(Analisis) Tiga Alasan Form Iniesta Turun Drastis
Pada 23 Maret 2014 lalu, Andres Iniesta mencetak gol di duel sengit El Clasico di markas Real Madrid, Santiago Bernabeu, Blaugrana pun menang 3-4; tiga hari kemudian (26/03/14) ia kembali mencetak 1 gol kontra Celta Vigo di Camp Nou, namun setelah itu ia tak pernah mencetak gol ataupun assist lagi, seakan hilang ditelan bumi.
Berikut tiga hal yang dianggap sebagai penyebab utama menurun drastisnya performa Iniesta tersebut.
1. Faktor Fabregas dan Xavi
Saat Cesc Fabregas masih bermain untuk Barcelona (2011-pertengahan 2014), Iniesta tampil luar biasa, bayangkan saja selama periode 2,5 tahun tersebut ia mampu mengoleksi 12 gol dan 37 assists.
Mengapa? Karena saat ada Fabregas, Iniesta kerap digeser bermain lebih kedepan, menemani Lionel Messi dan David Villa atau Pedro (2011-2013), serta kemudian Lionel Messi dan Neymar Jr. atau Pedro di musim 2013/14.
Dengan bermain lebih kedepan tentunya Iniesta lebih dekat dengan gawang lawan dan lebih mudah mencetak gol, begitupun kemungkinan akan umpannya jadi assist yang berbuah gol juga jadi lebih besar.
Sementara ia bisa bermain dengan lebih tenang karena ada trio Sergio Busquets, Xavi Hernandez dan Fabregas di lini tengah Blaugrana.
Xavi terutama bisa jadi penyeimbang yang sangat baik karena Busquets sangat lah bertahan, sedangkan Fabregas punya naluri menyerang yang cukup tinggi, bahkan bisa bermain sebagai false number nine.
2. Kedatangan Rakitic, Neymar dan Suarez
Kedatangan Ivan Rakitic membuat waktu bermain Xavi jadi lebih sedikit, sementara satu pos di lini tengah sudah pasti jadi milik Busquets sebagai jangkar, jadi dua pos tersisa pun jadi rebutan tiga orang, Iniesta, Xavi dan Rakitic.
Iniesta memang lebih sering rutin dipasang, karena ia memiliki gaya permainan berbeda dari Xavi dan Rakitic, akan tapi Xavi dan Rakitic yang punya tipe serupa kerap dirotasi oleh manajer Luis Enrique.
Masalahnya adalah Iniesta bermain lebih baik saat ia berduet dengan Xavi, jika dibandingkan saat bermain dengan Rakitic, wajar karena Xavi adalah duet sejati Iniesta, baik di level klub maupun timnas dalam jangka waktu yang sudah lama.
Masalah lain adalah mengapa Iniesta harus berebut posisi di lini tengah? Jawabnya tentu karena kedatangan dua striker berkelas, Neymar Jr. dan Luis Suarez.
Seperti dibahas sebelumnya, kedatangan Neymar di musim 2013/14 sebenarnya belum begitu berpengaruh bagi peran Iniesta, karena ia masih bisa bermain sedikit ke depan menemani Messi dan Neymar.
Akan tetapi setelah Suarez datang, posisi trio bomber sudah dipastikan jadi milik Messi, Neymar dan Suarez, sementara Iniesta otomatis harus lebih fokus memperkuat lini tengah.
3. Taktik Luis Enrique
Ada dua statistik menarik sejak kedatangan Enrique yang patut disimak.
Dibawah asuhan Tito Vilanova dua musim lalu, klub asal Catalan punya rata-rata 735 umpan tiap 90 menit alias tiap laga, sedangkan dibawah Enrique jumlahnya menurun signifikan jadi 651 umpan per 90 menit/laga.
Sepanjang musim ini berlangsung rata-rata umpan tertinggi para pemain Blaugrana justru dipimpin oleh Jordi Alba, seorang bek kiri yang rata-rata melakukan 70 umpan per 90 menit/laga, disusul oleh Javier Mascherano (69), Sergio Busquets (68), Dani Alves (63) dan Gerard Pique (62).
Bayangkan saja, pemain yang paling sering melakukan umpan di tiap laganya adalah empat orang bek dan gelandang jangkar, sebuah pertanda nyata bahwa lini tengah Barca musim ini "terlupakan dan tidak diajak ikut bermain".
Enrique membuat dua bek sayap semakin aktif, Alba dan Alves bermain layaknya gelandang sayap.
Enrique pun kerap menginstruksikan agar bola diumpan langsung dari lini belakang ke lini depan karena trio didepan semua adalah pemain yang punya skill, umpan panjang itupun melewati para pemain di lini tengah, termasuk Iniesta.