mengendurkan serangan kendati sudah unggul besar.

Memasuki babak kedua anak asuh Ole Gunnar Solskjaer tidak mengendurkan serangan. Mereka malah tambah bersemangat dengan bukti lima gol tambahan.

Masing-masing melalui kaki Anthony Martial (2 go), Scott McTominay, Bruno Fernandes dan ditutup oleh Daniel James.

Hasil ini membuat Manchester United menempel ketat Manchester City dengan menyamai perolehan poin mereka yakni 44 poin, hanya saja The Citizens unggul selisih gol.

Sementara untuk Southampton harus puas turun ke posisi 12 dengan koleksi 29 poin dari 21 laga. Kekalahan ini juga menambah panjang tren negatif mereka di Liga Inggris.

Dalam empat laga terakhir, mereka selalu kalah dari Leicester City (2-0), Arsenal (1-3), Aston Villa (0-1) dan Man United (0-9).

Pembantaian yang Kedua

Kekalahan mencolok yang dialami Southampton ini menjadi yang kedua bagi mereka dalam kurun waktu dua musim terakhir.

Musim lalu, anak asuh Ralph HasenhUttl dilibas Leicester City dengan skor yang sama 0-9 di St Mary's Stadium pada Oktober 2019 lalu, juga dengan salah satu pemainnya Ryan Bertrand mendapat kartu merah.

"Tadi itu sulit. Apalagi kami kehilangan seorang pemain tiga menit setelah kickoff, melawan tim sekelas mereka. Dalam kondisi 11 vs 11 saja sudah sulit," kata Hasenhuttl kepada BT Sport.

Meski begitu, gaffer asal Jerman itu optimis timnya mampu bangkit di pertandingan-pertandingan selanjutnya, guna memperbaiki posisi mereka di klasemen.

"Kebobolan sembilan gol lagi, saya bisa menerimanya. Di musim lalu, kami berhasil bangkit setelah dihabisi Leicester, dan sekarang kami akan bangkit lagi," ucap Hasenhuttl yakin.

Sering Buat Kejutan

Apa yang dikatakan Ralph Hasenhuttl benar adanya, karena ia mampu membuktikan ucapannya itu. 

Di musim lalu, seusai dipermalukan Leicester, Soton ada di zona degradasi, namun seiring waktu mampu merangkak naik dan akhirnya finis di urutan ke-11 klasemen akhir Liga Inggris.

Musim ini juga ia sebenarnya sukses membawa revolusi terhadap performa Soton dengan menghadirkan banyak sekali kejutan. Diantaranya mampu bersaing di papan atas, sampai menjadi penjegal raksasa.

Pada paruh pertama musim 2020-2021 ini, Soton mengejutkan banyak pihak ketika untuk pertama kalinya sejak 32 tahun mereka memimpin klasemen Liga Inggris, tepatnya pada pekan ke-8 (07/11/20) lalu. 

Hingga pekan ke-12 pun posisi mereka masih sangat terjaga di papan atas. Mereka duduk peringkat empat klasemen dengan koleksi 23 poin, beselisih dua angka saja dari Tottenham dan Liverpool di puncak setelah memenangi dua laga beruntun.

Selain itu, mereka juga mampu mengalahkan Liverpool di pekan ke-17 dengan skor 1-0. Soton jadi tim kedua saat itu yang mampu mengalahkan The Reds, dan membuat anak asuh Jurgen Klopp tergelincir dari takhta puncak klasemen.

Kemenangan atas Liverpool tampak sangat berarti bagi Ralph Hasenhuttl, sampai ia meneteskan air mata selepas laga.

"Saya tahu air mata saya keluar seusai pertandingan. Itu disebabkan oleh angin stadion," dalih Hasenhuttl, dilansir BBC Sport. 

"Ketika melihat pemain Southampton bertarung mengerahkan segalanya malam ini, itu membuat saya bangga," imbuh pelatih asal Austria itu.

Kebangkitan Southampton di bawah arahan Ralph Hasenhuttl musim ini memang layak mendapatkan apresiasi. 

Ralph Hasenhuttl pun kini berada di peringkat ketiga daftar manajer tersukses Southampton di Liga Inggris berdasarkan persentase kemenangan. 

Pria asal Austria berusia 53 tahun itu sudah melakoni 93 pertandingan Liga Inggris bersama The Saints memiliki persentase kemenangan sebesar 86 persen, mengalahkan Ronald Koeman (76 laga, 47 persen) dan Glenn Hoddle (45 laga, 40 persen).

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%