Sederet Cerita Yang Tersisa dari 16 Besar Liga Champions
Fase 16 besar Liga Champions mungkin bisa disebut sebagai halaman pembuka bagi sengitnya persaingan tim-tim terbaik Eropa untuk memperebutkan trofi ‘Si Kuping Besar’. Pasalnya, pada fase inilah genderang perang benar-benar ditabu oleh 16 tim peserta.
Mengapa pembuka? Karena di fase inilah, tim-tim yang terlibat harus berjuang ekstra keras melebihi perjuangan mereka saat berada di babak grup. Inilah fase knock-out, di mana setiap tim memiliki peluang langsung untuk tersingkir atau melangkah ke babak selanjutnya. Tidak ada lagi sistem poin di fase ini.
Siklus ketatnya fase 16 besar inilah yang kerap menimbulkan kejutan dan cerita, baik dari pemain maupun tim-tim peserta.
Pada laga leg pertama musim ini, setidaknya sebagian besar publik sepakbola ingin menantikan partai big match antara Paris Saint-Germain vs Chelsea, Man. City vs Barcelona (kedua laga merupakan partai ulangan musim lalu), Juventus vs Dortmund ketimbang laga lainnya.
Namun, siapa sangka justru ketiga laga big match itu tidak menyuguhkan kejutan, kecuali peristiwa gagalnya eksekusi penalti Lionel Messi ke gawang yang dikawal Joe Hart. Selebihnya biasa saja bukan?
Justru ada pemandangan menarik pada laga Arsenal vs Monaco. Ya, Arsene Wenger harus menanggung malu di hadapan pendukung sendiri dan di depan mantan klub yang pernah ia latih selama bertahun-tahun, Monaco, lantaran timnya dihancurkan dengan margin skor 1-3 oleh pasukan Leonardo Jardim.
Cerita apa lagi yang tersisa dari ketatnya laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions? Berikut INDOSPORT merangkumnya.
1. Messi dan Petaka Penalti
Laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Manchester City vs Barcelona yang berlangsung di Etihad Stadium memunculkan 2 nama yang masing-masing mengukir cerita berbeda. Lionel Messi dan Luis Suarez yang menjadi aktor krusial atas kemenangan 1-2 Blaugrana atas City.
El Pistolero sukses membuat malu Joe Hart sebanyak 2 kali lewat lesakan golnya. Bahagia Suarez semakin lengkap malam itu, pertama tentu karena ia melewati laga yang emosional, kembali ke tanah Inggris setelah pergi dari Liverpool musim panas lalu.
Kedua, sepasang golnya (brace) ke gawang Hart mengulang cerita indah pemain berusia 28 tahun itu saat berlaga di Piala Dunia 2014 Brasil. Saat itu, Uruguay sukses menekuk Inggris 2-1 di fase grup. Suarez lah yang menjadi petaka Inggris lewat 2 golnya ke gawang Hart.
Bahagia Suarez mungkin tak akan menular ke rekannya, Messi. Pasalnya, La Pulga menjadi sorotan karena gagal mengeksekusi penalti akibat digagalkan Hart. Bukan tidak mungkin, gagalnya Messi memperbesar kedudukan lewat penalti akan kembali membuka peluang The Citizens melaju ke perempat final.
Sepanjang pertandingan, Messi memang menunjukkan kelasnya sebagai pemain nomor wahid. 2 gol yang dicetak Suarez adalah buah dari kreasi pemain berusia 25 tahun itu. Messi harus bersusah payah melewati 3-4 orang kawalan bek City dan dengan cerdas ia melepaskan umpan terukur.
Dari statistik whoscored yang juga menetapkan Messi sebagai man of the match pada laga itu, Messi tercatat sukses melakukan 10 kali dribbles, 2 key passes, 90.6 % pass completion dan memenangkan 3 tekel.
Menariknya, jumlah tekel yang dilancarkan Messi lebih banyak dari tekel yang dimenangkan bek City, Vincent Kompany yang hanya sukses melancarkan 1 tekel. Terlihat bahwa kelas Messi memang dari planet lain.
