x

Petanque Cegah Tawuran

Minggu, 2 Februari 2014 21:52 WIB
Editor:

Menurut Djufri, petanque merupakan cabang olahraga akurasi yang dapat dimainkan oleh siswa sekolah. Petanque tidak memerlukan tempat yang luas dan anggaran yang besar.

“Kalau ini dibikin di sekolah, bisa meningkatkan prestasi siswa sekolah jika nggak punya kegiatan untuk mencegah tawuran,” terang Djufri kepada INDOSPORT, Minggu sore.

“Petanque bisa dikembangkan di sekolah-sekolah kayak di SMP dan SMA itu bagus sekali. Olahraga ini tak perlu pakai lahan yang besar, hanya dengan lebar 4 meter dan panjang 15 meter,” tambah ia.

Djufri kembali mengatakan, petanque merupakan olahraga yang dapat dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat serta segala umur.

“Olahraga ini bagus sekali bisa dimainkan oleh semua lapisan dari mulai anak-anak sampai orangtua gitu. Tidak perlu punya tubuh yang bagus,” sambung ia.

Ia mengakui petanque bukan olahraga populer. Hal itu terbukti, dengan kurangnya sponsor serta pembinaan atlet muda yang hanya terfokus di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Petanque ini kan lahir di Palembang di bawah naungan perusahaan daerah energi. Kalau cabang yang tidak terkenal pasti mandek,” keluh ia.

“Kalau di Jakarta itu hanya ada di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Kalau untuk di daerah-daerah di luar Palembang dan Jakarta, ya masih kurang populer,” keluh ia lagi.

Djufri juga menyesalkan tidak tersedianya peralatan petanque di toko-toko di Tanah Air, sehingga menyebabkan anak-anak muda tidak menggandrungi olahraga dari negara Prancis tersebut.

“Untuk bola besinya kita masih di impor dari Thailand atau Prancis. Kita masih belum bisa membuat bola ini. Di Indonesia belum ada, kita masih beli dari Prancis atau Thailand,” ungkap ia.

Padahal, lanjut Djufri, olahraga petanque nantinya akan dipertandingkan dalam kejuaraan Asian Games. Ia berharap Satlak Prima dan KOI lebih memperhatikan cabang petanque ke depannya.

“Pengurus petanque itu sekarang ingin cabang dimasukkan di Asian Games bukan Asia Tenggara lagi. Kalau Indonesia ini baru masuk ke KONI. Tapi belum di daftar ke KOI,” beber ia.

“Mestinya karena petanque di Asia Tenggara sudah berkembang pesat, KONI atau KOI lebih memperhatikan olahraga petanque,” tandas ia.

Berita Terkini