Odegaard Si Bocah Ajaib, Tak Sekadar Talenta
Tepat di usia 15 tahun 300 hari, Martin Odegaard mencatatkan nama di buku sejarah. Pemain yang digadang-gadang sebagai Wonderkid alias bocah ajaib ini main mengukuhkan predikat tersebut.
"Rasanya sungguh istimewa," ungkap Odegaard kepada surat kabar Verdens Gang. "Selain itu, yang membuat saya puas adalah kami bisa meraih tiga poin. Ini juga pencapaian penting," imbuhnya.
Odegaard menjadi pemain termuda yang tampil di Kualifikasi Piala Eropa dengan mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang pemain Islandia, Sigurdur Jonsson, 16 tahun 251 hari pada 1983 silam.
Bulan lalu, Odegaard menjadi pemain termuda yang pernah membela Norwegia ketika tampil memperkuat Norwegia melawan Uni Emirat Arab.
1. LARIS MANIS
Pamor Odegaard sudah menanjak ketika banyak klub besar dunia macam, Borussia Dortmund, Manchester United, dan Liverpool tertarik menggaetnya. Bahkan, tak terhitung berapa pemandu bakat memantau Odegaard.
Odegaard mengenal sepakbola dari sang ayah, Hans Erik Odegaard, mantan pemain Stromsgodset dan Sandefjord Football dan saat ini menjadi asisten pelatih di klub Mjondalen IF.
"Awalnya tak bisa percaya dan seperti mimpi mengetahui banyak klub yang ingin mendapatkannya. Hampir semua klub Eropa sudah menghubungi," kata Hans Erik, sang ayah.
Odegaard memulai kegegeran ketika menjadi pemain termuda dalam sejarah Tippeligaen, kompetisi tertinggi Norwegia pada April 2014 lalu ketika membela Stromsgodset. Kemudian Odegaard kembali mencatat rekor, kali ini pada laga berikutnya dengan menjadi pencetak gol termuda di Tippeligaen.
Sang ayah tentu saja menjadi sosok pertama yang melihat talenta anaknya. "Saya melihat sejak kecil dia sudah memiliki rasa. Tapi saya masih ingat betul kapan saya menyadari dia sangat bagus."
"Ketika itu saya masih jadi pemain dan Martin berusia sekitar delapan tahun. Saya ada di lapangan, berlatih dalam sesi latihan. Seperti biasa di bersama saya. Saat selesai latihan kami ingin pulang, tapi kamitak bisa sebelum dia menyelesaikan lebih dari 50 tembakan ke gawang," kenang Hans Erik.
"Di situ saya mengerti, dia juga memiliki semangat untuk latihan dan itu yang terpenting."
2. KELUARGA DAN LATIHAN KERAS
Muda dan bertalenta mungkintak cukup menggambarkan Martin Odegaard. Pasalnya, talenta tak akan cukup tanpa disertai kemampuan lain. bagi Odegaard, hal itu adalah kegigihanya dalam berlatih.
"Saya sudah menjadi pelatih regional untuk pemain muda terbaik. Saya memerhatikan sebarpa banyak mereka latihan bersama klub dan latihan sendiri. Martin berlatih lebih dari dua kali lipat dari para pemain itu. Dia berlatih lebih dari 20 jam tiap pekannya" urai sang ayah.
Hans Erik menambahkan, tak hanya waktu latihan, sang anak pun memiliki cara tersendiri dalam latihan yang selalu melibatkan bola. Martin juga dikatakan bisa menjaga fokus selama berlatih. Tak heran jika dalam usia belia dia bisa mengikuti irama pemain profesional.
Hans Erik, saat ini berusia 40 tahun, mengaku sempat kesulitan dengan kemajuan pesat anaknya. Kelebihan anaknya justru sempat membuat hubungan ayah-anak terganggu.
"Saya jasi selalu takut menjadikannya favorit. Kami selalu mengganti kapten, tapi dia tak pernah dipilih. Pengharapan saya sangat tinggi, jadi saya sering meneriakinya. Suatu hari orang tua lain menghampiri saya dan mengatakan saya terlalu keras," kenang Hans Erik.
Namun, akhirnya Hans Erik dan Martin menemukan solusi. "Kami sepakat untuk membahas pertandingan ketika tinggal kami berdua, di mobil usai pertandingan. Kami masih berdiskusi, terlau sering, soal sepakbola."
Martin Odegaard mungkin sudah tenar. Tapi, dia tetap sebagai anak, pelajar yang masih harus mentaati aturan keluarga dan menempuh ilmu di sekolah.
"Dia masih, tentu saja, pergi ke sekolah. Saya pikir tak babus untuk anak-anak hanya bermain sepakbola dan PalyStation. Anak-anak perlu bekerja menggunakan otak mereka dan tumbuh menjadi seseorang," han Erik berprinsip.
3. PEMAIN MUDA DI KUALIFIKASI EROPA
Martin Odegaard (Norwegia) 15 tahun, 300 hari
Norwegia Vs Bulgaria 10/10/2014
Sigurdur Jonsson (Islandia) 16 tahun, 251 hari
Islandia vs Malta 05/06/1983
Peter Jehle (Liechtenstein) (16 tahun, 265 hari
Liechtenstein vs Azerbaijan 14/10/1998
Levan Kenia (Georgia) 16 tahun, 325 hari
Georgia vs Ukraina 08/09/2007
Daniel Frick (Liectentstein) 17 tahun, 79 hari
Latvia vs Liechtenstein 06/09/1995
Ronny Büchel (Liechtenstein) 17 tahun, 82 hari
Portugal vs Liechtenstein 09/06/1999
Gareth Bale (Wales) 17 tahun, 83 hari
Wales vs Slovakia 07/10/2006
Vagif Javadov (Azerbaijan) 17 tahun, 100 hari
Serbia vs Azerbaijan 02/09/2006
Romelu Lukaku (Belgia) 17 tahun, 113 hari
Belgia v Jerman 03/09/2010