x

5 Kisah Lain Tragedi Heysel 1985

Jumat, 29 Mei 2015 10:24 WIB
Editor: Galih Prasetyo

Jika menerawang puluhan tahun ke belakang, tepat di tanggal ini, 29 Mei terjadi tragedi memilukan dalam sejarah sepakbola Eropa. Pada 29 Mei 1985, babak final Liga Champions mempertemukan dua klub besar dari dua liga berbeda, Juventus kontra Liverpool.

Kedua klub sama-sama memiliki fans garis keras yang bersedia melakukan hal apapun, apapun untuk menjaga kehormatan klub. Tak jarang tindakan itu berujung mencederai, mencelakai, atau membuat rugi pihak lain.

Wajib Baca
6 Pemain Baru Incaran Man United di Musim Depan
8 Hal Menarik Liga Primer Inggris Musim 2014/2015
Ini 5 Fakta Menarik Juara Liga Champions
4 Fakta Unik tentang Anak Kedua Messi
5 Tujuan Wisata Pesepakbola Dunia

Benar saja, kala pertadingan babak final liga Champions itu dihelat dan dimenit akhir pertandingan, papan skor masih menunjukan skor 1-0 untuk Juventus. Ratusan fans Liverpool yang dalam keadaan mabuk mulai mendatangi tribun tempat fans Juventus berada.

Berikutnya terdengar suara teriakan minta tolong, jerit ketakutan serta suara sirene ambulance pecah di dalam stadion. Ratusan orang lari menyelamatkan diri, sementara yang lain terjatuh lemas, terinjak-injak dan lemah tak berdaya. Memilukan. 39 orang dilaporkan tewas. 

Selain cerita memilukan diatas, terdapat beberapa kisah memilukan lain terkait tragedi ini. Berikut 5 kisah lain tragedi Heysel:

Baca Juga
Liga Indonesia | Liga Primer | Liga Champions | Bundesliga
La Liga | Serie A | Selebrita | Komunitas | Transfer Pemain


1. Rusuh di zona netral

Tragedi Heysel yang terjadi 29 Mei 30 tahun silam ini bermula dari kerusuhan yang terjadi di bagian penoton di zona netral. Kala itu, zona netral memang banyak diisi oleh fans Juventus namun bukan Ultras Juventus (fans garis keras Juventus). Ultras saat itu berada di luar zona netral. 

Sementara fans Liverpool dengan fans Juventus di zona netral hanya dibatasi pagar kawat. Petaka mulai datang saat pertandingan akan berakhir. 

Fans Liverpool tiba-tiba mulai mendatangi dalam keadaan mabuk dan mulai melempari benda-benda ke fans Juventus di zona netral. Kerusuhan pecah. Akibatnya sangat menyedihkan, 39 korban tewas diantaranya 32 fans Juventus dari Italia dan 600 lebih lainnya luka-luka.


2. Film 17 Menit Jadi Alat Bukti

Kepolisian Inggris saat itu langsung bergerak cepat. Film sepanjang 17 menit serta rol film hasil jepretan fotografer menjadi alat bukti untuk mengungkap tragedi ini. 

Salah satu TV lokal di Inggris kala itu juga menayangkan bagaimana tragedi ini bisa terjadi. Media massa pun mempublikasikan foto-foto pilu tragedi ini. Hasilnya 27 orang pun ditahan dengan tuduhan penganiayaan dan pembunuhan. 

Sebagian besar pelaku ialah fans Liverpool. 14 dari 27 tersangka langsung dikenakan tuduhan pembunuhan. 


3. Fans Liverpool bersalah

Hasil penyelidikan resmi UEFA dirilis pada 30 Mei 1985, hasilnya menyebutkan fans Liverpool ialah pihak yang paling bersalah terkait tragedi ini. Hal itu dikemukakan penyidik resmi UEFA, Gunter Schneider. 


4. Margaret Thatcher

Selang sehari usai hasil penyidikan UEFA yang menyatakan fans Liverpool bersalah, Perdana Menteri Inggris kala itu, Margaret Thatche mendesak Federasi Sepakbola Inggris (FA) untuk melarang tim-tim Inggris untuk bermain di Eropa. 

Permintaan Thatcher rupanya sejalan dengan hasil keputusan UEFA yang selang 2 Juni 1985 menghukum klub-klub asal Inggris tidak diperbolehkan untuk bermain di kompetisi Eropa. Mimpi buruk sepakbola Inggris di era 80an. 


5. Stadion 'Miskin'

Stadion Heysel pada 1985 berstatus sebagai markas timnas Belgia. Namun kala itu, stadion Heysel masih dalam tahap perbaikan dan pembangunan. Secara harfiah, saat itu stadion Heysel bisa dikatakan hampir runtuh. Banyak dinding-dinding yang terlihat keropos serta pembatas antara tribun penonton hanya dibatasi kawat semata. 

Banyak pihak yang terkejut bahwa UEFA kala itu menunjuk stadion Heysel sebagai tempat berlangsungnya babak final liga Champions 1985 antara Juventus vs Liverpool. 

Presiden Juventus Giampiero Boniperti dan CEO Liverpool Peter Robinson kala itu mendesak UEFA untuk memilih tempat lain, namun UEFA menolak. 

Premier LeagueLiverpoolSerie A ItaliaLiga ChampionsJuventus

Berita Terkini