In-depth

Rochy Putiray Bongkar Borok PSM Makassar Tahan Gaji Pemain, Malah 'Dibayarin' Mafia

Sabtu, 7 Oktober 2023 19:13 WIB
Penulis: Martini | Editor: Indra Citra Sena
© Ian Setiawan/Indosport.com
Striker Legendaris Timnas Indonesia, Rocky Putiray bongkar praktik mafia sepak bola. Copyright: © Ian Setiawan/Indosport.com
Striker Legendaris Timnas Indonesia, Rocky Putiray bongkar praktik mafia sepak bola.

INDOSPORT.COM - Striker legendaris timnas Indonesia, Rochy Putiray, membongkar borok PSM Makassar yang sudah dari dulu memiliki rekam jejak sering menahan gaji pemainnya.

Beberapa waktu lalu, viral di media sosial tentang keluhan pemain Liga 1, Yakob dan Yance Sayuri, lantaran gaji mereka belum dibayarkan oleh manajemen PSM Makassar. 

Belakangan, dua pemain asing PSM, Wiljan Pluim dan Yuran Fernandes juga tak muncul dalam latihan dan melewatkan pertandingan, diduga juga karena permasalahan gaji di tim.

Puncaknya, ketika ada sosok wanita yang mengaku pernah meminjamkan uang ke PSM Makassar, tapi sampai sekarang tidak ada itikad baik dari petinggi PSM untuk dilunasi.

Terlepas dari permasalahan PSM saat ini, salah satu legenda sepak bola Indonesia, Rochy Putiray mengaku juga pernah tidak dibayar gajinya oleh PSM Makassar.

Rochy Putiray membela PSM Makassar di tahun 2002, setelah sebelumnya sempat bermain di Liga Hong Kong bersama klub Instant-Dict (2000) dan Happy Valley (2001).

Saat berbincang dengan Akmal Marhali di kanal Youtube Mahardika Entertainment, ia mengaku gajinya ditahan oleh tim Juku Eja.

"Abang main di PSM, mereka nggak bayar gaji saya 3-4 bulan. Mereka minta, karena kamu tidak produktif, tidak bikin gol, gaji kamu dikurangi," blak-blakan Rochy Putiray.

"Nggak usah, saya keluar saja. Waktu itu saya dapat 50 juta sebulan. Saya balik lagi ke Hong Kong, main di sana. Selesai musim di Hong Kong, saya main di Persijatim," lanjutnya.

Berdasarkan catatan, Rochy Putiray hanya bermain setengah musim di PSM, kemudian striker kelahiran 1970 itu hijrah ke klub South China (Hong Kong) sampai akhir musim 2002.

Praktik Mafia Sepak Bola Zaman Dulu

Singkat cerita, Rochy Putiray kembali ke Liga Indonesia dan memperkuat Persijatim. Saat bertemu PSM Makassar, ada 'mafia' yang coba menyogok dengan uang ratusan juta.

"Main di Persijatim, ketemu PSM, mereka harus menang dan harus lolos ke Padang," ungkap Rochy Putiray pada Akmal Marhali melalui Youtube Mahardika Entertainment.

Siapa sangka, Rochy Putiray memutuskan untuk mengambil uang dengan nominal yang fantastis itu, tetapi ia mengadu ke manajer Persijatim, Muhammad Zein Burhan (alm).

"Orang yang sama yang datang, Andi Ahmad, dia kasih duit sama saya. Dikasih 150 juta, tapi katanya jangan bikin gol. Saya ambil duitnya, saya telfon almarhum Abang Zein," ujarnya.

"Bang, ini ada namanya Andi Ahmad, dia kasih duit 150 juta, dia bilang saya gak boleh bikin gol. Duit ini saya ambil karena menurut saya ini gaji saya yang PSM belum bayar waktu itu."

"Tapi kalau nanti sore saya bermain tidak maksimal, terserah Abang mau kasih hukuman apa buat saya, saya terima," kata Rochy Putiray mengulang momen 20 tahun lalu.

"Pas pertandingan saya bikin gol, PSM nggak lolos. (Andi Ahmad) hilang sampai sekarang. Paling enggak itu gaji saya," tukas Rochy Putiray.

Seiring waktu, Rochy Putiray menuturkan ada banyak modus atau cara bagaimana mafia masuk ke pertandingan sepak bola untuk mengatur skor.

Hal yang paling lumrah untuk era saat ini adalah meminta pemain untuk terjatuh atau dijatuhkan lawan di kotak penalti, sehingga wasit dapat memberikan hadiah penalti.

Akmal Marhali menimpali bahwa kejadian seperti ini akan dipelajari Satgas Anti Mafia Sepak Bola, supaya tidak ada lagi praktik match fixing di Liga Indonesia.