In-depth

Gareth Southgate dan Perjudian yang Pupuskan Mimpi Inggris

Senin, 12 Juli 2021 14:00 WIB
Editor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya
© REUTERS/Carl Recine
Gareth Southgate Copyright: © REUTERS/Carl Recine
Gareth Southgate
Perjudian Southgate Berakibat Fatal

Mudah menyalahkan pemain yang gagal mengeksekusi penalti di laga sekelas final. Pasalnya, para pemain lah yang menjadi penentu bagi suatu tim menjadi juara atau tidak.

Namun, untuk kasus Inggris di final Euro 2020, kesalahan terbesar terletak pada sang pelatih, Gareth Southgate. Entah mengapa, ia melakukan perjudian di laga sekelas final.

Perjudian pertam Southgate yakni memainkan formasi 3 bek dengan mengandalkan serangan balik cepat dan pertahanan kokoh.

Di babak pertama, formasi ini memang terbukti ampuh mengingat formasi ini akan unggul melawan tim yang mengandalkan Possesion Ball seperti Italia. Terbukti, di babak pertama serangan Inggris berpusat pada kecepatan dalam menghancurkan garis pertahanana Gli Azzurri.

Kesalahan di babak pertama hanya ada ketidakmampuan Inggris mengkonversi peluang untuk mencetak gol sehingga bisa unggul cepat dan bertahan.

Di babak kedua, formasi 3 bek ini hanya fokus pada pertahanan, sehingga mengorbankan satu hal penting, yakni mencetak gol.

Alhasil, Roberto Mancini yang sadar akan celah Inggris di babak pertama pun memanfaatkan babak kedua untuk mencetak gol dan menguasai pertandingan karena The Three Lions hanya memainkan pola defensif sejak awal babak kedua.

Andai pada keunggulan 1-0 dan babak kedua Southgate menginstruksikan anak asuhnya bermain menyerang dengan serangan balik cepat dan menambah gol, maka Italia takkan mudah membalikkan keadaan atau menguasai pertandingan.

Kesalahan kedua adalah pengambilan keputusan Southgate. Sebenarnya, pria berusia 50 tahun ini telah melakukan hal tepat yakni memasukkan Jack Grealish untuk menambah daya gedor di babak tambahan.

Sayangnya, keputusan aneh ia ambil saat memasukkan dua pemain muda yang jarang tampil yakni Jadon Sancho dan Marcus Rashford di saat babak tambahan memasuki menit akhir, tepatnya di menit ke-120 dan akan berlanjut ke penalti.

Masuknya Sancho dan Rashford hanyalah kesia-siaan mengingat dua pemain bertipe menyerang ini tak mendapat banyak waktu untuk memberikan tekanan dan mencetak gol bagi Inggris.

Malah perjudian Southgate ini dilanjutkan dengan menunjuk Sanco, Rashford dan Bukayo Saka untuk menjadi eksekutor penalti di laga hidup mati, di depan puluhan ribu pendukungnya sendiri.

Adu penalti di final memainkan mental ketimbang kemampuan eksekusi. Boleh jadi, tiga pemain muda ini andal dalam eksekusi penalti, terutama Rashford bersama Manchester United.

Namun, untuk final, dibutuhkan pengalaman dan mental mumpuni untuk menghadapi tekanan, baik sebelum dan saat mengeksekusi tendangan.

Southgate boleh jadi salah menunjuk tiga pemain yang dua di antaranya baru masuk ke lapangan. Namun, kemanakah para pemain senior Inggris lainnya?

Selain Harry Kane dan Harry Maguire, masih ada nama pemain senior di kubu Inggris yang bisa ditunjuk seperti Raheem Sterling, Jack Grealish, dan Luke Shaw.

Anehnya, tiga pemain ini tak ditunjuk atau mungkin tak mau ditunjuk. Keputusan Southgate inilah yang membuat Inggris tumbang.

Secara tak langsung, keputusan Southgate juga membunuh mental para pemain mudanya yang menjadi eksekutor. Entah bagaimana beban yang mereka tanggung karena menjadi aktor kegagalan utama Inggris di final akibat penalti yang gagal.

Meski demikian, Inggris boleh berbangga. Setidaknya,para pemain muda ini akan menjadi tulang punggung utama di event-event selanjutnya. Siapa tahu, Piala Dunia 2022 akan menjadi penebusan berharga bagi para Singa Muda Inggris.