INDOSPORT.COM - Pep Guardiola memastikan dirinya akan menghubungi pelatih penggantinya setelah resmi meninggalkan kursi manajer Manchester City. Pelatih asal Spanyol itu ingin memberikan dukungan langsung kepada sosok yang akan melanjutkan era baru di Stadion Etihad.
Guardiola menjalani laga terakhirnya bersama City saat menutup musim Premier League dengan kekalahan 1-2 dari Aston Villa pada Minggu malam waktu setempat. Hasil tersebut memang pahit, tetapi tidak mengurangi makna besar perpisahan seorang pelatih legendaris.
Manajer berusia 55 tahun itu mengakhiri masa baktinya setelah sepuluh tahun penuh kejayaan bersama The Citizens. Dalam periode tersebut, Guardiola mempersembahkan 20 trofi bergengsi termasuk enam gelar Liga Inggris dan satu trofi Liga Champions.
Musim terakhirnya juga tetap berakhir membanggakan meski City gagal juara liga. Guardiola sukses menghadirkan dua trofi domestik sekaligus dan membawa tim finis sebagai runner-up klasemen akhir Premier League.
Nama mantan asistennya, Enzo Maresca, disebut-sebut sebagai kandidat terdepan untuk menggantikannya di Manchester City. Maresca saat ini berstatus tanpa klub setelah diberhentikan Chelsea pada Januari lalu.
Guardiola menegaskan dirinya siap memberikan dukungan penuh kepada siapa pun yang dipercaya klub sebagai penerus. Ia menilai lingkungan Manchester City selalu memberi perlindungan maksimal kepada pelatih dalam masa sulit sekalipun.
“Ketika klub memberi tahu saya siapa penggantinya, tentu saya akan meneleponnya,” ujar Guardiola kepada media usai pertandingan. “Saya akan mengatakan kepadanya, jadilah diri sendiri dan klub ini akan mendukungmu tanpa syarat.”
Ia menambahkan bahwa dukungan internal klub adalah kelebihan besar yang dimiliki Manchester City dibanding banyak tim lain. Menurutnya, seorang pelatih akan tetap dilindungi ketika hasil buruk datang menghampiri.
“Itu keberuntungan terbesar bagi semua manajer yang pernah berada di sini,” kata Guardiola. “Kamu akan dilindungi pada masa-masa sulit lebih dari klub lain mana pun.”
Guardiola juga memberi pesan sederhana namun penting kepada penggantinya agar tidak kehilangan identitas pribadi. Menurutnya, keberhasilan hanya bisa diraih jika seorang pelatih percaya pada ide dan prinsipnya sendiri.
“Jadilah dirimu sendiri, bebaskan dirimu, jalankan ide-idemu,” ucap Guardiola. “Bekerjalah sangat keras dan semuanya akan baik-baik saja.”
Kabar kepergian Guardiola sebenarnya sudah bocor sejak awal pekan lalu. Namun Manchester City baru mengonfirmasi secara resmi keputusan tersebut pada Jumat melalui pernyataan klub.
Meski pengumuman baru muncul pekan ini, Guardiola mengakui dirinya sudah lama merencanakan perpisahan tersebut. Ia bahkan mengaku telah mempersiapkan segalanya secara emosional jauh sebelum laga terakhir dimainkan.
Pelatih asal Catalan itu mengungkapkan bahwa rumahnya kini hampir kosong tanpa furnitur. Hal tersebut menjadi simbol bahwa dirinya memang sudah siap menutup babak panjang bersama Manchester City.
“Kemarin saya berada di rumah dan tidak ada furnitur sama sekali,” ujar Guardiola. “Pada dasarnya rumah itu sudah kosong, hanya ada tempat tidur untuk saya beristirahat.”
Ia merasa proses menerima perpisahan itu telah selesai secara emosional. Guardiola mengaku sudah menuntaskan semuanya dalam pikirannya beberapa pekan sebelum laga pamungkas dimainkan.
“Saya sudah memproses semuanya,” katanya. “Setelah beberapa pekan, semuanya benar-benar sudah selesai.”
Di atas lapangan, Manchester City sebenarnya sempat unggul lebih dulu lewat gol Antoine Semenyo pada menit ke-23. Namun Aston Villa membalikkan keadaan melalui dua gol babak kedua dari Ollie Watkins.
Walau kalah di pertandingan terakhir, fokus utama malam itu tetap tertuju pada momen perpisahan para ikon klub. Stadion Etihad larut dalam suasana emosional yang sulit dilupakan para pendukung.
Selain Guardiola, dua pemain senior yakni Bernardo Silva dan John Stones juga menjalani laga perpisahan bersama Manchester City. Keduanya resmi menutup perjalanan panjang setelah bertahun-tahun menjadi bagian penting kesuksesan klub.
Momen paling menyentuh hadir ketika Bernardo dan Stones ditarik keluar pada babak kedua. Para pemain dari kedua tim membentuk guard of honour sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi mereka.
Suasana haru menyelimuti stadion ketika ribuan suporter berdiri memberikan tepuk tangan panjang. Bernardo terlihat menahan air mata, sementara Stones memberi salam perpisahan kepada tribun Etihad.
Perpisahan ini menandai berakhirnya era emas Manchester City yang dibangun Guardiola sejak 2016. Kini klub bersiap memasuki babak baru dengan harapan mempertahankan standar tinggi yang telah diwariskan sang maestro.
Warisan Guardiola bukan sekadar trofi melainkan budaya juara yang tertanam kuat di tubuh klub. Filosofi kerja keras, dominasi permainan, dan keberanian menyerang menjadi identitas yang akan terus dikenang.
Bagi Manchester City, menemukan penerus Guardiola jelas bukan tugas mudah. Sosok baru nanti bukan hanya dituntut menang, tetapi juga menjaga tradisi besar yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.
Meski pergi, Guardiola tampaknya tak akan benar-benar memutus hubungan dengan klub. Ia meninggalkan pesan yang menegaskan cintanya kepada Manchester City tetap hidup untuk waktu yang sangat lama.