Namun, pasti akan ada sedikit orang yang menghargai penampilan ajaib Messi sepanjang 90 menit di atas rumput Etihad Stadium, karena penampilan baiknya itu dengan cepat sudah tertutupi oleh kegagalannya mengeksekusi penalti.
Sepanjang keikutsertaannya di Liga Champions, Messi sudah gagal menyarangkan bola melalui titik putih sebanyak 3 kali, sama seperti kegagalan Cristiano Ronaldo. CR7 juga sudah mencatatkan 3 kegagalan eksekusi penalti di ajang Liga Champions.
Lalu, apakah publik sepakbola tega menyebut Messi seorang diktator?
2. Muenchen dan Ketidakpedulian Mereka Terhadap Lewandowski
Publik sepakbola tentu masih ingat bagaimana keperkasaan seorang Robert Lewandowski berhasil menghancurkan Real Madrid dengan gelontoran 4 golnya. Saat itu, Dortmund berhasil mengalahkan Real Madrid 4-1 pada laga leg pertama semifinal Liga Champions musim 2012/13 di Signal Iduna Park.
Keberingasan Lewy (sapaan Lewandowski) saat masih berseragam Dortmund dulu rasa-rasanya tak pernah ia tunjukkan lagi saat hijrah ke klub rival, Bayern Muenchen. Lewy tampak melempem dan sinarnya perlahan meredup dari perbincangan panas publik sepakbola. Ia tidak lagi segarang dulu.
Ada sentuhan yang hilang dari pemain asal Polandia itu. Ya, sejak dipoles Pep Guardiola, entah kenapa, penampilan Lewy tak kunjung berada di level terbaiknya. Lewy perlahan pasti menyesali kepaindahannya ke Muenchen.
Pemain berusia 26 tahun itu memang mencetak 2 gol akhir pekan lalu saat melawan Paderborn tapi Muenchen terlihat tidak akan mengalami masalah besar sekalipun tanpa diperkuat Lewy karena pasukan Guardiola punya pemain-pemain tajam macam Arjen Robben, Frank Ribery, Mario Gotze dan Thomas Muller.
Kompetisi Liga Champions adalah cara yang lebih akurat untuk mengukur layakkah seorang Lewy berada dalam skuad Muenchen.
Musim ini, ia sukses mencetak 2 gol di kompetisi ini. Salah satunya menyarangkan gol saat kemenangan 7-1 Muenchen atas AS Roma serta berhasil menyumbang 1 gol saat melawan Manchester City di fase grup.
Yang menjadi pertanyaan, pantaskah Lewy tidak diturunkan dari babak pertama saat Muenchen berjumpa Shakhtar Donetsk di laga leg pertama? Sepertinya ia tidak sedang cedera. Lewy pun baru masuk lapangan di menit ke-75 menggantikan Gotze. Cukup berbuat apa ia di atas lapangan dengan waktu hanya menyisakan 15 menit?
Kesimpulan yang bisa ditarik adalah Lewy bukanlah pilihan utama Guardiola, padahal Muenchen sedang melakoni laga 16 besar Liga Champions, di mana Lewy pernah sangat hebat saat bermain di kompetisi elit Eropa itu.
Kondisi ini tentu kontras saat ia masih dilatih Jurgen Klopp di Dortmund. Klopp benar-benar menghargai jasanya dan selalu menjadi striker andalan Die Borussen yang menakutkan lawan-lawannya.
3. Megahnya Premier League dan Melempemnya Kontestan Mereka di 16 Besar Liga Champions
Beberapa minggu yang lalu, hak siar Premier League baru saja diperbaharui masa kontraknya. Premier League yang dianggap sebagai liga terbaik di dunia tersebut melanjutkan kontrak hak siar siaran langsung laga Premier League bersama televisi lokal Inggris.
Kontrak hak siar tersebut berdurasi 3 musim yakni 2016 hingga 2019 dengan nilai kontrak sebesar 100 juta Pounds. Dengan demikian, jelas betapa tingginya hak siar Premier League di antara liga-liga domestik Eropa lainnya.
