Arema: Kami Tak Melawan Pemerintah
"Yang ingin kami sampaikan adalah kami akan tetap bertanding di pertandingan pembuka besok tanggal 4 April melawan Persija Jakarta. Apa yang kami lakukan ini, mohon disampaikan kepada bapak Menteri (Imam Nahrawi), apa yang kami lakukan ini bukan bentuk perlawanan kepada Pemerintah. Pak Menteri yang terhormat, yang kami lakukan bukan melawan pemerintah, yang kami lakukan ini mempertahankan hak kami," tegas CEO Arema Cronus, Iwan Budianto.
Pria yang akrab disapa IB ini menegaskan, langkah yang diambil Arema ini adalah demi untuk eksistensi klub berjuluk Singo Edan ini.
"Yang lakukan Arema adalah mempertahanakan hak hidup kami sebagai sebuah klub sepakbola di Indonesia, sepakbola itu punya aturan sendiri, semuanya baku dibelahan negara manapun," terangnya.
Selanjutnya, IB menuturkan, langkah BOPI adalah keliru. Pasalnya, kepanjangan tangan Menpora itu tidak mengeluarkan rekomendasi bagi Arema tidak berdasarkan azas-azas hukum yang berlaku.
"Seyogyanya sebagai organisasi kaki tangan pemerintah, BOPI seharusnya mengedanpan azas-azas hukum. Yang pertama legal standing, ada kelompok yang mengklaim memiliki Arema tapi kelompok tesebut tidak punya legal standing untuk mengklaim, hanya karena yang pemverifikasinya bagian manusia-manusia yang memverifikasinya itu ada saudara Llano Mahardika, eks CEO Persebaya IPL (Indonesian Premier League), sehingga kelompok Arema IPL dengan mudah mengklaim tanpa legal status yang jelas," geramnya.
Keputusan yang dikeluarkan BOPI dengan alasan adanya sengketa dan dualisme kepemilikan juga salah. Sebab, seharusnya yang punya hak untuk menyatakan ada sebuah sengketa dalam sebuah organisasi adalah pengadilan.
"Kami sudah empat musim mengelola klub ini, belum pernah kita satu kalipun memperoleh surat gugatan tentang kepemilikan klub ini. Yang ada adalah gugatan penggunaan logo yang digunnakan di kostum, dan itupun sudah diputus oleh pengadilan Negeri Surabaya dan dinyatakan menolak seluruh materi dari penggugat," bebernya.
"Bagaiamana mungkin organisasi yang memahami sebuah memahami logo Arema, memutuskan bahwa klub ini tidak mendapatkan rekomendasi karena terjadi sengketa, karena terjadi dualisme kepemilikan, karena terjadi deadline beberapa pihak, bahwa pemilik arema bukanlah yang diberi meandat mengelola. Kalau negara ini adalah negara hukum, bukankah seharusnya pengadilan yang punya hak menyatakan ada sebuah sengekta dalam sebuah organisasi," jelasnya.
Jika menuruti apa yang dikatakan BOPI, maka akan berbuah malapetakan bagi tim kebanggaan warga Malang Raya ini. Lantaran, jika Arema sampai tidak bertanding maka tim berjuluk Singo Edan ini bisa terdegradasi.