Kemenpora Ingin Sepakbola Indonesia Bersih dan Transparan
Baik dari pihak Kemenpora dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sama-sama menyatakan ingin perubahan untuk kemajuan sepakbola Indonesia. Pernyataan itu dikumandangkan oleh mereka sebagai alibi dari siapa yang harus disalahkan atas keluarnya sanksi FIFA kepada Indonesia.
Aksi dan reaksi bermunculan dari sejumlah pengamat, pecinta sepakbola, praktisi sepakbola tak terkecuali pengamat politik, ketika SK Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, membekukan PSSI dijatuhkan. Seperti mendapat pukulan balik, pengadilan PTUN memenangkan gugatan PSSI dan tidak mengakui SK Keputusan tersebut.
Sedikit ulasan kronologis ini memang sangat menyayat nurani, seperti ajang saling balas dendam, Kemenpora berencana mengeluarkan surat pembekuan terhadap pengurus PSSI lama dan membentuk kepengurusaan sementara yang akan kembali menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI.
Seperti pada penjelasan Staf Khusus Kemenpora, Zainul Munaisichin, yang mengatakan pengurus sementara akan menyiapkan turnamen serta kompetisi dan KLB PSSI.
"Pengurus sementara PSSI ini, nanti akan bertugas menyelenggarakan kongres PSSI dan sekaligus menyiapkan turnamen serta kompetisi di Indonesia dengan sistem transparan dan bersih," kata Zainul.
Sikap tersebut tak lain untuk mengambil langkah konkret untuk mencabut sanksi FIFA yang memberikan persyaratan diantaranya PSSI kembali diberi wewenang untuk mengelola organisasinya secara independen tanpa campur tangan pemerintah, dalam hal ini Kemenpora. Akan terasa sangat ambigu dalam tataran KLB PSSI, karena sebelumnya telah diakui dan disahkan oleh FIFA.
Akan tetapi menurut pihak Kemenpora, sanksi administratif FIFA bisa menjadi momentum guna memperbaiki tata kelola sepakbola Tanah Air yang dinilai kian buruk. Dengan demikian diharapkan PSSI hasil bentukan KLB yang baru nanti, akan lebih berprestasi.