Namun, pamor megah Premier League benar-benar berbanding terbalik dengan kiprah perwakilannya di Liga Champions musim ini. Terdapat 3 kontestan dari liga domestik Inggris itu di babak 16 besar yakni Chelsea, Manchester City dan Arsenal.
Ketiganya bahkan tak sanggup menang pada laga leg pertama 16 besar. City dihantam Barcelona 1-2 sedangkan Arsenal dilumat Monaco 1-3 di hadapan publik sendiri sekaligus merusak reuni Arsene Wenger. Hanya Chelsea yang sedikit memberi harapan bagi publik Premier League. The Blues sukses bermain imbang 1-1 melawan PSG.
Para wakil Premier League pernah mencapai puncaknya pada 2008 saat mereka menjadi 3 dari 4 tim semifinalis saat itu. Musim ini, ketiga kontestan Premier League itu harus berusaha keras untuk bisa lolos ke babak perempat final Liga Champions jika tak mau Premier League kehilangan muka.
4. Tuah Monaco dan Leverkusen di Liga Champions
Siapa yang mengira akhirnya AS Monaco bisa menghancurkan Arsenal dengan cara yang sangat kejam. Melumat The Gunners dengan skor telak 1-3 di hadapan publik sendiri di Emirates Stadium dan yang paling menyakitkan tentu sosok Arsene Wenger, yang oleh banyak pihak menyebut laga ini adalah laga reuni The Professor.
Lalu, siapa yang mengunggulkan Monaco pada laga leg pertama babak 16 besar menghadapi Arsenal yang sedang bagus-bagusnya? Sepertinya tidak banyak.
Namun, apa yang ditunjukkan Monaco di Emirates Stadium adalah pukulan telak bagi Arsenal yang rentan gagal tiap kali menginjak fase 16 besar Liga Champions.
Yang perlu diketahui bahwa Monaco bukanlah tim yang diunggulkan baik di babak grup hingga fase 16 besar sekarang. Tetapi, kiprah mereka selama di babak grup benar-benar mengesankan. Pasukan Jardim sukses menghuni puncak klasemen grup C dengan raihan 11 poin.
Lebih mengejutkan lagi, Monaco memuncaki klasemen grup C tersebut dengan hanya menggondol 4 gol saja dalam 6 pertandingan dan kebobolan hanya 1 gol. Dengan rincian 3 kali menang, 2 imbang dan 1 kali kalah. Betapa hebatnya Jardim memoles tim ini menjadi skuad yang tangguh dari sisi defensif dan efektif.
Jika melihat jauh ke belakang, tepatnya musim 2003/04, Monaco pernah berjaya karena saat itu mereka sukses melaju hingga ke partai final Liga Champions, sebelum akhirnya dikandaskan FC Porto (saat itu dilatih Jose Mourinho) 3-0.
Sementara itu, penampilan yang tak kalah hebatnya ditunjukkan Bayer Leverkusen saat berhasil menundukkan sang finalis Liga Champions musim lalu, Atletico Madrid dengan skor 1-0 di kandang sendiri.
Serupa dengan Monaco, tim asuhan Roger Schmidt tak bagus-bagus amat saat berlaga di fase grup. Leverkusen hanya mampu finish di posisi 2 grup C di bawah Monaco dengan catatan 10 poin dengan rincian 3 kali menang, 1 imbang dan 2 kali kalah.
Namun, semua itu berbeda dengan apa yang ditunjukkan Leverkusen saat bermain di leg pertama 16 besar menghadapi Atletico. Leverkusen sukses membuat pasukan Diego Simenone tak berdaya bahkan gelandang bertahan Los Rojiblancos, Tiago harus diusir keluar lapangan akibat mendapat kartu merah.
Menghadapi laga leg kedua di Vicente Calderon, Atletico pun tidak akan diperkuat Diego Godin yang mendapat akumulasi kartu kuning dan Tiago. Lalu, apakah Leverkusen akan kembali membungkam Atletico dan menyingkirkan mereka dari persaingan merebut trofi Liga Champions musim ini? Menarik menunggu kejutan Leverkusen.